MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji Indonesia tidak perlu khawatir, makanan yang didapat saat musim puncak haji, tetap akan memiliki cita rasa Indonesia. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jaenal Effendi memastikan, seluruh menu makanan siap santap atau ready to eat bagi jamaah Indonesia saat puncak haji, memiliki rasa nusantara, sehingga dapat mengobati rasa rindu para jemaah ke Tanah Air. “Menunya tentu cita rasa Indonesia, khas. Ada rendang, ada telurnya, macam-macam,” ujarnya. Jaenal menambahkan, tidak hanya saat puncak haji, makanan dengan menu nusantara ini, sudah disajikan sejak awal jemaah tiba di Arab Saudi. Kemenhaj, melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memastikan agar menu nusantara selalu tersaji kepada jemaah, yakni dengan memantau bahan baku hingga keterlibatan juru masak orang Indonesia di dapur-dapur tersebut. “Sampai hari ini, tiga hal (poin utama bagi para dapur) sudah dipenuhi, yakni cita rasa Indonesia bagus, gramasi bagus, dan on time dalam delivery (ke hotel-hotel jemaah haji),” ujar Jaenal. Jaenal juga menjelaskan bahwa Kemenhaj akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi, seperti dengan mengunjungi langsung dapur-dapur penyedia konsumsi bagi jemaah haji, sebagai bentuk profesionalisme pelayanan. MCH 2026, Makkah, Dian Palupi, RTV.
Author Archives: Admin News RTV
Tangis Haru Hartati, Bisa Naik Haji Walau Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh Tamiang
Hartati Musirun Mukmin tak pernah menyangka dirinya tetap bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci meski sempat kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang di Aceh Tamiang. Bagi perempuan 56 tahun asal Desa Saptamarga itu, perjalanan haji bukanlah perjalanan yang mudah karena harus menghadapi keterbatasan ekonomi pascabencana. Baginya, perjalanan menuju Tanah Suci merupakan panggilan iman yang tak ingin dilewatkan meski cobaan hidup sempat datang bertubi-tubi. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji
Skema Murur dan Tanazul Saat Puncak Haji
Musyrif Diny atau Konsultan Ibadah Kementerian Haji dan Umrah RI Buya Gusrijal mengimbau jemaah haji Indonesia untuk mengikuti arahan panitia apabila masuk dalam skema Murur dan Tanazul saat puncak ibadah haji di Makkah. Gusrijal menegaskan, jemaah tidak perlu khawatir karena ibadah haji tetap sah meski tidak melakukan mabit di Muzdalifah atau bermalam di Mina saat pelaksanaan lempar jumrah. Skema tersebut diterapkan demi keselamatan dan kelancaran pelaksanaan puncak haji. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji #updatehaji
Masjid Tan’im, Titik Miqat Terdekat
Sahabat RTV, yuk ikuti perjalanan jurnalis RTV Dian Palupi ke Masjid Tan’im yang dikenal sebagai lokasi miqat terdekat. Seperti apa isinya? Simak sampai habis ya! #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji #updatehaji
PPIH Matangkan Skema Operasional Puncak Haji
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus mematangkan skema operasional puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Dalam pelaksanaannya, pemerintah menyiapkan opsi Murur dan Tanazul untuk membantu mengurai kepadatan jemaah sekaligus menjaga keselamatan selama rangkaian ibadah puncak haji di Makkah. Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo meminta seluruh pihak yang terlibat mematuhi instruksi dari Satuan Tugas Operasional Armuzna PPIH Arab Saudi agar pelaksanaan ibadah berjalan aman, tertib, dan lancar. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji #updatehaji
Dua Fatwa terkait Dam dan Nusuk Haji, Jemaah Boleh Pilih yang Nyaman di Hati
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Musyrif Diny atau Konsultan Ibadah, Kementerian Haji dan Umrah RI Buya Gusrijal menanggapi, terkait polemik pernyataan Majelis Ulama Indon (MUI) mengenai dam nusuk haji. Majelis Ulama Indonesia, MUI kembali mengingatkan, terkait Fatwa Nomor 41 Tahun 2011 tentang Penyembelihan Hewan Dam atas Haji Tamattu’ di Luar Tanah Haram. Dalam Fatwa MUI tertulis, bahwa penyembelihan hewan dam atas haji tamattu’ atau qiran dilakukan di tanah haram. Jika dilakukan di luar tanah haram, maka hukumnya tidak sah. Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) juga mengeluarkan edaran tentang pilihan pelaksanaan penyembelihan dan distribusi dam yang salah satunya adalah bisa di tanah air, selain di tanah Haram. Salah satu fatwa yang membolehkan penyembelihan dam di tanah air, dikeluarkan oleh Muhammadiyah. Musyrif Diny atau Konsultan ibadah Kemenhaj, Buya Gusrijal mengatakan, ketika fatwa telah disampaikan, maka umat tidak bisa dipaksa untuk mengambil satu fatwa. “Sebenarnya dua fatwa ini boleh dikatakan tidak berhadapan secara penuh. Karena fatwa yang satu membolehkan (di tanah air), tidak mengharuskan. Yang satu lagi mengharuskan di tanah haram,” terangnya saat ditemui di Makkah. Ulama yang juga Ketua MUI bidang Fatwa Metodologi itu menjelaskan, kedua fatwa itu tidak dalam posisi saling menjatuhkan atau menafikan. Musyrif Diny dalam hal ini harus bisa melihat bagaimana umat dengan dua latar belakang fatwa ini bisa menjalankan ibadah dengan tenang. “Manapun fatwa yang mereka pilih, itu adalah pilihan hati mereka. Mana yang membuat mereka tenang dan damai sesuai dengan guru yang memberikan fatwa kepada mereka. Itu sikap kita,” jelasnya. Tugas Musyrif Diny adalah mengawal pilihan fatwa para jamaah haji. Bila memilih ikut fatwa MUI, maka Musyrif Diny bertugas memastikan seluruh prosesnya di Arab Saudi legal. Dalam hal ini, jamaah haji yang memilih mengikuti fatwa MUI harus menyerahkan dam melalui Lembaga Adahi, yang ditunjuk secara resmi oleh otoritas Saudi untuk menangani dam jamaah haji. Di saat bersamaan, Musyrif Diny juga harus memastikan bahwa jamaah yang memilih menyembelih dam di tanah air, benar-benar terlindungi. Artinya, lembaga yang ditunjuk untuk menangani dam di tanah air benar-benar terpercaya dan prosesnya transparan. Gusrijal berharap tidak ada pihak manapun yang membenturkan kedua fatwa tentang dam tersebut. Sebab, malah akan mendatangkan kebingungan pada umat. Gusrijal memastikan, MUI maupun Lembaga keumatan lain yang mengeluarkan fatwa tidak akan menggiring jamaah haji dengan argumentasi fiqih. Gusrijal menambahkan, urusan fiqih biarlah menjadi tanggung jawab para mujtahid, dalam hal ini para ulama yang berijtihad menentukan hukum. MCH 2026, Makkah, Dian Palupi, RTV.
Puncak Haji, Jemaah Dapat 15 Kali Makanan Siap Santap
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji dipastikan akan mendapat makanan, di saat puncak haji, di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan makanan siap santap atau ready to eat, akan diberikan kepada jemaah haji Indonesia, di musim puncak haji. Jemaah haji Indonesia akan mendapatkan 15 porsi makanan dengan cita rasa nusantara. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj Jaenal Effendi bahwa dapur-dapur penyedia konsumsi di Makkah itu akan memasok makanan pada tanggal 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H; atau pada 24, 25, dan 30 Mei 2026. Jaenal menambahkan, Kemenhaj melakukan pengecekan rutin, termasuk menggelar rapat itu, untuk memastikan bahwa konsumsi siap santap akan didistribusikan ke seluruh hotel jemaah Indonesia pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau pada 23 Mei 2026. “Dari dapur (paket makanan siap santap) akan didistribusikan ke seluruh hotel yang ada. Mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik, sehingga jemaah kita bisa tenang dalam melakukan ibadah. Masih ada sampai tanggal 6 (Dzulhijjah) nanti untuk menyiapkan segala sesuatunya,” ujar Jaenal saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH). Rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) akan berlangsung mulai 8 Dzulhijjah 1447 H atau Senin, 25 Mei 2026, ketika jemaah haji mulai bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf. Mulai 8 Dzulhijjah siang hingga 13 Dzulhijjah pagi, ketika para jemaah haji berada di Arafah hingga Mina, makanan akan disediakan oleh pihak syarikah atau perusahaan penyelenggara layanan haji di Arab Saudi. Setelah itu, setelah jemaah kembali ke hotel, konsumsi disediakan lagi oleh dapur-dapur Makkah. Kemenhaj memastikan, seluruh menu akan memiliki cita rasa nusantara, sehingga dapat mengobati rasa rindu para jemaah haji ke Tanah Air saat menjalani puncak ibadah. MCH 2026, Makkah, Dian Palupi, RTV.
Jamaah Haji Indonesia di Tanah Suci, Makannya Bagaimana?
Sahabat RTV, di balik lancarnya pelaksanaan ibadah haji bagi jemaah Indonesia di Makkah, ada satu tempat yang menjadi pusat aktivitas tanpa henti setiap harinya, yakni dapur penyedia konsumsi jemaah haji Indonesia. Dari tempat inilah ribuan porsi makanan dimasak setiap hari untuk memenuhi kebutuhan para jemaah di Tanah Suci. Saat berada di sekitar dapur penyedia konsumsi ini, sahabat RTV mungkin akan terkejut karena aroma rempah-rempah khas Indonesia begitu terasa meski berada jauh dari Tanah Air. Mulai dari aroma bawang goreng, tumisan bumbu, hingga masakan khas Nusantara memenuhi area dapur dan menjadi pengobat rindu bagi jemaah Indonesia. Koki Indonesia Hadirkan Cita Rasa Nusantara Tak hanya resep masakannya yang khas Indonesia, sahabat RTV, para koki yang memasak makanan jemaah juga didatangkan langsung dari Indonesia. Kehadiran koki Indonesia dinilai penting agar rasa makanan tetap sesuai dengan lidah jemaah sehingga mereka tetap memiliki selera makan yang baik selama menjalankan ibadah haji. Selain koki Indonesia, dapur katering ini juga melibatkan tenaga profesional dari berbagai negara untuk melayani kebutuhan konsumsi jemaah internasional lainnya. Namun khusus untuk jemaah Indonesia, menu dan cita rasa disesuaikan dengan kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Di tengah cuaca panas Arab Saudi dan padatnya aktivitas ibadah, makanan bergizi dan higienis menjadi faktor penting untuk menjaga kondisi fisik jemaah tetap prima. Proses Memasak Modern dan Higienis Sahabat RTV, seluruh proses memasak dilakukan menggunakan sistem modern dengan standar kebersihan yang ketat. Mulai dari pengolahan bahan, proses memasak, hingga penyajian makanan dilakukan secara terukur dan diawasi dengan baik. Tak hanya soal rasa, kandungan gizi makanan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah memastikan setiap menu yang diberikan kepada jemaah memiliki nilai gizi yang cukup agar dapat mendukung daya tahan tubuh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Distribusi Konsumsi Kini Dipantau Digital Ada hal berbeda dalam penyediaan konsumsi jemaah tahun ini. Sistem distribusi makanan kini sudah terintegrasi secara digital dan dipantau secara real time. Pencatatan distribusi, pemantauan jumlah porsi, hingga proses verifikasi layanan dilakukan menggunakan sistem digital sehingga pengiriman makanan ke hotel-hotel jemaah bisa lebih terkontrol dan tepat sasaran. Sahabat RTV, layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Makkah tahun ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan 51 dapur penyedia yang telah memenuhi standar pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi. Puluhan dapur tersebut bertugas menyuplai makanan untuk 177 hotel dan melayani sekitar 527 kelompok terbang (kloter) jemaah Indonesia yang tersebar di berbagai kawasan pemondokan di Makkah. Jemaah Bisa Fokus Beribadah Dengan sistem layanan konsumsi yang semakin modern dan terjamin kualitasnya, keluarga jemaah di Indonesia kini tidak perlu khawatir soal makanan para jemaah di Tanah Suci. Mulai dari kebersihan, cita rasa, hingga kandungan gizinya sudah dipastikan sesuai standar. Dengan begitu, para jemaah dapat lebih fokus menjalankan ibadah tanpa harus memikirkan kebutuhan makan sehari-hari.
Tips Hadapi Cuaca Panas Makkah
Sahabat RTV, meski saat ini Arab Saudi baru memasuki awal musim panas, suhu udara di Makkah sudah mencapai angka yang cukup ekstrem, yakni hingga 44 derajat Celsius. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi jemaah haji Indonesia yang terbiasa dengan iklim tropis dan kelembaban udara tinggi seperti di Indonesia. Tidak hanya suhu yang panas, tingkat kelembaban udara di Makkah juga sangat rendah. Jika di Indonesia kelembaban umumnya berada di atas 50 persen, di Makkah kelembaban udara saat ini hanya sekitar 11 persen. Perbedaan cuaca yang cukup drastis ini membuat tubuh membutuhkan proses adaptasi agar tetap sehat dan tidak mengalami dehidrasi. Sahabat RTV, untuk membantu tubuh tetap fit selama beraktivitas di tengah cuaca panas ekstrem, ada beberapa tips penting yang bisa dilakukan. Hindari Aktivitas di Siang Hari Tips pertama, hindari keluar ruangan pada siang hari jika tidak terlalu diperlukan. Paparan panas matahari secara langsung di Makkah sangat tinggi dan bisa memicu dehidrasi hingga heat stroke, terutama bagi jemaah lansia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Namun jika memang harus beraktivitas di luar ruangan, jangan lupa untuk rutin minum air putih. Disarankan mengonsumsi sekitar 200 mililiter air setiap satu jam. Jika khawatir terlalu sering ke kamar kecil, sahabat RTV bisa menyiasatinya dengan minum empat teguk air setiap 10 menit. Konsumsi Elektrolit dan Oralit Selain air putih, tubuh juga membutuhkan asupan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat cuaca panas. Jemaah disarankan mengonsumsi satu botol air yang dicampur oralit atau minuman elektrolit setiap hari agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Langkah ini penting untuk mencegah tubuh mengalami kelelahan akibat kekurangan cairan dan mineral. Gunakan Pelindung Diri Sahabat RTV, saat keluar ruangan jangan lupa menggunakan topi, payung, dan tabir surya untuk melindungi tubuh dari paparan panas matahari. Sebaiknya perlengkapan tersebut selalu disimpan di dalam tas agar mudah dibawa kapan saja. Penggunaan masker juga tetap dianjurkan. Selain melindungi dari debu dan kuman, masker dapat membantu mengurangi paparan panas langsung ke area wajah. Siapkan Sandal Cadangan Cuaca panas ekstrem di Makkah juga bisa memengaruhi kondisi alas kaki. Karena itu, jemaah disarankan membawa sandal atau alas kaki cadangan di dalam tas untuk berjaga-jaga jika sandal utama rusak akibat suhu panas. Selain itu, jangan lupa membawa perlengkapan pribadi lain yang memang dibutuhkan selama beraktivitas di luar hotel. Sahabat RTV, menjaga kesehatan di tengah cuaca panas Arab Saudi menjadi hal yang sangat penting menjelang puncak ibadah haji. Dengan menjaga pola minum, membatasi aktivitas berat di siang hari, serta menggunakan perlindungan diri yang tepat, diharapkan jemaah tetap sehat dan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan lancar di Tanah Suci.
Jalur Khusus Lansia di Terminal Ajyad
Jemaah haji lansia dan disabilitas, khususnya yang tinggal di kawasan Misfalah, kini tidak perlu khawatir saat menggunakan bus shalawat dari Masjidil Haram menuju hotel. Di Terminal Ajyad telah disediakan jalur khusus bagi jemaah risiko tinggi (risti) serta pengguna kursi roda agar proses keberangkatan lebih aman dan nyaman. Kepala Pos Terminal Ajyad M. Rif’at Sitorus menjelaskan, jalur prioritas tersebut akan difokuskan untuk melayani jemaah lansia dan disabilitas terlebih dahulu. Setelah seluruh jemaah risti terlayani, jalur kembali dibuka untuk jemaah umum. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji #updatehaji