NEWS RTV Garis RTV

Tradisi Nirok Nanggok di Belitung Timur, Warisan Budaya Menangkap Ikan yang Masih Lestari

Admin Redaksi 1 - newsrtv
30 Jul 2026, 02:33 WIB
f X W T

Musim kemarau yang identik dengan menyusutnya debit air sungai ternyata menjadi momen yang paling dinantikan oleh masyarakat Desa Jangkang dan sejumlah desa di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Ketika aliran sungai mulai surut dan membentuk kubangan-kubangan air, masyarakat berbondong-bondong mengikuti tradisi Nirok Nanggok, sebuah cara menangkap ikan secara tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Lebih dari itu, Nirok Nanggok merupakan simbol kebersamaan, gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus upaya melestarikan budaya lokal yang masih terus dijaga hingga saat ini. Setiap tahunnya, tradisi tersebut selalu berhasil menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan suasana penuh kegembiraan, kebersamaan, dan semangat menjaga warisan budaya leluhur.

Mengutip berbagai sumber mengenai budaya masyarakat Belitung, Nirok Nanggok merupakan salah satu cara tradisional masyarakat Belitung dalam menangkap ikan ketika musim kemarau tiba. Tradisi ini dilakukan saat permukaan air sungai menyusut sehingga ikan-ikan terkumpul di kubangan-kubangan air yang dalam bahasa Belitung disebut lembong. Kondisi inilah yang dimanfaatkan masyarakat untuk menangkap ikan secara bersama-sama.

Nama Nirok Nanggok sendiri berasal dari dua alat utama yang digunakan dalam kegiatan tersebut, yakni tirok dan tanggok. Tirok merupakan tombak tradisional berbahan kayu dengan mata besi runcing sepanjang kurang lebih tiga meter yang digunakan untuk menusuk ikan. Sementara tanggok adalah keranjang rotan yang diberi bingkai kayu dan berfungsi sebagai alat menangkap maupun menampung ikan.

Pada masa lalu, tradisi ini lazim digelar di berbagai desa di wilayah daratan Pulau Belitung. Kemarau panjang menjadi syarat utama penyelenggaraannya karena debit air sungai harus benar-benar menyusut agar ikan terkonsentrasi di lembong. Dengan kondisi tersebut, masyarakat dapat memperoleh hasil tangkapan yang melimpah menggunakan alat-alat tradisional tanpa merusak ekosistem sungai.

Meski tampak seperti kegiatan menangkap ikan biasa, Nirok Nanggok memiliki nilai budaya yang tinggi. Di balik pelaksanaannya terdapat rangkaian prosesi adat yang harus dipatuhi masyarakat. Beberapa tahapan bahkan bersifat sakral dan mengandung aturan adat yang tidak boleh dilanggar oleh peserta.

Tahapan Pelaksanaan Nirok Nanggok

Secara umum, pelaksanaan Nirok Nanggok terdiri atas dua tahapan utama, yakni proses sebelum pelaksanaan dan proses ketika tradisi berlangsung.

Tahapan pertama dimulai jauh sebelum masyarakat turun ke sungai. Dalam tahap ini, Dukun Kampung dan Dukun Air memiliki peran penting untuk menentukan hari dan tanggal terbaik pelaksanaan tradisi. Selain menentukan waktu, mereka juga meninjau lokasi sungai atau lembong yang dinilai layak digunakan.

Tidak semua sungai yang surut dapat dijadikan lokasi Nirok Nanggok. Hanya sungai yang memiliki jumlah ikan melimpah yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan. Pengetahuan mengenai lokasi tersebut dipercaya hanya dimiliki oleh Dukun Kampung dan Dukun Air berdasarkan pengalaman serta pengetahuan turun-temurun.

Setelah lokasi dipastikan, masyarakat diberi pemberitahuan agar mempersiapkan perlengkapan seperti tirok dan tanggok. Persiapan tersebut menjadi bagian penting karena seluruh warga, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, akan ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Saat hari pelaksanaan tiba, seluruh warga berkumpul di lokasi yang telah ditentukan. Sebelum memasuki sungai, masyarakat terlebih dahulu menunggu Dukun Kampung dan Dukun Air memimpin doa bersama. Doa tersebut dipanjatkan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta seluruh peserta dijauhkan dari berbagai bahaya, seperti tertusuk tirok, terkena gigitan ular, maupun gangguan lain selama berada di sungai.

Dalam tradisi ini juga terdapat penggunaan buah pinang dan daun sirih sebagai bagian dari prosesi adat. Sejak dahulu, kedua benda tersebut dipercaya dapat menjadi simbol permohonan keselamatan sekaligus mengusir gangguan makhluk gaib selama pelaksanaan acara. Buah pinang dibungkus menggunakan daun sirih, kemudian diletakkan di sekitar lokasi hingga kegiatan selesai. Masyarakat meyakini bahwa tanpa keberadaan pinang dan daun sirih tersebut, pelaksanaan Nirok Nanggok tidak dapat dilangsungkan.

Setelah seluruh prosesi adat selesai, warga secara serentak turun ke sungai untuk berburu ikan menggunakan tirok, tanggok, jala, maupun alat tangkap tradisional lainnya. Suasana pun berubah menjadi sangat meriah dengan riuh tawa, sorak-sorai, dan semangat kebersamaan yang begitu terasa.

Kegiatan biasanya berakhir ketika wadah yang dibawa masyarakat telah penuh dengan hasil tangkapan. Namun, sebagian warga akan terus mencari ikan apabila hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Salah satu jenis ikan yang paling diburu adalah ikan baung. Ikan air tawar ini menjadi favorit karena memiliki kandungan protein tinggi, kaya omega-3, dan rendah lemak sehingga dipercaya baik untuk kesehatan.

Menariknya, meskipun masyarakat diperbolehkan menangkap ikan sebanyak mungkin, tradisi ini tetap mengedepankan prinsip pelestarian alam. Sebagian ikan yang masih berukuran kecil atau belum layak konsumsi biasanya dilepaskan kembali ke sungai agar populasinya tetap terjaga untuk generasi berikutnya.

Tujuan dan Makna Nirok Nanggok

Di balik kemeriahannya, Nirok Nanggok memiliki fungsi sosial dan budaya yang sangat kuat. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus menjadi media untuk mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Selain itu, tradisi ini juga berfungsi mempererat hubungan antarmasyarakat. Ketika hampir seluruh warga desa berkumpul dalam satu lokasi, tercipta ruang interaksi sosial yang memperkuat rasa persaudaraan, solidaritas, dan semangat gotong royong. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Belitung Timur.

Camat Dendang, Susiawati, juga menegaskan pentingnya tradisi ini sebagai sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.

“Ini adalah salah satu sarana berkumpulnya masyarakat desa. Jadi, di sini mereka berinteraksi, bersatu, sama-sama mencari ikan,” ungkap Susiawati.

Keceriaan masyarakat menjadi pemandangan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Nirok Nanggok. Mulai dari anak-anak hingga orang tua larut dalam suasana penuh sukacita ketika berburu ikan bersama. Tawa, canda, dan semangat saling membantu menciptakan pengalaman yang bukan hanya menghasilkan tangkapan ikan, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antarwarga.

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi alat tangkap ikan, Nirok Nanggok tetap bertahan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan ekologis. Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Belitung Timur tidak hanya menjaga adat istiadat leluhur, tetapi juga terus menanamkan nilai kebersamaan, pelestarian lingkungan, serta rasa syukur kepada generasi penerus agar budaya lokal tetap hidup dan dikenal luas hingga masa mendatang.

Penulis: Safira Aqsha Mun’ima

error: Content is protected !!