
Video Terkini
Jemaah Haji Gelombang Kedua Berada di Puncak Kelelahan
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji Indonesia gelombang kedua yang saat ini mulai tiba di Madinah menghadapi fase rawan kelelahan setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Enny Nuryanti, menjelaskan bahwa karakteristik jemaah gelombang kedua berbeda dari gelombang pertama.
Selain menghadapi kelelahan fisik pascapuncak haji, sebagian jemaah haji gelombang kedua masih menjalani aktivitas tambahan seperti umrah sunnah maupun ziarah, sehingga rentan mengalami kelelahan.
“Jemaah gelombang kedua ini berada pada puncak kelelahan. Setelah Armuzna [puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina], sebagian masih melakukan aktivitas ibadah tambahan sehingga kondisi fisiknya semakin menurun,” ujar Enny kepada tim Media Center Haji.
KKHI Madinah mencatat bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan pada fase ini di kalangan jemaah haji Indonesia yang berada di Kota Nabi.
“Sementara ini penyakit terbanyak masih ISPA. Banyak jemaah maupun petugas yang masih membawa gangguan kesehatan pascaarmuzna,” katanya.
Selain kasus ISPA, KKHI Madinah juga menerima sejumlah pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. KKHI menerima dua pasien rujukan dengan diagnosis gangguan jantung dan pneumonia.
Enny menambahkan, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Banyak jemaah mulai mengalami tekanan psikologis karena sudah merindukan keluarga di Tanah Air, sementara mereka masih harus menjalani masa tinggal di Madinah sebelum kepulangan.
Menghadapi kondisi tersebut, KKHI Madinah mengimbau jemaah haji Indonesia untuk lebih bijak mengatur aktivitas selama berada di Madinah. Enny menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah wajib haji telah selesai dilaksanakan sehingga jemaah tidak perlu memaksakan diri melakukan aktivitas fisik berlebihan.
Dia meminta jemaah haji lanjut usia (lansia) maupun yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) untuk menyesuaikan kegiatan dengan kemampuan fisik masing-masing.
MCH 2026, Dian Palupi, RTV.