Jemaah Dilarang Lempar Jumrah pada Pukul 10.00 hingga 14.00 WAS

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melarang jemaah haji Indonesia melempar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Hal ini disebabkan oleh cuaca sangat panas serta kondisi jamarat yang sangat padat. “Seluruh jemaah haji agar mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan bahwa pukul 10.00 pagi ini hingga pukul 14.00 untuk tidak bergerak keluar tenda,” kata Ketua PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj, Ian Heryawan. Ian mengatakan, larangan tersebut sejalan dengan larangan dari Kementerian Haji Arab Saudi. Ian menambahkan, larangan ini dibuat untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh jemaah haji, khususnya Indonesia. Dengan adanya instruksi ini, jemaah haji Indonesia harus tetap berada di dalam tenda dan mengikuti dengan ketat rencana pergerakan kerumunan yang telah disetujui, dengan pengawasan langsung oleh misi haji dan penyedia layanan untuk memastikan keselamatan mereka. “Kepatuhan akan dipantau dan dievaluasi secara ketat,” kata Ian. Sebagaimana diketahui, pada 27 Mei atau 10 Dzulhijjah ini, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia akan melakukan lempar jumrah aqabah. Sementara pada hari tasyrik, jemaah yang mengambil nafar awal akan kembali melempar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada 11 dan 12 Dzulhijjah, sedangkan yang mengambil nafar tsani akan melakukan tiga lempar jumrah hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Berdasarkan pantauan serta pengalaman di lapangan, cuaca di Makkah, khususnya di Mina dan sepanjang jalan menuju jamarat memang sangat terik. Selain itu, tingkat kepadatan jemaah yang mau melakukan jumrah aqabah juga sangat padat. Pada pelaksanaan lempar jumrah di tanggal 10 Dzulhijah kemarin, banyak jemaah asal Indonesia yang mengalami kelelahan, dehidrasi, bahkan beberapa jamaah pingsan. Jemaah haji Indonesia juga diimbau agar tidak memaksakan diri melempar jumrah saat jemaah dari negara lain sedang mendominasi di area jamarat. Jemaah Indonesia juga diimbau tidak melawan arus saat sedang berada di area tempat lempar jumrah. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Perkuat Respon Cepat Tanggap Darurat, Kemenhaj Siapkan Tim Mobile Crisis Rescue

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat layanan pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat. Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik. Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan MCR menjadi salah satu instrumen penting dalam penguatan layanan di titik-titik krusial pergerakan jemaah. “MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria. Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jemaah. Penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons cepat kondisi darurat, serta memberikan bantuan kepada jemaah yang membutuhkan penanganan segera. “MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya. Menurut Maria, keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan. Maria kembali mengimbau jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah. Kemenhaj juga meminta jemaah memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan di kawasan Jamarat. Pada waktu larangan, jemaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas. Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul. Pos pantau Satgas Mina ditempatkan di titik-titik strategis, antara lain Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta sejumlah pos pengarah pergerakan jemaah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah dari lontar jumrah. Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan pejalan kaki jemaah haji Indonesia menuju Jamarat, membantu pengaturan arus saat lontar jumrah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko. Maria menambahkan, kondisi cuaca di Mina pada siang hari masih cukup panas. Karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan. Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah, terus diperkuat sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai. Media Center Haji 2026, Dian Palupi, RTV.

Memahami Realitas Petani Lewat Film “Besok Kita Nanem Lagi”

Stigma bahwa petani identik dengan pekerjaan kotor, identik dengan kemiskinan, dan kurang menjanjikan masih banyak ditemui di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan utama yang diangkat dalam film dokumenter berjudul “Besok Kita Nanam Lagi”. Film dokumenter ini diputar dalam kegiatan Bekal Mapan yang diselenggarakan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan perhatian publik terhadap kondisi petani sekaligus masa depan sektor pertanian Indonesia. Berbagai persoalan yang dihadapi petani turut diangkat dalam film, mulai dari alih fungsi lahan, keterbatasan modal untuk membeli pupuk, hingga dampak perubahan iklim yang semakin mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Film ini mengisahkan kehidupan dua petani dari generasi berbeda yang tetap bertahan dan berinovasi di tengah berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah Ryan, petani muda asal Karawang yang juga menjadi tokoh dalam film dokumenter tersebut. Melalui aktivitasnya sebagai petani sekaligus pemain biola dan kreator konten, Ryan berupaya mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi petani. Ia ingin menunjukkan bahwa petani dapat menjadi profesi yang modern, kreatif, dan memiliki nilai kewirausahaan yang tinggi sehingga layak dilirik oleh generasi muda. Dalam diskusi setelah pemutaran film, sejumlah persoalan mendasar sektor pertanian turut menjadi sorotan. Di antaranya skala usaha pertanian yang relatif kecil, produktivitas yang masih rendah, serta terbatasnya pemanfaatan teknologi di kalangan petani. Sebagian besar petani juga masih bergantung pada tenaga kerja manual, terutama dalam proses penanaman. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat hasil pertanian belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara optimal. Para narasumber juga menyoroti fakta bahwa tidak semua petani merupakan pemilik lahan. Banyak di antaranya berstatus penyewa, penggarap, maupun buruh tani yang menghadapi tantangan berbeda dalam menjalankan usaha pertanian. Pemerintah pun disebut terus memperkuat program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebagai upaya menjaga keberadaan lahan pertanian produktif agar tidak terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Melalui film dokumenter “Besok Kita Nanam Lagi”, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami realitas kehidupan petani Indonesia sekaligus mendorong generasi muda untuk tidak ragu terjun dan berkontribusi di sektor pertanian.

[PUNCAK HAJI 2026] Jemaah Haji Mulai Bergerak Menuju Mina

Sahabat RTV, setelah menjalani mabit atau bermalam di Muzdalifah, jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Mina untuk melanjutkan rangkaian puncak ibadah haji. Proses perpindahan jemaah berlangsung secara bertahap sejak tengah malam hingga pagi hari guna memastikan perjalanan berjalan aman dan tertib. Jika pada malam sebelumnya kawasan Muzdalifah dipenuhi ribuan jemaah yang bermalam setelah wukuf di Arafah, kini area tersebut mulai lengang. Di sejumlah titik masih terlihat antrean jemaah yang menunggu giliran diberangkatkan menuju Mina menggunakan armada transportasi yang telah disiapkan oleh otoritas haji. Usai Wukuf, Jemaah Bermalam di Muzdalifah Sahabat RTV, mabit di Muzdalifah merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan puncak ibadah haji. Setelah bergerak dari Arafah pada Selasa sore usai salat Magrib, para jemaah menghabiskan malam di Muzdalifah untuk beristirahat, berzikir, berdoa, serta mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan dalam prosesi lempar jumrah di Mina. Perpindahan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dilakukan secara bertahap mulai setelah Magrib hingga tengah malam. Skema yang sama juga diterapkan saat pemindahan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina guna menghindari kepadatan dan memastikan kelancaran arus pergerakan jutaan jemaah. Menurut pantauan di lapangan, rombongan yang masih berada di Muzdalifah pada pagi hari merupakan gelombang terakhir jemaah Indonesia yang akan diberangkatkan menuju Mina. Bersiap Menjalani Lempar Jumrah Setibanya di Mina, jemaah akan menempati tenda yang telah disiapkan sesuai kloter dan sektor masing-masing. Di lokasi ini, jemaah akan melaksanakan salah satu rangkaian utama ibadah haji, yakni lempar jumrah. Prosesi lempar jumrah dilakukan dengan melempar batu kerikil ke tiga titik jumrah sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan. Ritual ini menjadi salah satu momen yang paling padat dalam pelaksanaan haji karena melibatkan jutaan jemaah dari berbagai negara. Untuk menjaga keselamatan dan kelancaran ibadah, petugas haji Indonesia bersama otoritas Arab Saudi telah menyiapkan berbagai skema pengaturan pergerakan jemaah, termasuk penempatan petugas khusus di kawasan Mina dan jalur menuju Jamarat. Menuju Tahap Akhir Ibadah Haji Sahabat RTV, setelah menyelesaikan rangkaian lempar jumrah di Mina, jemaah haji akan melanjutkan ibadah dengan melaksanakan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram. Tawaf Ifadah merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan sebelum rangkaian ibadah haji dinyatakan sempurna. Dengan berakhirnya prosesi di Mina dan Tawaf Ifadah, jemaah akan memasuki tahap akhir pelaksanaan ibadah haji sebelum nantinya kembali ke hotel pemondokan dan melanjutkan agenda ibadah lainnya di Tanah Suci. Pemerintah Indonesia melalui PPIH Arab Saudi terus mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan, mengikuti arahan petugas, serta memperhatikan jadwal pergerakan yang telah ditetapkan agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar, aman, dan khusyuk.

[UPDATE HAJI] 221 Ribu Jemaah Haji Indonesia Tiba di Arafah

Seluruh jemaah haji Indonesia kini telah berada di Arafah untuk bersiap menjalani wukuf, yang merupakan puncak ibadah haji. Setelah prosesi wukuf selesai, para jemaah akan bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam. Dari Padang Arafah, Arab Saudi, jurnalis RTV Dian Palupi melaporkan bahwa saat ini sekitar 221 ribu jemaah haji Indonesia telah berada di Arafah. Dari jumlah tersebut, sekitar 203 ribu merupakan jemaah haji reguler. Wukuf di Arafah dilaksanakan pada Selasa, 26 Mei 2026 atau bertepatan dengan 9 Zulhijah 1447 Hijriah, dimulai setelah salat Zuhur hingga terbenamnya matahari. Rangkaian ibadah diawali dengan salat Zuhur berjamaah, dilanjutkan khutbah Arafah yang disampaikan Amirul Hajj, kemudian diisi dengan doa, zikir, istigfar, dan munajat sebagai inti dari ibadah wukuf. Usai wukuf, seluruh jemaah akan diberangkatkan secara bertahap menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit sebelum melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya. Wukuf di Arafah menjadi momen paling penting dalam ibadah haji, sehingga para jemaah dianjurkan memperbanyak doa, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemerintah Arab Saudi juga memberikan apresiasi kepada Indonesia atas kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Proses pergerakan jemaah dari hotel menuju Arafah yang dilakukan dalam tiga tahap dilaporkan berjalan tertib, tepat waktu, dan tanpa kendala berarti. Selain itu, otoritas Arab Saudi mengimbau para jemaah untuk tetap berada di dalam tenda pada siang hari hingga waktu Asar karena suhu udara diperkirakan mencapai 42 hingga 43 derajat Celsius. Pemerintah Indonesia terus mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan mengingat rangkaian ibadah haji masih akan berlangsung hingga 13 Zulhijah. Dengan cuaca yang sangat panas dan aktivitas fisik yang padat, jemaah diharapkan memperbanyak minum, beristirahat yang cukup, serta mematuhi arahan petugas demi kelancaran pelaksanaan ibadah.

11.000 Jemaah Haji Indonesia Laksanakan Tarwiyah

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Sekitar 11.000 jemaah haji Indonesia, melakukan ibadah sunnah Tarwiyah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan pelaksanaan Tarwiyah bagi jemaah haji Indonesia tidak dilarang. Namun, ibadah sunnah tersebut tidak masuk dalam standar operasional prosedur (SOP) penyelenggaraan haji Indonesia tahun 2026. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, Erti Herlina, menjelaskan Tarwiyah merupakan amalan sunnah yang diyakini sebagian jemaah pernah dilakukan Rasulullah SAW saat menunaikan ibadah haji. “Untuk tarwiyah, sebetulnya tarwiyah itu di luar SOP operasional haji tahun 2026. Bahwa dalam SOP haji kita tidak ada tarwiyah,” kata Erti saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) Meski berada di luar program resmi, pemerintah tidak melarang jemaah yang ingin menjalankannya. “Tarwiyah itu diyakini oleh sebagian jemaah haji merupakan ibadah sunnah. Ibadah sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah ketika melaksanakan haji,” ujarnya. Karena berada di luar skema layanan haji reguler, jemaah yang mengikuti Tarwiyah wajib melapor terlebih dahulu dan menandatangani surat pernyataan yang diketahui petugas sektor. “Nah ini tetap tidak dilarang, tetapi kita tidak memfasilitasi. Siapapun yang melaksanakan tarwiyah dipersilahkan itu menjadi tanggung jawab masing-masing,” lanjutnya. Erti menegaskan seluruh pergerakan jemaah peserta Tarwiyah tetap berada dalam pengawasan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan serta memantau mobilitas jemaah. Berdasarkan data PPIH, hingga saat ini terdapat 11.750 jemaah haji Indonesia yang terdaftar mengikuti Tarwiyah. Dengan jumlah tersebut, pengawasan terhadap pergerakan jemaah menjadi perhatian khusus petugas. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Hari Senin, 25 Mei 2026, bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijah 2026, jemaah haji Indonesia, mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel tempat menginap, menuju ke Arafah. Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan agar jemaah Indonesia benar-benar menyiapkan fisik dab mentalnya dalam menjalani puncak ibadah haji. “Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Ulfa Assegaf, di Jakarta Maria menjelaskan, pergerakan jemaah menuju Arafah dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Maria mengimbau, agar jemaah mengikuti jadwal yang telah ditentukan “Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” lanjutnya. Selain kesiapan teknis, Kemenhaj juga mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kepatuhan terhadap ketentuan ihram selama menjalani rangkaian ibadah. Maria juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama fase Armuzna yang membutuhkan stamina tinggi dan mobilitas intensif. Maria juga mengingatkan agar jemaah segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan. “Jangan memaksakan diri. Bila merasa lemas,u pusing, sesak napas, atau mengalami gangguan kesehatan lainnya, segera hubungi petugas kesehatan. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat berjalan aman, lancar, dan sempurna,” tegas Maria. Untuk mendukung kelancaran operasional, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga telah ditempatkan di berbagai titik layanan. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Sekitar 400 Jemaah Lansia Ikuti Safari Wukuf

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Sekitar 400 jemaah lansia Indonesia diikutkan dalam program Safari Wukuf yang dijalankan Kementerian Haji dan Umrah. Program safari wukuf ini, untuk mengakomodasi jemaah lansia agar tetap dapat mengikuti ibadah wukuf di Arafah, yang merupakan puncak sekaligus rukun utama ibadah haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah. “Total jamaah haji yang diberikan kepada kami kurang lebih 300-400 jemaah (untuk Safari Wukuf),” kata Kepala Bidang (Kabid) Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi, Suviyanto Dalam program ini, sebelum menjalani  wukuf, masing-masing jemaah dijemput dari hotel kediaman oleh petugas haji, yang tersebar di berbagai sektor, untuk dikumpulkan di hotel transit yakni Hotel Durat Al Mashaeir 2. Di hotel transit ini, para jemaah beristirahat selama 2 malam sebelum akhirnya diberangkatkan ke Arafah. Di hotel transit, jemaah diberikan layanan fisik, psikologis, sosial, dan juga layanan kesehatan. Jemaah juga mendapatkan layanan bimbingan ibadah. Pada tanggal 9 Dzulhijah atau Selasa 26 Mei 2026, para jemaah akan dibawa menuju Arafah menggunakan 18  bus. Setelah menjalankan Safari Wukuf, lanjutnya, para petugas haji diberikan kesempatan  untuk melakukan lontar jumrah. Adapun syarat jemaah yang dapat diikutkan program Safari Wukuf adalah jemaah kategori lansia, lansia tanpa pendamping dan lansia yang membutuhkan layanan tambahan. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Pastikan Tak Ada KBIHU Patok Kavling, WamenHaj Sidak Mina

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau langsung kesiapan fasilitas dan layanan di tenda-tenda Mina, Arab Saudi, guna memastikan kenyamanan dan keamanan jemaah calon haji Indonesia selama menjalani puncak ibadah haji. “Yang jelas hari ini saya dan kawan-kawan meninjau pembersihan kavling-kavling yang dilakukan oleh KBIHU atau oknum tertentu. Kedua, kita memastikan jumlah tenda sesuai dengan kebutuhan, jadi tidak ada jamaah calon haji yang tidak memperoleh tenda, tempat tidur, dan tempat istirahat,” kata Wamenhaj di Makkah, Sabtu (23/5). Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencopot penanda yang dipasang secara sepihak oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) di sejumlah tenda Arafah. Sejumlah tenda yang dikelola oleh syarikah Rakeen maupun Duyuful Bait didapati memiliki tempelan nama kloter dan tulisan KBIHU. Pada kertas yang ditempel di pintu masuk tenda, pihak KBIHU bahkan mencantumkan logo syarikah agar terkesan sebagai penempatan resmi. Dalam peninjauan tersebut, Wamenhaj juga mengecek langsung ketersediaan dan kelaikan fasilitas kamar mandi serta toilet yang akan digunakan oleh jamaah calon haji di Mina. Setelah memastikan kelengkapan fasilitas tenda, Wamenhaj bersama rombongan berjalan kaki dari Markas 12, yang merupakan lokasi tenda jamaah calon haji Indonesia terjauh menuju area pelontaran jumrah atau Jamarat. Rata-rata jarak tempuh dari Markaz 12 ke Jamarat itu bolak-balik sekitar 7 kilometer. Menurut Wamenhaj, pergerakan di Mina membutuhkan ketahanan fisik yang prima karena tidak ada fasilitas kendaraan yang dapat digunakan oleh jamaah. Bagi jamaah calon haji yang mengambil pilihan nafar awal, total jarak tempuh berjalan kaki akan mencapai sekitar 21 kilometer. Sementara bagi yang mengambil nafar tsani, jaraknya akan bertambah menjadi 28 kilometer. Menghadapi rute pejalan kaki yang cukup menguras tenaga tersebut, Wamenhaj mengimbau jamaah calon haji untuk memaksimalkan waktu luang yang ada saat ini untuk beristirahat. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Jemaah Dirawat Jelang Armuzna Menurun, Karena Istitha’ah Lebih Ketat

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jumlah jemaah haji Indonesia yang menjalani perawatan di rumah sakit yang ada di Arab Saudi menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data terakhir, saat ini 130 jemaah, dirawat di beberapa rumah sakit di Arab Saudi. Jumlah ini menurun drastis, dibandingkan periode yang sama pada musim haji tahun 2025 lalu, yang mencapai 400 jemaah. Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyebut penurunan angka jemaah yang dirawat salah satunya dipengaruhi penerapan istitha’ah kesehatan yang lebih ketat di Tanah Air. “Salah satu alasannya karena pemeriksaan istitha’ah kesehatan di tanah air relatif lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Sehingga hari ini yang dirawat turun drastis, yang meninggal juga turun drastis,” ujar Gus Irfan usai berkunjung ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia Aziziyah. Gus Irfan mengatakan, pemerintah masih terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi terkait penanganan jemaah yang masih menjalani perawatan, termasuk kemungkinan pelaksanaan safari wukuf atau mekanisme lain yang tetap sesuai regulasi setempat. “Safari wukuf secara resmi memang tidak diperbolehkan oleh otoritas Saudi, tetapi kita akan mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak melanggar regulasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Saudi,” katanya. Dalam kunjungannya ke KKHI Aziziyah, Gus Irfan bersama tim Amirul Hajj meninjau langsung kesiapan tenaga kesehatan serta pelayanan kesehatan yang telah berjalan selama musim haji. Cucu pendiri NU ini mengakui terdapat tantangan terkait regulasi kesehatan di Arab Saudi yang dinamis dan cukup ketat. Namun, menurut dia, tenaga kesehatan Indonesia mampu menyesuaikan diri tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada jemaah. Untuk mendukung pelayanan saat puncak haji, pemerintah Indonesia juga menyiapkan sejumlah klinik darurat di titik-titik Armuzna. MCH 2026, Dian Palupi, RTV

error: Content is protected !!