Digitalisasi Kebudayaan, Karya Betawi Perluas Jangkauan
Budaya Betawi tidak hanya dapat dinikmati melalui tradisi dan kesenian, tetapi juga dikembangkan menjadi peluang usaha. Di Setu Babakan, Jakarta, Ardi membangun bisnis yang memasarkan beragam produk khas Betawi dengan memanfaatkan teknologi digital.
Ketertarikan Ardi terhadap budaya Betawi tumbuh sejak sekitar 2010, ketika ia mengikuti latihan silat di sanggar seni budaya Betawi Setu Babakan. Dari pengalaman tersebut, kecintaannya terhadap budaya lokal semakin berkembang hingga mendorongnya menghadirkan berbagai produk khas Betawi.
Pada awal perjalanan usahanya, Ardi menggunakan modal Rp5 juta untuk membangun situs web sebagai sarana penjualan. Produk yang ditawarkan tidak hanya berupa pernak-pernik Betawi, tetapi juga beragam produk dan unsur kebudayaan, seperti ondel-ondel, tanjidor, dan palang pintu.
Seiring berkembangnya belanja online, Ardi turut memanfaatkan marketplace untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Kehadiran platform digital juga membantu membangun kepercayaan pembeli melalui sistem transaksi yang lebih aman. Namun, proses usaha tidak berhenti pada penjualan. Ardi juga perlu menyiapkan produk, mengemas barang dengan baik, serta memastikan pesanan siap dikirim.
Untuk mempertahankan usahanya, Ardi terus berupaya menghadirkan produk baru tanpa meninggalkan identitas budaya Betawi. Baginya, digitalisasi menjadi salah satu penopang penting bagi UMKM untuk mengembangkan penjualan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada lebih banyak orang.
Transformasi digital juga membutuhkan kemampuan beradaptasi dan dukungan berkelanjutan. Kisah Ardi menunjukkan bagaimana kecintaan terhadap budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan inovasi, membuka peluang usaha, dan membawa produk khas Betawi menuju pasar yang lebih luas.
#UMKM #BudayaBetawi #SetuBabakan #UMKMDigital #DigitalisasiUMKM #ProdukLokal #OndelOndel #BatikBetawi #EkonomiDigital #LensaIndonesia #RTV
