[UPDATE HAJI] Persiapan Tenda Armuzna dan Transportasi Jelang Puncak Haji

Sahabat RTV, persiapan menjelang puncak ibadah haji 2026 di Arafah terus dimatangkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Hingga saat ini, kesiapan tenda bagi jemaah haji Indonesia dilaporkan telah mencapai sekitar 90 persen. Tak hanya kesiapan tenda, pemerintah juga terus memantau sarana transportasi yang nantinya akan digunakan untuk mendukung mobilitas jemaah selama fase Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Armada Bus untuk Puncak Haji Mulai Dicek Dirjen Pelayanan Haji dan Umrah sekaligus Ketua PPIH Arab Saudi 2026, Ian Heryawan, menjelaskan bahwa armada bus yang disiapkan nantinya akan melayani pergerakan jemaah Indonesia mulai dari Makkah menuju Arafah, lalu ke Muzdalifah hingga Mina. Menurutnya, sekitar 25 persen armada bus yang akan digunakan sudah menjalani pengecekan kelayakan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh kendaraan aman dan siap beroperasi saat jutaan jemaah mulai bergerak menuju lokasi puncak haji. Sahabat RTV, transportasi memang menjadi salah satu aspek paling krusial dalam penyelenggaraan haji, mengingat perpindahan jemaah dalam jumlah besar harus dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Penempatan Tenda Diatur Lebih Ketat Selain armada bus, kesiapan tenda jemaah juga terus dipantau secara berkala. Pemerintah memastikan kapasitas tenda mencukupi untuk seluruh jemaah Indonesia yang akan menjalani wukuf di Arafah. Ian Heriawan menjelaskan bahwa tahun ini akan diterapkan mekanisme baru dalam penempatan jemaah di tenda. Nantinya, setiap tenda akan diberi label dan informasi kapasitas agar penempatan jemaah lebih tertata. Kemungkinan penempatan antar kloter juga akan dipisahkan menyesuaikan kapasitas tenda yang tersedia. Selain itu, petugas khusus akan ditempatkan di berbagai titik untuk memastikan jemaah tidak melakukan mobilisasi di luar area yang telah ditentukan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan sekaligus memudahkan pengawasan terhadap jemaah selama puncak ibadah berlangsung. Cuaca Panas Jadi Tantangan Sahabat RTV, di tengah persiapan tersebut, kondisi cuaca di Makkah dan sekitarnya juga menjadi perhatian serius. Saat ini suhu udara di Kota Makkah berkisar antara 31 hingga 44 derajat Celsius. Cuaca panas ekstrem ini membuat petugas terus mengimbau jemaah untuk menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih secara berkala dan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Petugas juga mengingatkan jemaah agar selalu membawa perlengkapan pelindung diri seperti topi, payung, sandal, masker, dan perlengkapan lain yang dapat membantu mengurangi paparan panas matahari secara langsung. Dengan semakin dekatnya puncak haji, pemerintah berharap seluruh persiapan dapat selesai tepat waktu sehingga jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk di Tanah Suci.

Jelang Armuzna, Kemenhaj Maksimalkan Sinergi Lintas Entitas

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Menjelang rangkaian puncak ibadah haji, Kementerian Haji dan Umrah terus menggencarkan kerjasama dan sinergi lintas entitas, dengan tujuan membentuk super team pengelolaan jemaah. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji, PPIH Arab Saudi daerah kerja Makkah, mengumpulkan seluruh petugas sektor, kloter dan Pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) guna mengatukan visi pengawalan jemaah, terutama pada sektor Bimbingan Ibadah dan manajemen kesehatan fisik jelang fase Armuzna. Kepala PPIH Arab Saudi, Ihsan Faisal mengatakan, kolaborasi antara petugas kloter, yang bertugas sebagai perpanjangan tangan pemerintah, dan KBIHU sebagai pembina jemaah, harus melebur menjadi sebuah super team yang solid. “Penyelenggaraan haji tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Kita ibaratnya harus memiliki tim yang super, bukan sekadar superman atau superhero. Tidak ada pihak yang paling unggul, semuanya harus bersinergi,” kata Ihsan. Saat ini total kloter yang sudah tiba di Arab Saudi, sebanyak 395 Kloter. Jemaah Haji baik gelombang 1 maupun gelombang 2 mulai memadati kota Makkah. Makkah akan segera menjadi pusat kegiatan seluruh jemaah haji Indonesia pada 15 Mei mendatang. Dian Palupi, RTV.

Mitigasi Jemaah di Armuzna, Kementerian Haji dan Umrah Matangkan Persiapan Pelayanan

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Persiapan demi persiapan jelang puncak haji, yang dijadwalkan mulai pada tanggal 9 Dzulhijah atau 26 Mei mendatang, terus dilakukan. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus mematangkan persiapan pelayanan puncak ibadah haji. Dua poin penting yang menjadi perhatian Kemenhaj, adalah yang menjadi manajemen alur pergerakan jemaah serta kesiapan fasilitas. Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj Ian Heriyawan dan Inspektur Jenderal Kemenhaj Dendi Suryadi memberikan perhatian khusus pada kesiapan transportasi bus taraduddi yang melayani kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Langkah ini diambil untuk meminimalkan potensi hambatan mobilitas jemaah di tengah kepadatan. “Ini untuk memitigasi apabila terjadi kemacetan, kita akan ambil langkah-langkah terutama nanti pergeseran pada saat dari Muzdalifah ke Mina ini. Karena seringkali keterlambatan bus, jadi bisa kita antisipasi,” ujar Ian Selain transportasi, tim juga memverifikasi kapasitas tenda wukuf di Arafah. Pemetaan area dilakukan secara mendetail berdasarkan nama dan kelompok terbang (kloter) guna menghindari penumpukan. Ian menyebut kesiapan fasilitas di Armuzna saat ini telah melampaui angka 90%. “Kita harus memastikan bahwa setiap kapasitas tenda itu cukup untuk seluruh jamaah,” tegasnya seraya memastikan pemenuhan hak jemaah demi kelancaran puncak haji. Di sisi pengawasan, Irjen Kemenhaj Dendi Suryadi mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan petugas khusus yang sudah dibekali pelatihan sejak di Tanah Air. Fokusnya adalah memantau aktivitas jemaah yang keluar dari tenda saat di Arafah, termasuk jemaah yang berniat mengunjungi Jabal Rahmah. Petugas akan ditempatkan di titik-titik strategis untuk menjamin keamanan dan memantau posisi jemaah secara berkala. Dalam sepekan terakhir, PPIH Arab Saudi sudah tiga kali melakukan pengecekan fasilitas di Armuzna. Dendi menegaskan bahwa pengecekan secara berulang akan terus dilakukan guna memastikan seluruh aspek teknis dan non-teknis siap melayani jemaah pada puncak haji mendatang. Dian Palupi, RTV.

19 WNI di Arab Saudi Terjerat Hukum

Sahabat RTV, sebanyak 19 warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan tengah menghadapi kasus hukum di Arab Saudi selama musim haji tahun 2026. Mayoritas kasus yang menjerat para WNI tersebut berkaitan dengan praktik penipuan haji ilegal yang belakangan semakin marak menjelang puncak ibadah haji. Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah menyebut sebagian besar pelanggaran dilakukan oleh WNI yang tinggal dan bekerja di Arab Saudi atau mukimin. Dari total 19 kasus, sebanyak 18 orang diketahui terlibat dalam berbagai praktik ilegal, mulai dari penawaran haji tanpa izin resmi, penipuan layanan haji, hingga dugaan penipuan pembayaran dam. Sahabat RTV, praktik penipuan haji ilegal memang menjadi perhatian serius pemerintah Arab Saudi tahun ini. Otoritas setempat terus menggencarkan pengawasan dan penindakan terhadap pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan musim haji untuk mencari keuntungan secara ilegal. Selain kasus penipuan haji, terdapat pula satu kasus lain yang melibatkan jemaah haji Indonesia. Jemaah tersebut diketahui sempat tersandung masalah hukum karena melakukan pengambilan video tanpa izin terhadap warga Arab Saudi di kawasan Masjid Nabawi. Namun, sahabat RTV, jemaah tersebut kini telah dibebaskan secara bersyarat dan diperbolehkan melanjutkan rangkaian ibadah hajinya sambil menunggu proses lanjutan dari pihak berwenang Arab Saudi. Sementara itu, 18 WNI lainnya hingga kini masih menjalani proses hukum dan ditahan oleh otoritas setempat. Pemerintah Indonesia melalui KJRI Jeddah memastikan tetap memberikan pendampingan dan pemantauan terhadap para WNI yang berhadapan dengan hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Kasus ini kembali menjadi pengingat penting bagi seluruh jemaah maupun WNI yang berada di Arab Saudi untuk mematuhi seluruh aturan yang berlaku selama musim haji. Pemerintah Arab Saudi diketahui menerapkan pengawasan sangat ketat tahun ini, terutama terkait praktik haji ilegal dan pelanggaran privasi. Sahabat RTV, masyarakat juga kembali diimbau agar tidak tergiur tawaran haji nonprosedural atau menggunakan visa selain visa haji resmi. Selain berisiko secara hukum, praktik tersebut juga dapat membahayakan keselamatan dan kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci.

Meneropong Kesibukan Transportasi Jemaah Haji

Sahabat RTV, padatnya terminal bus shalawat di Makkah kini menjadi pemandangan sehari-hari selama musim haji berlangsung. Sesaat setelah waktu salat, ribuan jemaah tampak memadati terminal untuk kembali ke hotel pemondokan masing-masing usai beribadah di Masjidil Haram. Hiruk-pikuk bus angkutan perhajian yang datang dan pergi tanpa henti pun menjadi bagian dari rutinitas para petugas transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 2026. Di balik lancarnya mobilitas jemaah, ada sistem pengaturan dan pengawasan yang bekerja selama 24 jam penuh. Terminal Ajyad Terapkan Sistem Buka Tutup Salah satu titik tersibuk berada di Terminal Ajyad yang melayani jemaah dari kawasan Misfalah. Setelah salat Isya, antrean jemaah terlihat memenuhi area terminal sambil menunggu bus shalawat menuju hotel mereka. Karena ukuran terminal yang relatif kecil dan lokasinya yang sangat dekat dengan Masjidil Haram, pengelola terminal menerapkan sistem buka tutup untuk menghindari penumpukan penumpang dan meminimalkan risiko kecelakaan. Sahabat RTV, sistem ini membuat arus jemaah tetap terkendali meski ribuan orang datang hampir bersamaan setiap selesai waktu salat. Terminal Jabal Ka’bah dan Syib Amir Tak Kalah Sibuk Berbeda dengan Ajyad, Terminal Jabal Ka’bah melayani jemaah yang tinggal di kawasan Aziziyah sektor 10. Di terminal ini, jemaah juga harus bersabar mengantre sebelum masuk ke area Masjidil Haram ataupun kembali ke hotel pemondokan. Sementara itu, Syib Amir menjadi terminal terbesar dibanding terminal lainnya. Terminal ini melayani jemaah yang tinggal di wilayah Syisyah dan Raudhah sekaligus menjadi terminal dengan jumlah rute bus terbanyak. Aktivitas di terminal-terminal tersebut berlangsung nyaris tanpa henti, terutama menjelang dan setelah waktu salat wajib. Seluruh Pergerakan Bus Dipantau dari Ruang Monitoring Sahabat RTV, di balik padatnya aktivitas transportasi jemaah, seluruh pergerakan bus ternyata dikendalikan dari sebuah ruang monitoring berukuran sekitar 6 x 4 meter yang berada di kantor daerah kerja Makkah. Dari ruangan ini, petugas memantau seluruh operasional bus shalawat maupun bus angkutan kota antarperhajian (AKAP) yang membawa jemaah dari Madinah menuju Makkah dan sebaliknya. Melalui layar monitor besar, petugas dapat memantau posisi setiap armada secara real time menggunakan teknologi GPS yang terintegrasi. Kepala Seksi Transportasi PPIH Arab Saudi Daker Makkah, M. Afifudin Zuhri, menjelaskan bahwa seluruh bus diwajibkan memiliki GPS agar perjalanan jemaah dapat dipantau dengan presisi. Dengan sistem ini, petugas bisa mengetahui kapan bus mulai berangkat, posisi armada selama perjalanan, hingga perkiraan waktu tiba di tujuan. Sistem monitoring ini dinilai sangat penting untuk memastikan keamanan dan kelancaran mobilitas ribuan jemaah Indonesia selama musim haji. Digitalisasi Jadi Kunci Pelayanan Sahabat RTV, kesigapan petugas, koordinasi antar daerah kerja, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi faktor penting dalam menjaga pelayanan transportasi haji tetap berjalan maksimal. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang terus bertambah setiap harinya, sistem transportasi yang tertata rapi menjadi salah satu penopang utama agar seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci dapat berjalan aman, nyaman, dan lancar bagi para jemaah.

[LIVE DARI MAKKAH] UPDATE HAJI:WNI TERJERAT KASUS HUKUM,DAN KONDISI JELANG PUNCAK HAJI

Sahabat RTV, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah mencatat saat ini terdapat 19 warga negara Indonesia (WNI) yang terjerat kasus hukum selama musim haji di Arab Saudi. Mayoritas kasus tersebut berkaitan dengan praktik penipuan haji ilegal yang belakangan menjadi perhatian serius otoritas setempat. Konjen RI Jeddah, Yusron Ambary, menjelaskan bahwa 18 orang di antaranya terlibat kasus penipuan haji ilegal melalui media sosial. Para pelaku diketahui merupakan mukimin atau WNI yang tinggal dan bekerja di Arab Saudi. Kasus Haji Ilegal Dominasi Pelanggaran Sahabat RTV, praktik penipuan haji ilegal memang semakin marak menjelang puncak ibadah haji. Modus yang digunakan umumnya berupa penawaran jasa masuk ke Makkah tanpa izin resmi, penjualan kartu haji palsu, hingga promosi layanan haji ilegal melalui media sosial. Ke-18 WNI yang terlibat dalam kasus tersebut saat ini masih menjalani proses hukum di kantor kepolisian Arab Saudi. Pemerintah Indonesia menegaskan akan menghormati proses hukum yang berlaku di negara tersebut sambil tetap memberikan pendampingan sesuai aturan perlindungan WNI. Selain kasus haji ilegal, satu WNI lainnya yang merupakan jemaah haji Indonesia juga sempat terjerat kasus hukum terkait pengambilan gambar warga negara Arab Saudi tanpa izin. Namun sahabat RTV, jemaah tersebut kini telah dibebaskan dan diperbolehkan melanjutkan rangkaian ibadah hajinya setelah menjalani proses pemeriksaan oleh pihak berwenang. Arab Saudi Perketat Akses Masuk Makkah Seiring semakin dekatnya puncak haji, otoritas Arab Saudi juga memperketat pengawasan di seluruh akses masuk Kota Makkah. Pemeriksaan dilakukan secara ketat di berbagai pintu masuk guna memastikan hanya jemaah yang memiliki izin resmi yang dapat memasuki area pelaksanaan haji. Kebijakan ini merupakan bagian dari penerapan prinsip Laa Hajj Bilaa Tasrih atau tidak ada haji tanpa izin resmi yang tahun ini ditegakkan lebih ketat oleh pemerintah Saudi. Sahabat RTV, aparat keamanan Saudi kini rutin melakukan pemeriksaan dokumen seperti visa haji, kartu nusuk, hingga identitas resmi jemaah di berbagai titik strategis. Hampir 149 Ribu Jemaah Indonesia Sudah Tiba Sementara itu, jumlah jemaah haji Indonesia yang telah tiba di Tanah Suci hingga saat ini mencapai sekitar 148.900 orang dengan total 385 kelompok terbang (kloter). Dari jumlah tersebut, sekitar 128.900 jemaah kini sudah berada di Kota Makkah. Sebanyak 86 ribu merupakan jemaah gelombang pertama yang sebelumnya singgah di Madinah, sedangkan sekitar 42.800 lainnya berasal dari gelombang kedua yang masuk langsung melalui Bandara Jeddah. Di sisi lain, kondisi cuaca di Arab Saudi juga masih cukup ekstrem. Suhu udara di Makkah saat ini berkisar antara 30 hingga 42 derajat Celsius. Karena itu, pemerintah terus mengimbau jemaah untuk menjaga kesehatan, memperbanyak konsumsi air putih, dan mengurangi aktivitas berlebihan agar tetap fit menjelang puncak ibadah haji.

Larangan ‘City Tour’ dan Pembatasan Umrah

Sahabat RTV, pemerintah menegaskan tidak akan mentolerir pelanggaran yang dilakukan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) selama penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 di Arab Saudi. Penegasan ini disampaikan menyusul masih ditemukannya sejumlah KBIHU yang melanggar imbauan dan aturan yang telah ditetapkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Salah satu pelanggaran yang menjadi sorotan adalah penyelenggaraan ziarah dan city tour di luar agenda resmi haji. Padahal sebelumnya PPIH Arab Saudi telah berulang kali mengeluarkan imbauan bahkan surat edaran terkait larangan aktivitas tersebut demi menjaga keselamatan dan kesehatan jemaah. Pemerintah Ancam Sanksi Tegas untuk KBIHU Nakal Selain larangan city tour, pemerintah juga terus mengingatkan pembatasan pelaksanaan umrah sunah lebih dari tiga kali bagi jemaah. Langkah ini dilakukan agar kondisi fisik jemaah tetap terjaga menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sekretaris Ditjen Pelayanan Haji sekaligus Wakil Ketua I PPIH Arab Saudi, Abdul Haris, menegaskan bahwa pemerintah akan menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan baik oleh petugas kloter maupun KBIHU. Menurutnya, setiap pelanggaran akan diproses lebih lanjut melalui pemeriksaan hingga kemungkinan pembuatan berita acara pemeriksaan atau BAP. Setelah itu pemerintah akan melakukan telaah sebelum menentukan bentuk sanksi, mulai dari peringatan hingga sanksi terberat. Senam Lansia untuk Jaga Kebugaran Jemaah Sahabat RTV, di tengah cuaca panas ekstrem di Makkah, pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia. Seksi Bimbingan Ibadah bersama Seksi Kesehatan PPIH Arab Saudi Daker Makkah kini rutin menggelar kegiatan senam lansia bagi jemaah Indonesia. Kegiatan ini bertujuan menjaga kebugaran tubuh para jemaah lanjut usia sekaligus membantu mengurangi keinginan mereka untuk terlalu sering bepergian ke Masjidil Haram. Dengan adanya aktivitas ringan seperti senam, diharapkan jemaah lansia tetap aktif namun tidak mengalami kelelahan berlebihan akibat terlalu sering beribadah di luar hotel. Suhu Makkah Capai 43 Derajat Celsius Sahabat RTV, kondisi cuaca di Makkah saat ini memang menjadi perhatian serius. Berdasarkan prakiraan cuaca, suhu udara di Kota Makkah pada siang hari diperkirakan berkisar antara 30 hingga 43 derajat Celsius. Cuaca panas ekstrem tersebut berpotensi menyebabkan dehidrasi dan penurunan kondisi fisik, terutama bagi jemaah lansia dan jemaah berisiko tinggi. Karena itu, petugas terus mengimbau jemaah untuk cukup istirahat, memperbanyak minum air putih, dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat. Sementara itu, jumlah jemaah haji Indonesia yang telah tiba di Tanah Suci hingga saat ini tercatat mencapai 138.879 orang. Dengan semakin dekatnya puncak haji, pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menjaga kesehatan dan mematuhi seluruh aturan agar ibadah berjalan aman, nyaman, dan lancar.

‘Door to Door’ Pelayanan Jemaah Haji di Tanah Suci

Sahabat RTV, pelayanan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci terus ditingkatkan, terutama bagi jemaah lansia, disabilitas, dan mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi. Salah satu bentuk pelayanan yang kini rutin dilakukan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) daerah kerja Makkah adalah layanan door to door langsung ke kamar jemaah. Pelayanan ini dirasakan langsung oleh seorang jemaah lansia bernama Nenek Epa yang tinggal di Abraj Al Misk kawasan Jarwal. Jemaah berusia 82 tahun tersebut tampak sangat gembira saat petugas kesehatan dan bimbingan ibadah datang mengetuk pintu kamarnya untuk melakukan pemeriksaan dan pendampingan. Lansia Jadi Prioritas Pelayanan Sahabat RTV, Nenek Epa menjadi salah satu jemaah yang mendapatkan perhatian khusus dari petugas karena faktor usia. Petugas kesehatan dan pembimbing ibadah secara rutin mengunjungi kamar jemaah lansia untuk memastikan kondisi mereka tetap stabil selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, para petugas juga memberikan bimbingan manasik, pendampingan ibadah, hingga doa bersama agar jemaah merasa lebih tenang dan nyaman. Pendekatan door to door ini dilakukan agar informasi dan pelayanan benar-benar tersampaikan secara langsung kepada jemaah yang membutuhkan perhatian lebih, terutama mereka yang kesulitan mengikuti kegiatan bimbingan secara kelompok. Edukasi Kesehatan Terus Digencarkan Selain pelayanan langsung ke kamar jemaah, petugas PPIH Daker Makkah juga terus melakukan edukasi kepada seluruh jemaah Indonesia. Berbagai imbauan disampaikan secara rutin, mulai dari pentingnya menjaga kesehatan hingga keselamatan saat menjalankan ibadah umrah maupun aktivitas di sekitar Masjidil Haram. Petugas juga terus mengingatkan jemaah agar tidak terlalu memaksakan diri melakukan aktivitas fisik berlebihan, terutama karena cuaca di Makkah saat ini sudah memasuki musim panas dengan suhu yang cukup tinggi pada siang hari. Sahabat RTV, kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia, disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi memang menjadi fokus utama pemerintah Indonesia tahun ini. Karena itu, berbagai layanan kesehatan, pendampingan ibadah, hingga edukasi terus diperkuat menjelang puncak haji. Jemaah Diminta Tetap Menjaga Kondisi Fisik Dengan semakin dekatnya pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, seluruh jemaah diimbau untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit. Istirahat yang cukup, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola makan, serta mengurangi aktivitas yang terlalu menguras tenaga menjadi langkah penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan lancar. Melalui pelayanan door to door ini, pemerintah berharap seluruh jemaah, terutama lansia dan kelompok rentan, tetap mendapatkan perhatian maksimal sehingga dapat menjalankan ibadah haji dengan nyaman dan penuh kekhusyukan.

[LIVE DARI MAKKAH] Peras Jemaah Biaya Kursi Roda, KBIHU Akan Disanksi Tegas

Sahabat RTV, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menegaskan akan menindak tegas kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU) yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap jemaah Indonesia selama musim haji tahun 2026. Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah dugaan pemerasan terhadap jemaah lansia terkait penyewaan kursi roda saat beribadah di Tanah Suci. Kepala Bidang Perlindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Mulyono, mengatakan pihaknya telah menemukan adanya KBIHU yang tidak mengikuti aturan resmi dalam pelayanan jemaah. Praktik tersebut dinilai membahayakan, terutama bagi jemaah lansia yang membutuhkan pendampingan khusus. KBIHU Terancam Dicabut Izinnya Menurut Mulyono, beberapa KBIHU diketahui menggunakan jasa pendorong kursi roda di luar ketentuan resmi yang telah ditetapkan pemerintah. Selain berpotensi membahayakan keselamatan jemaah, praktik tersebut juga sering kali disertai biaya yang tidak wajar dan membebani jemaah. Sahabat RTV, kondisi ini menjadi perhatian serius karena banyak jemaah lansia membawa barang penting seperti tas dan dokumen saat menggunakan layanan kursi roda. Jika menggunakan jasa ilegal atau tidak resmi, risiko kehilangan barang hingga penelantaran jemaah menjadi lebih besar. Karena itu, PPIH Arab Saudi menegaskan akan memberikan sanksi tegas terhadap KBIHU yang terbukti melanggar aturan. Sanksi tersebut mulai dari peringatan keras hingga pencabutan izin membawa jemaah pada musim haji berikutnya. Imbauan Soal Privasi di Arab Saudi Selain soal perlindungan jemaah, PPIH Arab Saudi juga mengingatkan seluruh jemaah Indonesia agar tidak sembarangan mengambil foto atau merekam warga Arab Saudi tanpa izin. Sahabat RTV, aturan terkait privasi di Arab Saudi sangat ketat dan diatur dalam Cyber Crime Law negara tersebut. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat berujung pada proses hukum serius, termasuk ancaman hukuman penjara hingga satu tahun dan denda mencapai 500 ribu riyal Saudi atau sekitar Rp2 miliar. Pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan tersebut untuk melindungi privasi warga negaranya. Karena itu, jemaah diimbau untuk selalu menghormati norma dan aturan yang berlaku selama berada di Tanah Suci. Jumlah Jemaah Indonesia Terus Bertambah Sementara itu, arus kedatangan jemaah haji Indonesia ke Arab Saudi masih terus berlangsung. Hingga saat ini, jumlah jemaah yang telah tiba di Tanah Suci mencapai 138.879 orang. Sebanyak 105.360 jemaah gelombang pertama telah bergerak dari Madinah menuju Makkah. Sedangkan sekitar 32.009 jemaah gelombang kedua masuk langsung melalui Bandara Internasional King Abdulaziz sebelum menuju Makkah. Dengan jumlah jemaah yang semakin besar dan puncak haji yang semakin dekat, pemerintah terus mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban, mematuhi aturan Arab Saudi, serta menggunakan layanan resmi demi keamanan dan kenyamanan selama menjalankan ibadah haji.

Jemaah Haji Terima Dana Wakaf

Lebih dari 850 jemaah yang berasal dari 2 kloter daerah embarkasi Aceh, menerima dana wakaf di Wilayah Jarwal, Makkah, Arab Saudi. Nazir Waqaf Baitul Asyi, Dr Syaikh Abdul Latif Muhammad Baltu, didampingi pengurus wakaf petugas kloter, hingga petugas penghubung pemerintah Aceh, secara simbolik menyerahkan dana wakaf tersebut kepada jemaah. Dana wakaf yang dibagikan ini, berasal dari aset peninggalan Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau Habib Bugak Asyi. Syaikh Baltu mengatakan, wakaf ini sudah berlangsung 220 tahun sejak Habib Bugak menyerahkan asetnya untuk dikelola dan hasilnya diberikan kepada seluruh warga Aceh yang berangkat haji. “Wakaf ini dijaga Allah, juga kerajaan Arab Saudi. Di bawah kekuasaan mereka sebagai yang diberi amanah, menjaga dan memberikan amanah kepada orang yang layak mengendalikannya,” kata Syaikh Baltu kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah. Tahun ini, dana wakaf yang dibagikan bagi 5426 jemmaah asal Aceh, sebanyak 11,2 juta riyal. Masing-masing orang mendapat dana sebesar 2.000 riyal atau setara dengan Rp9,2 jutaan. Dana wakaf tersebut merupakan kompensasi dari pengelolaan hotel wakaf milik Baitul Asyi kepada jemaah asal Aceh. Dalam perjanjian wakaf disebutkan jemaah Aceh itu berhak mendapatkan penginapan. Karena hotel tersebut disewakan kepada pihak lain, maka pihak dari pengelola Baitul Asyi memberi kompensasi. Pada penyelenggaraan haji 2026, Provinsi Aceh mendapatkan kuota 5.426 dengan 14 kloter masing-masing diisi 393 orang. Dari total 14 kloter tersebut, hanya 1 kloter yang berangkat pada gelombang 1, mayoritas masuk pemberangkatan di gelombang dua yang diterbangkan langsung dari Indonesia ke Jeddah menuju Makkah. Dian Palupi, RTV.

error: Content is protected !!