[UPDATE HAJI] Jemaah Haji Indonesia Lempar Jumrah di Malam Hari
Sahabat RTV, pelaksanaan lontar jumrah memasuki hari ketiga Tasyrik atau 12 Zulhijah berlangsung di tengah cuaca ekstrem yang melanda Tanah Suci. Suhu udara di sekitar Kota Makkah dan kawasan Mina pada siang hari bahkan dilaporkan dapat mencapai hampir 50 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat sebagian besar jemaah haji Indonesia memilih melaksanakan ritual wajib melontar jumrah pada dini hari hingga menjelang Subuh.
Waktu tersebut dinilai lebih aman karena suhu udara masih relatif sejuk dibandingkan siang hari. Selain itu, kepadatan jemaah di area Jamarat juga cenderung lebih terkendali sehingga memudahkan proses ibadah.
Pada hari ketiga Tasyrik, jutaan jemaah dari berbagai negara kembali memadati kompleks Jamarat untuk melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Meski demikian, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah terus mengingatkan jemaah agar memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak memaksakan diri beribadah pada waktu yang berisiko tinggi.
Hindari Lontar Jumrah Saat Cuaca Paling Panas
Kementerian Haji dan Umrah secara khusus mengarahkan jemaah Indonesia untuk melaksanakan lontar jumrah pada rentang waktu yang lebih aman, yakni mulai pukul 17.00 sore hingga pukul 10.00 pagi waktu Arab Saudi.
Sebaliknya, jemaah diminta menghindari aktivitas lontar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat. Pada rentang waktu tersebut, suhu udara berada pada titik tertinggi dan berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti dehidrasi, kelelahan berat, hingga heat stroke.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, turut meninjau langsung pelaksanaan lontar jumrah sekaligus memantau kesiapan petugas di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri apabila kondisi fisik tidak memungkinkan.
Menurutnya, keselamatan dan kesehatan jemaah harus menjadi prioritas utama selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Jemaah yang merasa kelelahan atau memiliki kondisi kesehatan tertentu disarankan menyesuaikan waktu lontar jumrah atau meminta pendampingan dari petugas.
Tim Reaksi Cepat Disiagakan di Mina
Sahabat RTV, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama fase Mina, Kementerian Agama juga membentuk Mobile Crisis Rescue (MCR) atau tim reaksi cepat yang disebar di sejumlah titik strategis.
Tim ini bertugas menangani berbagai persoalan yang kerap muncul selama pelaksanaan lontar jumrah, mulai dari jemaah tersesat, dehidrasi, kelelahan, hingga kasus heat stroke yang memerlukan penanganan segera.
Selain memberikan pertolongan pertama, tim MCR juga membantu mengurai kepadatan jemaah di jalur menuju Jamarat agar pergerakan jemaah tetap lancar dan aman.
Petugas kesehatan dan layanan perlindungan jemaah turut diperkuat selama hari-hari Tasyrik, yakni pada 11 hingga 13 Zulhijah. Langkah ini dilakukan mengingat fase Mina merupakan salah satu tahapan ibadah haji dengan tingkat mobilitas dan kepadatan tertinggi.
Jemaah Diimbau Terus Jaga Kondisi Fisik
Di tengah cuaca panas yang masih melanda Arab Saudi, jemaah haji Indonesia kembali diimbau untuk memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan payung atau pelindung kepala saat beraktivitas, serta mengurangi kegiatan yang tidak terlalu penting di luar tenda.
Pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menyelesaikan rangkaian lontar jumrah dengan lancar dan tetap dalam kondisi sehat hingga tahapan akhir ibadah haji. Dengan disiplin mengikuti arahan petugas dan memperhatikan kondisi tubuh, risiko gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah dapat diminimalkan.
Puncak kepadatan di Mina diperkirakan masih akan berlangsung hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik. Karena itu, koordinasi antara petugas haji Indonesia dan otoritas Arab Saudi terus diperkuat guna memastikan seluruh jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.