NEWS RTV Garis RTV

Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi di Klaten, 60 Sapi Ramaikan Jatinom

Admin Redaksi 1 - newsrtv
06 Aug 2026, 12:42 WIB
f X W T

Puluhan sapi dari berbagai jenis memadati jalanan di wilayah Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pemandangan tak biasa tersebut menjadi bagian dari Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi yang digelar masyarakat sebagai upaya memperkenalkan potensi peternakan sekaligus melestarikan tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sedikitnya 9 hingga 10 peternak turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan membawa sekitar 60 ekor sapi dari berbagai jenis dan ukuran. Tidak hanya para peternak, masyarakat dari berbagai kalangan juga terlihat antusias menyaksikan pawai. Sejumlah anak bahkan mendapat kesempatan untuk merasakan pengalaman menunggang sapi maupun menaiki gerobak sapi yang menjadi salah satu ikon dalam kegiatan tersebut.

Pawai ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman sapi yang dipelihara para peternak di Klaten sekaligus menunjukkan bahwa sektor peternakan memiliki potensi ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat setempat.

“Karnaval Sapi” di Jatinom: Dari Kandang ke Jalanan Desa

Kegiatan pawai menjadi salah satu cara untuk mendekatkan dunia peternakan kepada masyarakat. Selama ini, aktivitas peternak lebih banyak berlangsung di lingkungan kandang sehingga tidak semua orang mengetahui berbagai jenis sapi yang dipelihara maupun proses pemeliharaannya.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai jenis sapi dengan ukuran dan bobot yang berbeda. Kehadiran puluhan sapi dalam satu rangkaian pawai juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang untuk menyaksikan.

Selain itu, gerobak sapi menjadi salah satu elemen penting dalam pawai. Gerobak yang ditarik menggunakan tenaga sapi tersebut merupakan bagian dari sejarah kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa. Dahulu, gerobak sapi banyak digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari sebelum kendaraan bermotor berkembang seperti sekarang.

Melalui pawai ini, gerobak sapi tidak hanya ditampilkan sebagai alat transportasi tradisional, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas masyarakat pedesaan.

Bagi masyarakat Klaten, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi terhadap profesi peternak sekaligus mendorong generasi muda agar lebih mengenal sektor peternakan dan budaya lokal.

Iring-Iringan Sapi, Tawa Warga, dan Hangatnya Tradisi Desa

Rangkaian kegiatan diawali dengan berkumpulnya para peternak dan peserta bersama sapi-sapi yang telah dipersiapkan. Setelah seluruh peserta siap, puluhan sapi kemudian berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan di kawasan Jatinom, dengan sebagian ditunggangi dan sebagian lainnya menarik gerobak.

Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan tersebut. Anak-anak juga mendapat kesempatan mencoba menaiki sapi maupun gerobak sapi dengan pendampingan, sehingga suasana pawai berlangsung meriah dan penuh interaksi.

Setelah pawai selesai, para peserta kembali berkumpul untuk bersilaturahmi dan bertukar pengalaman mengenai pemeliharaan sapi. Momen ini memperkuat hubungan sosial antarpeternak sekaligus menjadi ruang berbagi pengetahuan.

Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini memiliki dampak sosial, ekonomi, dan budaya. Dari sisi sosial, pawai mempererat silaturahmi. Dari sisi ekonomi, kegiatan ini memperkenalkan potensi peternakan lokal. Sementara dari sisi budaya, pawai menjadi sarana pelestarian gerobak sapi agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Bagi masyarakat Klaten, Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai wilayah dengan potensi peternakan yang kuat.

Antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi yang dikemas secara menarik masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Perpaduan antara peternakan, budaya, dan hiburan membuat kegiatan ini dapat dinikmati berbagai kalangan usia.

Pada akhirnya, pawai ini menjadi pengingat bahwa sapi dan gerobak bukan sekadar bagian dari aktivitas ekonomi masa lalu, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, kerja keras, dan gotong royong yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya di tengah arus modernisasi.

Penulis: Safira Aqsha Mun’ima

error: Content is protected !!