Mengenal Lolorian Garut, Permainan Tradisional Seru dan Edukatif yang Kembali Dihidupkan
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya permainan digital, masyarakat Kampung Ciherang, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menghidupkan permainan tradisional bernama Lolorian. Permainan yang sekilas menyerupai mini roller coaster ini berhasil menarik perhatian masyarakat karena menawarkan sensasi meluncur yang memacu adrenalin sekaligus menjadi sarana melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Lolorian merupakan permainan tradisional khas Kampung Ciherang yang memanfaatkan lintasan sederhana dari pelepah atau batang pohon aren sebagai rel, serta kereta luncur kecil yang terbuat dari kayu dan bambu. Pengunjung akan meluncur mengikuti lintasan menurun sepanjang sekitar 120 meter hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi. Meski terlihat sederhana, sensasi yang dihadirkan mampu memberikan pengalaman yang seru bagi siapa saja yang mencobanya.
Tidak hanya digemari anak-anak, permainan ini juga menarik minat orang dewasa hingga lansia. Banyak warga maupun wisatawan sengaja datang untuk merasakan kembali permainan yang sempat menjadi bagian dari masa kecil masyarakat Garut. Kehadiran Lolorian kini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata berbasis budaya di Kabupaten Garut.
Berawal dari Gagasan Abah Koko Sejak 1965
Permainan Lolorian telah ada sejak sekitar tahun 1965. Permainan ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang warga Kampung Ciherang yang dikenal dengan nama Abah Koko. Pada masa itu, Lolorian menjadi hiburan favorit masyarakat, terutama saat bulan Ramadan.
Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, anak-anak hingga remaja berkumpul untuk bermain Lolorian sambil menunggu azan Magrib atau melakukan kegiatan ngabuburit. Suasana kebersamaan tersebut menjadikan permainan ini sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
Seiring berkembangnya zaman, popularitas Lolorian sempat menurun karena tergeser oleh berbagai permainan modern dan penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Kampung Ciherang kembali menghidupkan permainan tersebut sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap telepon pintar sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
Permainan ini dimainkan secara bergiliran sehingga setiap anak belajar menunggu giliran, menghargai teman, dan saling berinteraksi secara langsung. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kesabaran, kerja sama, dan komunikasi menjadi bagian penting yang tumbuh melalui aktivitas bermain tersebut.
Memanfaatkan Bahan Alami dan Kearifan Lokal
Keunikan Lolorian juga terlihat dari material yang digunakan. Rel permainan dibuat dari batang pohon aren dengan lebar sekitar 20 sentimeter yang disusun mengikuti kontur tanah. Sementara itu, kereta luncurnya dibuat dari papan bambu berukuran sekitar 27 sentimeter yang dirancang agar dapat meluncur dengan stabil di atas lintasan.
Selain bambu dan batang aren, masyarakat juga memanfaatkan bahan alami lain seperti kayu dan pinang untuk melengkapi konstruksi permainan. Pemanfaatan material lokal tersebut mencerminkan kearifan masyarakat dalam menciptakan hiburan yang sederhana, murah, ramah lingkungan, sekaligus aman digunakan.
Seluruh proses pembuatan dilakukan secara gotong royong oleh warga sehingga Lolorian tidak hanya menjadi permainan, tetapi juga mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat.
Mengajarkan Prinsip Sains Melalui Permainan
Di balik keseruannya, Lolorian ternyata juga mengandung unsur edukasi. Cara memainkan permainan ini cukup sederhana. Anak-anak mendorong papan bambu menuju titik tertinggi lintasan, kemudian membiarkannya meluncur mengikuti gaya gravitasi hingga mencapai bagian bawah rel.
Secara tidak langsung, permainan ini memperkenalkan konsep dasar ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Lolorian memadukan prinsip gravitasi, keseimbangan, dan gaya gesek dalam satu permainan sederhana. Anak-anak belajar bahwa posisi duduk sangat memengaruhi kecepatan serta kestabilan papan saat meluncur.
Mereka juga memahami pentingnya menjaga keseimbangan tubuh agar tetap berada di atas rel selama perjalanan. Aktivitas tersebut membantu melatih koordinasi motorik, keberanian, konsentrasi, serta ketelitian dalam mengambil posisi yang tepat saat bermain.
Menjadi Wisata Edukasi dan Pelestarian Budaya
Kini, masyarakat Kampung Ciherang terus mengembangkan Lolorian agar dapat dinikmati sepanjang tahun dan tidak hanya ramai saat Ramadan. Berbagai pembenahan dilakukan, mulai dari penataan lintasan, peningkatan aspek keselamatan, hingga promosi melalui media sosial agar lebih dikenal masyarakat luas.
Kehadiran Lolorian diharapkan mampu menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus wisatawan. Di tengah dominasi permainan digital, Lolorian membuktikan bahwa permainan tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman bermain yang melibatkan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan pembelajaran secara langsung.
Melalui pelestarian permainan seperti Lolorian, masyarakat Garut tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga mengajak generasi muda untuk kembali menikmati permainan tradisional yang kaya akan nilai kebersamaan, kreativitas, serta pembelajaran. Upaya ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup dan berkembang apabila dijaga serta dikenalkan secara berkelanjutan kepada masyarakat.
Penulis: Safira Aqsha Mun’ima