[LIVE DARI MAKKAH] 18 KLOTER JEMAAH HAJI TIBA DI MAKKAH
Sahabat RTV, arus kedatangan jemaah calon haji Indonesia ke Makkah terus berlangsung. Memasuki hari kelima kedatangan dari Madinah, tercatat lebih dari 6.900 jemaah dijadwalkan tiba. Para jemaah ini berasal dari 18 kelompok terbang (kloter) dengan 11 embarkasi, di antaranya Surabaya, Kualanamu, Palembang, Bekasi, Solo, Banjarmasin, Lombok, Banten, Jakarta Pondok Gede, Batam, hingga Ujung Pandang.
Kedatangan jemaah dilakukan secara bertahap sesuai dengan pengaturan otoritas Arab Saudi, guna menjaga kelancaran mobilitas dan pelayanan selama musim haji. Setibanya di Makkah, para jemaah akan langsung menempati hotel masing-masing dan melanjutkan rangkaian ibadah, termasuk menunaikan umrah wajib di Masjidil Haram.
Namun sahabat RTV, di tengah tingginya jumlah jemaah yang datang, kondisi cuaca di Makkah saat ini menjadi perhatian serius. Kota ini telah memasuki musim panas dengan suhu siang hari yang bisa mencapai 42 derajat Celsius. Kondisi ekstrem ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas.
Berdasarkan data dari PPIH Arab Saudi daerah kerja Makkah, tercatat ada dua jemaah lansia yang mengalami gejala heat stroke. Keduanya sempat mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah menjalankan umrah wajib. Salah satu jemaah bahkan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit setempat.
Sahabat RTV, kejadian ini menjadi peringatan penting bagi seluruh jemaah untuk lebih memperhatikan kondisi fisik. Petugas haji terus mengimbau agar pelaksanaan umrah wajib, khususnya bagi jemaah lansia dan disabilitas, dilakukan pada waktu yang lebih aman, seperti pagi hari atau setelah salat Magrib, saat suhu tidak terlalu tinggi.
Selain itu, jemaah juga diminta untuk menjaga kesehatan dengan cara cukup beristirahat dan rutin mengonsumsi air putih guna mencegah dehidrasi. Mengurangi aktivitas di bawah terik matahari secara langsung juga menjadi langkah penting untuk menghindari risiko heat stroke.
Dengan kondisi cuaca yang cukup ekstrem ini, kesadaran dan kedisiplinan dalam menjaga kesehatan menjadi kunci utama. Diharapkan seluruh jemaah dapat tetap menjalankan ibadah dengan aman dan lancar, tanpa terganggu oleh kondisi kesehatan selama berada di Tanah Suci.