MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji Indonesia gelombang kedua mulai diberangkatkan ke Madinah dari Makkah hari Minggu, 7 Juni 2026. Tahap pertama ada 14 kloter dengan perkiraan jemaah sebanyak 5.499 orang. Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Ihsan Faisal, mengatakan, fase pendorongan jemaah haji dari Makkah ke Madinah dilakukan secara terjadwal, mulai jam 7:00 pagi Waktu Arab Saudi hingga terakhir pemberangkatan pukul 18.00 sore WAS. “Tidak ada perjalanan malam. Kecuali kalau waktu sampai ke Madinah mungkin malam. Kalau yang start dari sininya sore gitu,” kata Ihsan kepada Tim Media Center Haji (MCH). Ihsan menambahkan terdapat prosedur standar atau SOP yang sudah ditetapkan, misalnya terkait semua dokumen jemaah yang sudah harus disiapkan terlebih dahulu. Petugas sektor nanti akan koordinasi dengan pengurus markaz atau syarikah. “Modelnya sama, seperti halnya kedatangan jemaah dari Madinah ke Makkah pada saat kedatangan,” kata Faisal. Menurut Ihsan, sehari sebelum pemberangkatan, dokumen jemaah, terutama kloter-kloter awal yang dijadwalkan berangkat sudah menyiapkan dokumen-dokumen yang ada di syarikah. Sama seperti saat jemaah gelombang pertama dari Madinah ke Mekkah, koper jemaah pun dikirim terpisah. Untuk koper besar, akan diberangkatkan bareng dengan jemaah pakai kendaraan berbeda. Setelah dokumen dan koper beres semua, maka jemaah akan diberangkatkan dari hotel sesuai jadwal yang telah disusun. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Author Archives: Admin News RTV
Menhaj Apresiasi Stakeholder Penyelenggaraan Haji dan Dorong Peningkatan Layanan Tahun Depan
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf menghadiri agenda Exit Meeting Amirul Hajj 2026 yang digelar di Kantor Urusan Haji Jeddah. Pertemuan ini menjadi forum evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 sekaligus penyampaian sejumlah rekomendasi perbaikan layanan untuk tahun mendatang. Menhaj menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan haji tahun ini, yang dinilai berjalan baik dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Menhaj menambahkan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja sama banyak pihak, mengingat jemaah haji Indonesia datang dari berbagai daerah dengan latar belakang, karakter, dan kebutuhan yang beragam. “Penyelenggaraan haji tahun ini tidak mudah. Jemaah kita datang dari seluruh Indonesia dengan berbagai macam latar belakang dan keberagaman. Alhamdulillah, dengan kerja sama semua pihak, prosesnya dapat terlaksana dengan baik,” ujar Menhaj. Menhaj menegaskan, Kementerian Haji dan Umrah tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelenggarakan layanan haji. Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah bekerja keras sejak fase persiapan, operasional, puncak haji, hingga pemulangan jemaah. Sementara itu, Ketua PPIH Arab Saudi, Ian Heriyawan, menyampaikan sejumlah capaian dan catatan operasional haji 2026, diantaranya, penyerapan kuota haji Indonesia yang mencapai 99,6 persen, dengan sekitar 600 kuota yang tidak terserap. Dari sisi pemulangan, sebanyak 78 kloter atau sekitar 30.500 jemaah telah kembali ke Tanah Air. Ian menekankan, pada pelaksanaan haji tahun depan, harus lebih menekankan pada penguatan kerja sama antara petugas haji Indonesia dan syarikah. Ian menambahkan, pemerintah perlu menyiapkan mitigasi terhadap kebijakan Arab Saudi, terutama terkait penunjukan syarikah sebagai mitra layanan jemaah. Sementara itu, Sekretaris Amirul Hajj, Ilfi Nurdiana, menyampaikan 10 poin rekomendasi untuk peningkatan layanan haji ke depan. Pertama, peningkatan layanan di Mina, khususnya terkait kapasitas tenda dan penyediaan ruang privasi bagi jemaah perempuan agar tetap dapat menjaga aurat dengan nyaman. Kedua, peningkatan ketepatan waktu layanan transportasi pra dan pasca-Armuzna. Ketiga, percepatan operasional bus shalawat pasca-Armuzna dengan dasar persetujuan dari Kerajaan Arab Saudi agar jemaah dapat melaksanakan tawaf ifadah dan tawaf wada dengan lebih lancar. Keempat, efisiensi layanan berbasis kedekatan hotel dengan Masjidil Haram. Kelima, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri dalam layanan katering jemaah, baik melalui dapur milik Indonesia maupun bahan makanan yang diimpor dari Indonesia. Keenam, peningkatan pelatihan bagi petugas kloter dan petugas daerah agar kualitas layanan di lapangan semakin seragam dan sesuai standar. Ketujuh, penguatan standar layanan petugas sesuai tugas dan fungsi masing-masing, termasuk penambahan jumlah pembimbing ibadah laki-laki agar layanan tetap berjalan ketika petugas perempuan berhalangan. Delapan, penguatan diplomasi layanan kesehatan dan akomodasi Armuzna, terutama peningkatan fasilitas tenda, penambahan jumlah toilet bagi perempuan dan lansia, serta izin safari wukuf bagi jemaah yang sakit parah. Kesembilan, penguatan layanan haji ramah lingkungan, khususnya di kawasan Armuzna, dengan mengurangi sampah plastik melalui penyediaan tumbler dan dispenser air minum. Kesepiluh, perlu layanan jasa dorong yang terintegrasi, nyaman, dan aman bagi lansia dan jemaah risiko tinggi, sehingga tidak terjadi fluktuasi harga. Selain itu, temuan audit internal maupun eksternal juga menurun, menunjukkan tata kelola penyelenggaraan haji yang semakin transparan dan akuntabel. Standar layanan atau Service Level Agreement (SLA) yang semakin jelas dan terukur, serta indikator kesehatan jemaah yang membaik, menjadi catatan positif untuk memperkuat kualitas pelayanan haji pada tahun berikutnya. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Kemenhaj Soroti Penempatan Maktab, Jemaah Haji Khusus, Jalan Hingga 7 Kilometer di Mina
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menyoroti penempatan maktab jemaah haji khusus di Mina yang dinilai kurang menguntungkan pada penyelenggaraan haji khusus tahun ini. Sejumlah jemaah harus menempuh jarak lebih jauh setelah melaksanakan lempar jumrah karena lokasi tenda tidak berada di kawasan yang strategis. Direktur Pelayanan Haji Khusus Kemenhaj RI, Tuti Rianingrum, mengatakan perubahan sistem layanan yang diterapkan syarikah memengaruhi penempatan jemaah haji khusus Indonesia di Mina. Tuti mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia dapat memperoleh blok penempatan yang berdekatan sehingga jemaah berada dalam satu kawasan yang relatif strategis. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada musim haji tahun ini. “Kalau tahun-tahun sebelumnya Indonesia itu bisa ngeblok. Blok yang dekat sekali dengan jamarat itu bisa diberikan kepada jemaah haji Indonesia,” sebut Tuti pada tim Media Center Haji. Pada sistem yang berlaku tahun ini membuat penempatan maktab haji khusus tersebar di beberapa lokasi. Sebagian jemaah mendapatkan posisi yang cukup dekat dengan area jamarat, sementara sebagian lainnya menempati lokasi yang lebih jauh. “Untuk Mina, maktab haji khusus itu terpisah. Jadi ada yang dapat di tengah dan ada yang dapat di pinggir,” ujarnya. Kondisi tersebut memunculkan kendala saat puncak pelaksanaan ibadah di Mina. Jemaah memang dapat mencapai lokasi lempar jumrah dengan relatif mudah, tapi harus menempuh perjalanan yang lebih panjang saat kembali ke tenda. “Jemaah ketika lempar jumrah dekat bisa melakukan pelemparan, tapi begitu pulang itu harus memutar dan jaraknya sangat jauh, sampai tujuh kilometer,” ucap Tuti. Selain persoalan jarak, jemaah juga menghadapi pembatasan akses di sejumlah jalur menuju tenda. Tuti menyebut, petugas mengarahkan sebagian jemaah untuk memutar karena tidak dapat melewati rute tertentu. Masukan mengenai penempatan maktab menjadi salah satu evaluasi yang disampaikan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) pada pemerintah. PIHK berharap, Indonesia dapat memperoleh kembali lokasi yang lebih terkonsentrasi dan dekat dengan area utama aktivitas jemaah di Mina pada musim haji mendatang. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Siaga Hadapi Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta layanan kesehatan haji di Madinah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kedatangan jemaah haji Indonesia gelombang kedua. Dahnil mengatakan, jemaah gelombang kedua perlu mendapatkan perhatian khusus karena mereka tiba di Madinah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Makkah dan Armuzna. Kondisi tersebut berpotensi membuat jemaah mengalami kelelahan fisik yang cukup tinggi. “Hati-hati, ini gelombang kedua. Mereka pasti sudah capek di sana, sudah berat. Apalagi setelah puncak haji, kemudian nanti kembali ke sini, ada yang menjalankan arbain dan aktivitas lainnya. Itu bisa akumulatif,” ujar Dahnil di KKHI Madinah. Wamen meminta petugas KKHI Madinah dan tim kesehatan di sektor memperkuat koordinasi agar kondisi jemaah dapat terpantau sejak awal. “Harus standby dan harus aktif. Selain layanan di sini, tim visitasi ke sektor juga harus berjalan,” katanya. Dalam kunjungan inj, Wamenhaj juga meninjau kesiapan layanan, ketersediaan obat, serta dukungan distribusi kebutuhan kesehatan untuk sektor-sektor di Madinah. Wamenhaj juga mengapresiasi petugas kesehatan haji yang terus bersiaga melayani jemaah selama masa operasional haji. Ia meminta seluruh petugas menjaga stamina dan terus bekerja dengan semangat pelayanan. Pemerintah Indonesia, melalui Kemenhaj memastikan penguatan layanan kesehatan di Madinah menjadi bagian penting dalam fase pasca-Armuzna dan pergerakan jemaah gelombang kedua. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
MADINAH, Lensa Indonesia RTV – Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, melakukan kunjungan ke Saudi German Hospital di Madinah untuk meninjau pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia yang sedang menjalani perawatan. Dalam kunjungan ini, Menteri yang biasa disapa Gus Irfan, mengevaluasi pelaksanaan kerja sama layanan kesehatan antara penyelenggara haji Indonesia dan rumah sakit di Arab Saudi yang berjalan selama musim haji tahun ini. Gus Irfan mengakui, kerja sama dengan layanan kesehatan ini memberikan manfaat besar dalam mendukung penanganan jemaah yang membutuhkan perawatan medis. Namun, karena baru pertama kali diterapkan, masih terdapat sejumlah catatan yang perlu menjadi bahan evaluasi. “Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah komunikasi dan koordinasi dalam pelaksanaan kerja sama ini. Karena baru pertama kali dilakukan, tentu ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, termasuk terkait proses rujukan pasien dan kepastian waktu pemulangan mereka,” ujar Menhaj Gus Irfan menambahkan, ke depannya, kerja sama dengan rumah sakit di Arab Saudi perlu terus diperkuat agar dapat memberikan layanan yang lebih luas dan lebih baik bagi jemaah haji Indonesia. Dalam kesempatan itu, Menhaj juga menyoroti penanganan jemaah yang masih menjalani perawatan menjelang fase pemulangan. Menurutnya, tidak semua jemaah yang sakit harus dipindahkan dari Makkah ke Madinah. Pihaknya telah membahas berbagai opsi penanganan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien. Jika jemaah dipindahkan ke Madinah tetapi tetap harus menjalani perawatan di rumah sakit, maka manfaat perpindahan tersebut perlu dipertimbangkan secara matang. “Kami membahas apakah jemaah yang sedang dirawat perlu dipindahkan ke Madinah atau tidak. Jika di Madinah mereka tetap berada di rumah sakit dan tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah, maka yang lebih penting adalah memastikan proses perawatan dan pemulihan berjalan dengan baik,” jelasnya. Menurut Menhaj, keputusan terkait pemindahan maupun pemulangan jemaah akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jemaah yang kondisinya memungkinkan dapat dipindahkan ke Madinah, sementara mereka yang masih membutuhkan perawatan intensif akan tetap dirawat hingga kondisi kesehatannya membaik. Menhaj menambahkan bahwa pelayanan kepada jemaah tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis dan spiritual mereka selama berada di Tanah Suci. Karena itu, setiap keputusan yang diambil harus mampu memberikan manfaat terbaik bagi jemaah secara menyeluruh. MCH 2026, Dian Palupi, RTV
Kemenhaj Imbau Pemda Tak Gelar Seremoni
ARAB SAUDI, Lensa Indonesia RTV – Kementerian Haji dan Umrah mengimbau pemerintah daerah (Pemda) untuk tidak menggelar terlalu banyak acara seremonial saat penyambutan jemaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci. Imbauan ini disampaikan agar para jemaah dapat segera kembali ke rumah, bertemu keluarga, dan beristirahat setelah perjalanan panjang ibadah haji. “Mohon dipahami oleh para pejabat di daerah agar tidak terlalu banyak acara-acara seremonial karena jamaah haji kita itu sudah cukup letih, sudah cukup capek agar kemudian bisa dipercepat untuk kembali ke kediamannya masing-masing,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak Dahnil menambahkan, Kemenhaj telah bekerja sama dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di sejumlah bandara. Dengan sistem tersebut, proses pemeriksaan dokumen tidak lagi dilakukan secara manual karena telah menggunakan teknologi face recognition di gerbang kedatangan. “Jadi di gate itu langsung dikenali wajahnya, tidak ada pemeriksaan-pemeriksaan lagi, langsung menuju bis dan bisa langsung kembali ke demarkasi di asrama haji, kemudian kembali ke rumahnya masing-masing,” ucap politisi Partai Gerindra itu. Dahnil juga meminta kepala daerah memahami kondisi jemaah yang umumnya dalam keadaan lelah setelah perjalanan panjang dari Arab Saudi ke Indonesia. Kemenhaj juga menginstruksikan kepala kantor wilayah (kanwil) Kemenhaj di seluruh provinsi agar tidak menggelar penyambutan dengan pidato-pidato panjang. Namun Dahnil tetap mengapresiasi pemerintah daerah atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan dalam penyelenggaraan haji, baik saat keberangkatan maupun kepulangan jemaah. MCH 2026. Dian Palupi. RTV
Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji
MADINAH, Lensa Indonesia RTV – Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf mendorong perluasan ekspor komoditas pangan nasional ke Arab Saudi, khususnya untuk mendukung kebutuhan katering jemaah haji. Pria yang disapa Gus Irfan ini mengungakapkan hal ini saat melakukan peninjauan ke dua penyedia layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah, yakni Meez Mary Catering dan Uhud Taiba for Catering. Dalam kunjungan itu, pemerintah tidak hanya memastikan kualitas layanan konsumsi bagi jemaah haji, tetapi juga melihat potensi pemanfaatan komoditas pangan asal Indonesia dalam rantai pasok katering di Tanah Suci. Sejumlah komoditas seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga bumbu masakan dinilai memiliki peluang besar untuk masuk pasar katering haji Arab Saudi. “Kita melihat ada banyak komoditas yang sebenarnya kita miliki. Seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, dan bumbu masakan yang selama ini menjadi bagian dari konsumsi jemaah,” ujar Gus Irfan Dalam kunjungannya, Gus Irfan menyoroti sebagian produk yang digunakan di dapur katering sebenarnya berasal dari Indonesia, namun belum sepenuhnya tercatat sebagai produk nasional karena masuk melalui negara lain. Menurutnya, produk seperti santan dan ikan patin yang digunakan saat ini diduga berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan dengan merek negara lain atau dipasok melalui jalur distribusi berbeda. Selain peluang, Menhaj juga mengakui adanya tantangan besar dalam pengembangan ekspor komoditas pangan ke Arab Saudi, terutama terkait biaya logistik dan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pemerintah sebelumnya telah mencoba mengirim sejumlah komoditas seperti beras dan bumbu masakan untuk kebutuhan katering haji. Namun, pengiriman tersebut belum berjalan optimal akibat tingginya biaya transportasi dan situasi kawasan yang belum stabil. Meski demikian, ia menilai potensi pasar katering haji dan umrah sangat besar karena melibatkan jutaan jemaah setiap tahun, sehingga dapat menjadi peluang strategis bagi produk pangan Indonesia. “Peluangnya sangat bagus. Kita punya semua komoditas itu. Tinggal bagaimana menyesuaikan standar dan aturan agar bisa masuk ke pasar Arab Saudi,” katanya. Menhaj berharap stabilitas kawasan dan perbaikan rantai logistik global dapat membuka jalan lebih luas bagi masuknya komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi, sekaligus memperkuat peran pelaku usaha nasional dalam ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah. MCH 2026, Dian Palupi, RTV
Dahnil: Jangan Anggap Remeh Fase Pemulangan Jemaah Haji
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Proses pemulangan jemaah haji Indonesia, sudah dimulai sejak 1 Juni kemarin. Walaupun sudah mulai proses pemulangan, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak tetap meminta seluruh petugas haji memberikan pelayanan maksimal hingga seluruh jemaah kembali ke Indonesia dengan selamat. Dahnil menambahkan, fase pemulangan merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan ibadah haji yang memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari seluruh petugas. “Alhamdulillah, sebagian jemaah kloter pertama sudah mulai tiba di Tanah Air dengan lancar. Hari ini juga ada sekitar 17 kloter yang dijadwalkan pulang secara bertahap. Mudah-mudahan seluruh proses berjalan baik hingga akhir masa operasional haji,” kata Dahnil. Dahnil mengingatkan, para petugas agar tidak mengendurkan pelayanan meskipun rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) telah selesai. Menurutnya, banyak pihak sering menganggap tugas petugas telah berakhir setelah puncak haji. Padahal, proses pemulangan justru menjadi salah satu fase yang sangat menentukan kenyamanan dan keselamatan jemaah. “Saya selalu mengingatkan petugas jangan kendor. Biasanya setelah Armuzna muncul anggapan tugas sudah hampir selesai. Padahal masa pemulangan juga sangat krusial karena jemaah masih membutuhkan pelayanan terbaik hingga tiba di rumah masing-masing,” ujarnya. Selain memastikan kelancaran transportasi dan keberangkatan jemaah, petugas juga diminta terus mengawasi layanan konsumsi dan akomodasi bagi jemaah yang masih berada di Tanah Suci menunggu jadwal kepulangan. Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga mengimbau jemaah untuk mematuhi ketentuan maskapai terkait barang bawaan. Pemerintah berharap seluruh proses pemulangan jemaah haji Indonesia tahun ini dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga kloter terakhir kembali ke Tanah Air. MCH 2026, Dian Palupi, RTV
Dam Jemaah Indonesia Nyaris 150 Ribu, Kemenhaj Apresiasi Tata Kelola Adahi
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Pada musim haji tahun 2026 ini, pelaksanaan dam (hadyu) jemaah haji Insonesia, mencatat capaian yang menggembirakan. Hampir 150 ribu jemaah haji asal Indonesia, menyalurkan damnya, melalui program resmi Adahi yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. Selain menjamin pengelolaan yang aman dan akuntabel, daging hasil penyembelihan hewan dam tahun ini juga diprioritaskan untuk membantu warga Palestina. Koordinator Bidang Bimbingan Ibadah dan Dam PPIH Arab Saudi, M. Afief Mundzir, mengatakan proses penyembelihan hewan dam pada Hari Tarwiyah berlangsung lancar dan menjadi bukti bahwa pengelolaan layanan haji yang kini berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah mampu memberikan kemudahan bagi jemaah Indonesia. “Alhamdulillah, tahun ini jemaah haji kita bisa menyalurkan dam melalui saluran resmi yang ditetapkan otoritas Kerajaan Arab Saudi. Jumlahnya sangat besar dan ini menjadi pembuktian bahwa layanan haji dapat dikelola dengan baik, aman, nyaman, dan akuntabel,” ujar Afief. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah jemaah Indonesia yang menunaikan dam melalui Adahi mencapai sekitar 150 ribu orang. Angka tersebut dinilai sangat signifikan dan menunjukkan tingginya kepercayaan jemaah terhadap mekanisme resmi yang disediakan pemerintah Saudi. Direktur Bina Jemaah Haji Reguler Kementerian Haji dan Umrah ini menegaskan, penggunaan jalur resmi memberikan kepastian bahwa proses penyembelihan dilakukan sesuai ketentuan syariat, sekaligus memastikan distribusi daging berlangsung secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, Afief mengungkapkan bahwa daging hasil penyembelihan hewan dam dari jemaah Indonesia akan diprioritaskan untuk masyarakat Palestina. Kebijakan tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan sekaligus tindak lanjut arahan Menteri Haji dan Umrah serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia. Dengan jumlah partisipasi yang hampir mencapai 150 ribu jemaah, Indonesia kembali menjadi salah satu kontributor terbesar dalam program dam resmi Adahi pada musim haji tahun ini. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
Wamenhaj: Petugas Jangan Kendor Kawal Jemaah, Walau Armuzna Telah Selesai
MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Petugas haji diminta tetap waspada, walaipun masa puncak haji telah selesai. Wakil Menteri Haji dan Umrah sekaligus Naib Amirul Hajj Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, menginstruksikan seluruh jajaran Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi 2026, untuk tidak mengendurkan pengawasan dan perlindungan kepada jemaah haji Indonesia pasca-selesainya fase krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Langkah ini ditempuh, guna mencegah potensi lonjakan angka fatalitas medis akibat akumulasi kelelahan fisik jemaah yang sangat tinggi. Seluruh lini pelayanan, baik di hotel pemondokan, konsumsi kemaah hingga layanan kesehatan bagi jemaah harus diperhatikan dengan baik. Evaluasi berkala menunjukkan bahwa periode transisi setelah kembali dari Mina merupakan titik rawan di mana daya tahan tubuh jemaah, khususnya kelompok lansia, mengalami penurunan drastis. Dahnil melempar peringatan keras bahwa berakhirnya fase ritual Armuzna bukan berarti tugas kedinasan operasional haji melonggar. Sebaliknya, tensi kesiapsiagaan tim medis dan petugas sektor justru wajib dinaikkan ke level tertinggi untuk mendeteksi gangguan kesehatan jemaah secara dini. “Mohon tidak kendor dalam mengawal dan menjaga jemaah haji kita. Puncak Armuzna memang sudah selesai,” tegas Dahnil. Naib Amirulhaj membeberkan indikasi empiris di mana grafik angka kematian jemaah haji reguler secara historis rentan merangkak naik secara signifikan justru pada pekan pertama pasca-Armuzna. Dahnil menuntut tim medis untuk tetap waspada dan konsisten menyisir kamar-kamar jemaah, guna melancarkan pengawasan klinis yang ketat. Seluruh pimpinan kloter, pimpinan sektor, hingga jajaran pejabat teras Kemenhaj diperintahkan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kehadiran negara di tengah jemaah. Memasuki fase pra-pemulangan ke tanah air, Kemenhaj RI mengunci pola penanganan keluhan jemaah dengan parameter performa kerja yang kaku. Dahnil juga menegaskan, apabila terjadi kekurangan dan kekhilafan di pihak internal, maka petugas harus segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan tulus kepada jemaah. Sikap responsif dan transparan ini dinilai esensial guna menjaga kredibilitas, muruah, serta integritas penyelenggaraan ibadah haji. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.
