Malam hingga dini hari waktu Arab Saudi menjadi waktu yang paling disarankan bagi jemaah haji Indonesia untuk melaksanakan lempar jumrah di Mina. Selain suhu yang lebih sejuk, kondisi di area Jamarat juga relatif lebih terkendali dan tidak terlalu padat sehingga jemaah dapat beribadah dengan lebih nyaman dan aman. Di hari-hari akhir pelaksanaan lempar jumrah, seluruh petugas haji Indonesia dari berbagai satuan tugas terus siaga dan menyebar di berbagai titik untuk memantau serta membantu jemaah. #jemaahhaji #infohaji #hajiindonesia #puncakhaji #haji2026
Author Archives: Admin News RTV
[UPDATE HAJI] Jemaah Haji Indonesia Lempar Jumrah di Malam Hari
Sahabat RTV, pelaksanaan lontar jumrah memasuki hari ketiga Tasyrik atau 12 Zulhijah berlangsung di tengah cuaca ekstrem yang melanda Tanah Suci. Suhu udara di sekitar Kota Makkah dan kawasan Mina pada siang hari bahkan dilaporkan dapat mencapai hampir 50 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat sebagian besar jemaah haji Indonesia memilih melaksanakan ritual wajib melontar jumrah pada dini hari hingga menjelang Subuh. Waktu tersebut dinilai lebih aman karena suhu udara masih relatif sejuk dibandingkan siang hari. Selain itu, kepadatan jemaah di area Jamarat juga cenderung lebih terkendali sehingga memudahkan proses ibadah. Pada hari ketiga Tasyrik, jutaan jemaah dari berbagai negara kembali memadati kompleks Jamarat untuk melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Meski demikian, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah terus mengingatkan jemaah agar memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak memaksakan diri beribadah pada waktu yang berisiko tinggi. Hindari Lontar Jumrah Saat Cuaca Paling Panas Kementerian Haji dan Umrah secara khusus mengarahkan jemaah Indonesia untuk melaksanakan lontar jumrah pada rentang waktu yang lebih aman, yakni mulai pukul 17.00 sore hingga pukul 10.00 pagi waktu Arab Saudi. Sebaliknya, jemaah diminta menghindari aktivitas lontar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat. Pada rentang waktu tersebut, suhu udara berada pada titik tertinggi dan berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti dehidrasi, kelelahan berat, hingga heat stroke. Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, turut meninjau langsung pelaksanaan lontar jumrah sekaligus memantau kesiapan petugas di lapangan. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri apabila kondisi fisik tidak memungkinkan. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan jemaah harus menjadi prioritas utama selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Jemaah yang merasa kelelahan atau memiliki kondisi kesehatan tertentu disarankan menyesuaikan waktu lontar jumrah atau meminta pendampingan dari petugas. Tim Reaksi Cepat Disiagakan di Mina Sahabat RTV, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama fase Mina, Kementerian Agama juga membentuk Mobile Crisis Rescue (MCR) atau tim reaksi cepat yang disebar di sejumlah titik strategis. Tim ini bertugas menangani berbagai persoalan yang kerap muncul selama pelaksanaan lontar jumrah, mulai dari jemaah tersesat, dehidrasi, kelelahan, hingga kasus heat stroke yang memerlukan penanganan segera. Selain memberikan pertolongan pertama, tim MCR juga membantu mengurai kepadatan jemaah di jalur menuju Jamarat agar pergerakan jemaah tetap lancar dan aman. Petugas kesehatan dan layanan perlindungan jemaah turut diperkuat selama hari-hari Tasyrik, yakni pada 11 hingga 13 Zulhijah. Langkah ini dilakukan mengingat fase Mina merupakan salah satu tahapan ibadah haji dengan tingkat mobilitas dan kepadatan tertinggi. Jemaah Diimbau Terus Jaga Kondisi Fisik Di tengah cuaca panas yang masih melanda Arab Saudi, jemaah haji Indonesia kembali diimbau untuk memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan payung atau pelindung kepala saat beraktivitas, serta mengurangi kegiatan yang tidak terlalu penting di luar tenda. Pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menyelesaikan rangkaian lontar jumrah dengan lancar dan tetap dalam kondisi sehat hingga tahapan akhir ibadah haji. Dengan disiplin mengikuti arahan petugas dan memperhatikan kondisi tubuh, risiko gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah dapat diminimalkan. Puncak kepadatan di Mina diperkirakan masih akan berlangsung hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik. Karena itu, koordinasi antara petugas haji Indonesia dan otoritas Arab Saudi terus diperkuat guna memastikan seluruh jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
137.365 Jemaah Haji Indonesia Nafar Awal Meninggalkan Mina Menuju Makkah
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Sebanyak 137.365 jemaah haji Indonesia yang mengambil nafar awal mulai meninggalkan Mina menuju Makkah pada Jumat pagi 29 Mei 2026 atau 12 Dzulhijjah 1447 H. Pergerakan jemaah ini dimulai pukul 06:00 Waktu Arab Saudi (WAS) dengan memakai bus ke hotel-hotel di Makkah. “Jadi jam setengah 7 atau jam 7 (jemaah haji Indonesia) sudah mulai meninggalkan Mina,” kata Wakil Satgas Mina, Zaenal Muttaqin, kepada Tim Media Center Haji. Zaenal mengatakan, jemaah yang mengambil nafar awal dan meninggalkan Mina pada hari ini ada sekitar 68 persen atau 137.365 jemaah. Artinya, sebagian besar jemaah yang mabit di Mina mengambil nafar awal. Menurut Zaenal, dari 527 kloter, ada sekitar 424 kloter dijadwalkan meninggalkan Mina, setelah jemaah ini menyelesaikan mabit di Mina dan lontar jumrah aqabah dan jumrah selama hari tasyrik. Zaenal menambahkan, jika nanti ada jemaah yang hingga waktu terbenam matahari belum berangkat, maka jemaah tersebut harus tetap di Mina hingga Sabtu, 13 Dzulhijjah. Jemaah tersebut harus ikut nafar tsani meski sebelumnya dijadwalkan ikut nafar awal. “Jadi, mereka harus sudah keluar dari Mina sebelum gurubusyamsi atau terbenamnya matahari,” kata Zaenal. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, mencatat, selain jemaah yang mabit di Mina, terdapat 20 ribuan jemaah yang ikut program tanazul. Jemaah ini tidak mabit di Mina, tapi kembali ke hotel. Berdasarkan pantauan di lapangan, mayoritas jemaah tanazul juga mengambil nafar awal. Jemaah yang tanazul mandiri (tanazul di luar program Kemenhaj) rata-rata juga mengambil nafar awal. Sementara itu, bagi jemaah haji Indonesia yang mengambil nafar tsani, lempar jumrah pada 13 Dzulhijjah dijadwalkan pada pukul 05:00 pagi hingga pukul 12:00 Waktu Arab Saudi. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Kemenhaj Perkuat Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Kementerian Haji dan Umrah memastikan layanan jemaah haji Indonesia pada fase Mina, khususnya pelaksanaan lontar jumrah hari Tasyrik kedua, Jumat 29 Mei 2026 atau 12 Dzulhijjah 1447 H, berjalan tertib dan terkendali. Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, menyampaikan untuk 12 Zulhijjah, jadwal lontar jumrah bagi jemaah Indonesia dibagi dalam dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai 10.30 WAS dan pukul 18.00 sampai 24.00 WAS. Sementara waktu larangan melontar berlaku pukul 11.00 sampai 14.00 WAS. Pada rentang waktu tersebut, jemaah diminta tetap berada di tenda masing-masing guna menjaga kondisi fisik dan menghindari paparan cuaca panas serta kepadatan di kawasan Jamarat. Maria juga mengimbau jemaah yang mengambil Nafar Awal agar segera menuntaskan rangkaian lontar jumrah sesuai jadwal, lalu kembali ke tenda masing-masing di Mina. Mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WAS, jemaah Nafar Awal diberangkatkan secara bertahap dan bergelombang menuju Makkah menggunakan bus yang telah disiapkan petugas. “Jemaah Nafar Awal kami minta tetap tertib, tidak memisahkan diri dari rombongan, dan mempersiapkan diri sesuai jadwal keberangkatan. Pengaturan bertahap ini penting agar pergerakan menuju Makkah berlangsung aman, nyaman, dan tidak menimbulkan kepadatan,” jelas Maria. Sebagai penguatan layanan di lapangan, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina di sejumlah titik pantau dan jalur pergerakan jemaah. Petugas ditempatkan antara lain di Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gerbang terowongan Muaisim Turki, depan Syarikah, serta sejumlah pos pengarah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah. Petugas Satgas Mina bertugas mengarahkan jemaah menuju Jamarat, membantu pengaturan arus, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah kembali melalui jalur aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko. Selain itu, Kemenhaj melalui Satgas Operasional Armuzna mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina. Armada ini disiapkan untuk membantu jemaah yang mengalami kelelahan, jemaah lanjut usia, jemaah disabilitas, jemaah yang terpisah dari rombongan, maupun jemaah yang kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah. “Mobil golf kami siagakan sebagai layanan respons cepat bagi jemaah yang membutuhkan bantuan di sekitar Jamarat dan jalur pergerakan Mina. Petugas bergerak menyisir titik-titik strategis agar jemaah yang kelelahan, tersesat, atau terpisah dari rombongan bisa segera didampingi dan diantar kembali ke tenda dengan aman,” tutur Maria. Kemenhaj juga menempatkan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat, Mina. MCR merupakan tim khusus dan posko layanan kedaruratan yang disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, membantu evakuasi darurat, serta mengurai kepadatan jemaah pada fase puncak ibadah haji. Maria juga meminta agar keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah juga diminta memberikan perhatian lebih kepada jemaah rentan. Jika ditemukan jemaah kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas terdekat. “Kami mengajak seluruh jemaah untuk saling menjaga, saling membantu, dan saling mengingatkan. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi kunci agar seluruh rangkaian ibadah di Mina berjalan aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” pungkas Maria. Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah, terus diperkuat sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Jemaah Dilarang Lempar Jumrah pada Pukul 10.00 hingga 14.00 WAS
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melarang jemaah haji Indonesia melempar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Hal ini disebabkan oleh cuaca sangat panas serta kondisi jamarat yang sangat padat. “Seluruh jemaah haji agar mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan bahwa pukul 10.00 pagi ini hingga pukul 14.00 untuk tidak bergerak keluar tenda,” kata Ketua PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj, Ian Heryawan. Ian mengatakan, larangan tersebut sejalan dengan larangan dari Kementerian Haji Arab Saudi. Ian menambahkan, larangan ini dibuat untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh jemaah haji, khususnya Indonesia. Dengan adanya instruksi ini, jemaah haji Indonesia harus tetap berada di dalam tenda dan mengikuti dengan ketat rencana pergerakan kerumunan yang telah disetujui, dengan pengawasan langsung oleh misi haji dan penyedia layanan untuk memastikan keselamatan mereka. “Kepatuhan akan dipantau dan dievaluasi secara ketat,” kata Ian. Sebagaimana diketahui, pada 27 Mei atau 10 Dzulhijjah ini, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia akan melakukan lempar jumrah aqabah. Sementara pada hari tasyrik, jemaah yang mengambil nafar awal akan kembali melempar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada 11 dan 12 Dzulhijjah, sedangkan yang mengambil nafar tsani akan melakukan tiga lempar jumrah hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Berdasarkan pantauan serta pengalaman di lapangan, cuaca di Makkah, khususnya di Mina dan sepanjang jalan menuju jamarat memang sangat terik. Selain itu, tingkat kepadatan jemaah yang mau melakukan jumrah aqabah juga sangat padat. Pada pelaksanaan lempar jumrah di tanggal 10 Dzulhijah kemarin, banyak jemaah asal Indonesia yang mengalami kelelahan, dehidrasi, bahkan beberapa jamaah pingsan. Jemaah haji Indonesia juga diimbau agar tidak memaksakan diri melempar jumrah saat jemaah dari negara lain sedang mendominasi di area jamarat. Jemaah Indonesia juga diimbau tidak melawan arus saat sedang berada di area tempat lempar jumrah. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Perkuat Respon Cepat Tanggap Darurat, Kemenhaj Siapkan Tim Mobile Crisis Rescue
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat layanan pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat. Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik. Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan MCR menjadi salah satu instrumen penting dalam penguatan layanan di titik-titik krusial pergerakan jemaah. “MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria. Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jemaah. Penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons cepat kondisi darurat, serta memberikan bantuan kepada jemaah yang membutuhkan penanganan segera. “MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya. Menurut Maria, keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan. Maria kembali mengimbau jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah. Kemenhaj juga meminta jemaah memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan di kawasan Jamarat. Pada waktu larangan, jemaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas. Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul. Pos pantau Satgas Mina ditempatkan di titik-titik strategis, antara lain Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta sejumlah pos pengarah pergerakan jemaah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah dari lontar jumrah. Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan pejalan kaki jemaah haji Indonesia menuju Jamarat, membantu pengaturan arus saat lontar jumrah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko. Maria menambahkan, kondisi cuaca di Mina pada siang hari masih cukup panas. Karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan. Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah, terus diperkuat sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai. Media Center Haji 2026, Dian Palupi, RTV.
Memahami Realitas Petani Lewat Film “Besok Kita Nanem Lagi”
Stigma bahwa petani identik dengan pekerjaan kotor, identik dengan kemiskinan, dan kurang menjanjikan masih banyak ditemui di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan utama yang diangkat dalam film dokumenter berjudul “Besok Kita Nanam Lagi”. Film dokumenter ini diputar dalam kegiatan Bekal Mapan yang diselenggarakan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan perhatian publik terhadap kondisi petani sekaligus masa depan sektor pertanian Indonesia. Berbagai persoalan yang dihadapi petani turut diangkat dalam film, mulai dari alih fungsi lahan, keterbatasan modal untuk membeli pupuk, hingga dampak perubahan iklim yang semakin mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Film ini mengisahkan kehidupan dua petani dari generasi berbeda yang tetap bertahan dan berinovasi di tengah berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah Ryan, petani muda asal Karawang yang juga menjadi tokoh dalam film dokumenter tersebut. Melalui aktivitasnya sebagai petani sekaligus pemain biola dan kreator konten, Ryan berupaya mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi petani. Ia ingin menunjukkan bahwa petani dapat menjadi profesi yang modern, kreatif, dan memiliki nilai kewirausahaan yang tinggi sehingga layak dilirik oleh generasi muda. Dalam diskusi setelah pemutaran film, sejumlah persoalan mendasar sektor pertanian turut menjadi sorotan. Di antaranya skala usaha pertanian yang relatif kecil, produktivitas yang masih rendah, serta terbatasnya pemanfaatan teknologi di kalangan petani. Sebagian besar petani juga masih bergantung pada tenaga kerja manual, terutama dalam proses penanaman. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat hasil pertanian belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara optimal. Para narasumber juga menyoroti fakta bahwa tidak semua petani merupakan pemilik lahan. Banyak di antaranya berstatus penyewa, penggarap, maupun buruh tani yang menghadapi tantangan berbeda dalam menjalankan usaha pertanian. Pemerintah pun disebut terus memperkuat program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebagai upaya menjaga keberadaan lahan pertanian produktif agar tidak terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Melalui film dokumenter “Besok Kita Nanam Lagi”, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami realitas kehidupan petani Indonesia sekaligus mendorong generasi muda untuk tidak ragu terjun dan berkontribusi di sektor pertanian.
[PUNCAK HAJI 2026] Jemaah Haji Mulai Bergerak Menuju Mina
Sahabat RTV, setelah menjalani mabit atau bermalam di Muzdalifah, jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Mina untuk melanjutkan rangkaian puncak ibadah haji. Proses perpindahan jemaah berlangsung secara bertahap sejak tengah malam hingga pagi hari guna memastikan perjalanan berjalan aman dan tertib. Jika pada malam sebelumnya kawasan Muzdalifah dipenuhi ribuan jemaah yang bermalam setelah wukuf di Arafah, kini area tersebut mulai lengang. Di sejumlah titik masih terlihat antrean jemaah yang menunggu giliran diberangkatkan menuju Mina menggunakan armada transportasi yang telah disiapkan oleh otoritas haji. Usai Wukuf, Jemaah Bermalam di Muzdalifah Sahabat RTV, mabit di Muzdalifah merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan puncak ibadah haji. Setelah bergerak dari Arafah pada Selasa sore usai salat Magrib, para jemaah menghabiskan malam di Muzdalifah untuk beristirahat, berzikir, berdoa, serta mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan dalam prosesi lempar jumrah di Mina. Perpindahan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dilakukan secara bertahap mulai setelah Magrib hingga tengah malam. Skema yang sama juga diterapkan saat pemindahan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina guna menghindari kepadatan dan memastikan kelancaran arus pergerakan jutaan jemaah. Menurut pantauan di lapangan, rombongan yang masih berada di Muzdalifah pada pagi hari merupakan gelombang terakhir jemaah Indonesia yang akan diberangkatkan menuju Mina. Bersiap Menjalani Lempar Jumrah Setibanya di Mina, jemaah akan menempati tenda yang telah disiapkan sesuai kloter dan sektor masing-masing. Di lokasi ini, jemaah akan melaksanakan salah satu rangkaian utama ibadah haji, yakni lempar jumrah. Prosesi lempar jumrah dilakukan dengan melempar batu kerikil ke tiga titik jumrah sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan. Ritual ini menjadi salah satu momen yang paling padat dalam pelaksanaan haji karena melibatkan jutaan jemaah dari berbagai negara. Untuk menjaga keselamatan dan kelancaran ibadah, petugas haji Indonesia bersama otoritas Arab Saudi telah menyiapkan berbagai skema pengaturan pergerakan jemaah, termasuk penempatan petugas khusus di kawasan Mina dan jalur menuju Jamarat. Menuju Tahap Akhir Ibadah Haji Sahabat RTV, setelah menyelesaikan rangkaian lempar jumrah di Mina, jemaah haji akan melanjutkan ibadah dengan melaksanakan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram. Tawaf Ifadah merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan sebelum rangkaian ibadah haji dinyatakan sempurna. Dengan berakhirnya prosesi di Mina dan Tawaf Ifadah, jemaah akan memasuki tahap akhir pelaksanaan ibadah haji sebelum nantinya kembali ke hotel pemondokan dan melanjutkan agenda ibadah lainnya di Tanah Suci. Pemerintah Indonesia melalui PPIH Arab Saudi terus mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan, mengikuti arahan petugas, serta memperhatikan jadwal pergerakan yang telah ditetapkan agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar, aman, dan khusyuk.
[UPDATE HAJI] 221 Ribu Jemaah Haji Indonesia Tiba di Arafah
Seluruh jemaah haji Indonesia kini telah berada di Arafah untuk bersiap menjalani wukuf, yang merupakan puncak ibadah haji. Setelah prosesi wukuf selesai, para jemaah akan bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam. Dari Padang Arafah, Arab Saudi, jurnalis RTV Dian Palupi melaporkan bahwa saat ini sekitar 221 ribu jemaah haji Indonesia telah berada di Arafah. Dari jumlah tersebut, sekitar 203 ribu merupakan jemaah haji reguler. Wukuf di Arafah dilaksanakan pada Selasa, 26 Mei 2026 atau bertepatan dengan 9 Zulhijah 1447 Hijriah, dimulai setelah salat Zuhur hingga terbenamnya matahari. Rangkaian ibadah diawali dengan salat Zuhur berjamaah, dilanjutkan khutbah Arafah yang disampaikan Amirul Hajj, kemudian diisi dengan doa, zikir, istigfar, dan munajat sebagai inti dari ibadah wukuf. Usai wukuf, seluruh jemaah akan diberangkatkan secara bertahap menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit sebelum melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya. Wukuf di Arafah menjadi momen paling penting dalam ibadah haji, sehingga para jemaah dianjurkan memperbanyak doa, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemerintah Arab Saudi juga memberikan apresiasi kepada Indonesia atas kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Proses pergerakan jemaah dari hotel menuju Arafah yang dilakukan dalam tiga tahap dilaporkan berjalan tertib, tepat waktu, dan tanpa kendala berarti. Selain itu, otoritas Arab Saudi mengimbau para jemaah untuk tetap berada di dalam tenda pada siang hari hingga waktu Asar karena suhu udara diperkirakan mencapai 42 hingga 43 derajat Celsius. Pemerintah Indonesia terus mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan mengingat rangkaian ibadah haji masih akan berlangsung hingga 13 Zulhijah. Dengan cuaca yang sangat panas dan aktivitas fisik yang padat, jemaah diharapkan memperbanyak minum, beristirahat yang cukup, serta mematuhi arahan petugas demi kelancaran pelaksanaan ibadah.
11.000 Jemaah Haji Indonesia Laksanakan Tarwiyah
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Sekitar 11.000 jemaah haji Indonesia, melakukan ibadah sunnah Tarwiyah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan pelaksanaan Tarwiyah bagi jemaah haji Indonesia tidak dilarang. Namun, ibadah sunnah tersebut tidak masuk dalam standar operasional prosedur (SOP) penyelenggaraan haji Indonesia tahun 2026. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, Erti Herlina, menjelaskan Tarwiyah merupakan amalan sunnah yang diyakini sebagian jemaah pernah dilakukan Rasulullah SAW saat menunaikan ibadah haji. “Untuk tarwiyah, sebetulnya tarwiyah itu di luar SOP operasional haji tahun 2026. Bahwa dalam SOP haji kita tidak ada tarwiyah,” kata Erti saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) Meski berada di luar program resmi, pemerintah tidak melarang jemaah yang ingin menjalankannya. “Tarwiyah itu diyakini oleh sebagian jemaah haji merupakan ibadah sunnah. Ibadah sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah ketika melaksanakan haji,” ujarnya. Karena berada di luar skema layanan haji reguler, jemaah yang mengikuti Tarwiyah wajib melapor terlebih dahulu dan menandatangani surat pernyataan yang diketahui petugas sektor. “Nah ini tetap tidak dilarang, tetapi kita tidak memfasilitasi. Siapapun yang melaksanakan tarwiyah dipersilahkan itu menjadi tanggung jawab masing-masing,” lanjutnya. Erti menegaskan seluruh pergerakan jemaah peserta Tarwiyah tetap berada dalam pengawasan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan serta memantau mobilitas jemaah. Berdasarkan data PPIH, hingga saat ini terdapat 11.750 jemaah haji Indonesia yang terdaftar mengikuti Tarwiyah. Dengan jumlah tersebut, pengawasan terhadap pergerakan jemaah menjadi perhatian khusus petugas. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
