Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Hari Senin, 25 Mei 2026, bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijah 2026, jemaah haji Indonesia, mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel tempat menginap, menuju ke Arafah. Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan agar jemaah Indonesia benar-benar menyiapkan fisik dab mentalnya dalam menjalani puncak ibadah haji. “Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Ulfa Assegaf, di Jakarta Maria menjelaskan, pergerakan jemaah menuju Arafah dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Maria mengimbau, agar jemaah mengikuti jadwal yang telah ditentukan “Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” lanjutnya. Selain kesiapan teknis, Kemenhaj juga mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kepatuhan terhadap ketentuan ihram selama menjalani rangkaian ibadah. Maria juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama fase Armuzna yang membutuhkan stamina tinggi dan mobilitas intensif. Maria juga mengingatkan agar jemaah segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan. “Jangan memaksakan diri. Bila merasa lemas,u pusing, sesak napas, atau mengalami gangguan kesehatan lainnya, segera hubungi petugas kesehatan. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat berjalan aman, lancar, dan sempurna,” tegas Maria. Untuk mendukung kelancaran operasional, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga telah ditempatkan di berbagai titik layanan. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Sekitar 400 Jemaah Lansia Ikuti Safari Wukuf

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Sekitar 400 jemaah lansia Indonesia diikutkan dalam program Safari Wukuf yang dijalankan Kementerian Haji dan Umrah. Program safari wukuf ini, untuk mengakomodasi jemaah lansia agar tetap dapat mengikuti ibadah wukuf di Arafah, yang merupakan puncak sekaligus rukun utama ibadah haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah. “Total jamaah haji yang diberikan kepada kami kurang lebih 300-400 jemaah (untuk Safari Wukuf),” kata Kepala Bidang (Kabid) Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi, Suviyanto Dalam program ini, sebelum menjalani  wukuf, masing-masing jemaah dijemput dari hotel kediaman oleh petugas haji, yang tersebar di berbagai sektor, untuk dikumpulkan di hotel transit yakni Hotel Durat Al Mashaeir 2. Di hotel transit ini, para jemaah beristirahat selama 2 malam sebelum akhirnya diberangkatkan ke Arafah. Di hotel transit, jemaah diberikan layanan fisik, psikologis, sosial, dan juga layanan kesehatan. Jemaah juga mendapatkan layanan bimbingan ibadah. Pada tanggal 9 Dzulhijah atau Selasa 26 Mei 2026, para jemaah akan dibawa menuju Arafah menggunakan 18  bus. Setelah menjalankan Safari Wukuf, lanjutnya, para petugas haji diberikan kesempatan  untuk melakukan lontar jumrah. Adapun syarat jemaah yang dapat diikutkan program Safari Wukuf adalah jemaah kategori lansia, lansia tanpa pendamping dan lansia yang membutuhkan layanan tambahan. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Pastikan Tak Ada KBIHU Patok Kavling, WamenHaj Sidak Mina

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau langsung kesiapan fasilitas dan layanan di tenda-tenda Mina, Arab Saudi, guna memastikan kenyamanan dan keamanan jemaah calon haji Indonesia selama menjalani puncak ibadah haji. “Yang jelas hari ini saya dan kawan-kawan meninjau pembersihan kavling-kavling yang dilakukan oleh KBIHU atau oknum tertentu. Kedua, kita memastikan jumlah tenda sesuai dengan kebutuhan, jadi tidak ada jamaah calon haji yang tidak memperoleh tenda, tempat tidur, dan tempat istirahat,” kata Wamenhaj di Makkah, Sabtu (23/5). Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencopot penanda yang dipasang secara sepihak oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) di sejumlah tenda Arafah. Sejumlah tenda yang dikelola oleh syarikah Rakeen maupun Duyuful Bait didapati memiliki tempelan nama kloter dan tulisan KBIHU. Pada kertas yang ditempel di pintu masuk tenda, pihak KBIHU bahkan mencantumkan logo syarikah agar terkesan sebagai penempatan resmi. Dalam peninjauan tersebut, Wamenhaj juga mengecek langsung ketersediaan dan kelaikan fasilitas kamar mandi serta toilet yang akan digunakan oleh jamaah calon haji di Mina. Setelah memastikan kelengkapan fasilitas tenda, Wamenhaj bersama rombongan berjalan kaki dari Markas 12, yang merupakan lokasi tenda jamaah calon haji Indonesia terjauh menuju area pelontaran jumrah atau Jamarat. Rata-rata jarak tempuh dari Markaz 12 ke Jamarat itu bolak-balik sekitar 7 kilometer. Menurut Wamenhaj, pergerakan di Mina membutuhkan ketahanan fisik yang prima karena tidak ada fasilitas kendaraan yang dapat digunakan oleh jamaah. Bagi jamaah calon haji yang mengambil pilihan nafar awal, total jarak tempuh berjalan kaki akan mencapai sekitar 21 kilometer. Sementara bagi yang mengambil nafar tsani, jaraknya akan bertambah menjadi 28 kilometer. Menghadapi rute pejalan kaki yang cukup menguras tenaga tersebut, Wamenhaj mengimbau jamaah calon haji untuk memaksimalkan waktu luang yang ada saat ini untuk beristirahat. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Jemaah Dirawat Jelang Armuzna Menurun, Karena Istitha’ah Lebih Ketat

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jumlah jemaah haji Indonesia yang menjalani perawatan di rumah sakit yang ada di Arab Saudi menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data terakhir, saat ini 130 jemaah, dirawat di beberapa rumah sakit di Arab Saudi. Jumlah ini menurun drastis, dibandingkan periode yang sama pada musim haji tahun 2025 lalu, yang mencapai 400 jemaah. Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyebut penurunan angka jemaah yang dirawat salah satunya dipengaruhi penerapan istitha’ah kesehatan yang lebih ketat di Tanah Air. “Salah satu alasannya karena pemeriksaan istitha’ah kesehatan di tanah air relatif lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Sehingga hari ini yang dirawat turun drastis, yang meninggal juga turun drastis,” ujar Gus Irfan usai berkunjung ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia Aziziyah. Gus Irfan mengatakan, pemerintah masih terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi terkait penanganan jemaah yang masih menjalani perawatan, termasuk kemungkinan pelaksanaan safari wukuf atau mekanisme lain yang tetap sesuai regulasi setempat. “Safari wukuf secara resmi memang tidak diperbolehkan oleh otoritas Saudi, tetapi kita akan mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak melanggar regulasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Saudi,” katanya. Dalam kunjungannya ke KKHI Aziziyah, Gus Irfan bersama tim Amirul Hajj meninjau langsung kesiapan tenaga kesehatan serta pelayanan kesehatan yang telah berjalan selama musim haji. Cucu pendiri NU ini mengakui terdapat tantangan terkait regulasi kesehatan di Arab Saudi yang dinamis dan cukup ketat. Namun, menurut dia, tenaga kesehatan Indonesia mampu menyesuaikan diri tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada jemaah. Untuk mendukung pelayanan saat puncak haji, pemerintah Indonesia juga menyiapkan sejumlah klinik darurat di titik-titik Armuzna. MCH 2026, Dian Palupi, RTV

Semua Jemaah yang Meninggal Sebelum Puncak Haji akan Dibadalkan oleh Petugas

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memastikan jemaah yang meninggal sebelum wukuf di Arafah akan dibadalkan. PPIH sudah menyiapkan daftar petugas yang akan melakukan badal haji ini. Kepala Seksi Pembimbing Ibadah dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (Bimbad dan KBIHU) Daerah Kerja Makkah, Erti Herlina, mengatakan, teknis ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri Haji dan Umrah (KMHU) Nomor 68 terkait Safari Wukuf dan Badal Haji. Regulasi ini sebagai acuan bagi PPIH dalam mengatur badal haji ini. “Di sana [KMHU 68] ditentukan kriteria persyaratan dan yang lain-lain, baik itu untuk pembadal maupun yang dibadalkan,” kata Erti kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah. Erti menambahkan, KMHU 68 ini telah diturunkan dalam Surat Keputusan (SK) PPIH Arab Saudi Nomor 21 tentang Tim Pelaksana Badal Haji. Tim pelaksana ini terdiri dari bimbad, kesehatan, serta tim lansia dan dusabilitas (landis). “Jadi tim ini tidak hanya dari pembimbing ibadah. Nah, di situ nanti tim ini yang akan mengajukan calon-calon pembadal dan itu di SK-kan oleh ketua PPIH,” kata Erti. Selanjutnya, kata Erti, setelah nama-nama ini di-SK-kan, maka akan diberikan surat tugas oleh Kepala Daerah Kerja Makkah untuk melaksanakan badal haji. Dalam suret tersebut sudah didetailkan, siapa membadalkan siapa. “Sehingga nanti ada kepastian siapa yang bertanggung jawab berkait dengan jemaah yang dibadalkan,” kata Erti. Erti menegaskan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh calon pembadal. Pertama, si pembadal sudah pernah berhaji. Bagi yang belum pernah berhaji, tidak bisa menjadi pembadal. Syarat kedua, kata Erti, si pembadal harus paham manasik haji. Hal ini penting agar bisa memberikan kenyamanan dan kepercayaan kepada keluarga almarhum yang dibadalkan. Lalu, siapa saja yang akan dibadalkan? Menurut Erti, ada beberapa kriteria jemaah yang akan dibadal-hajikan. Pertama, jemaah yang meninggal di Arab Saudi, baik di Madinah maupun Makkah. Kedua, jemaah yang meninggal di embarkasi maupun embarkasi antara. Berdasarkan data per Sabtu (23/5/2026), jumlah jemaah yang akan dibadalkan ada 79 orang. Rinciannya, 75 orang meninggal di Madinah dan Makkah, sementara 4 orang lainnya meninggal saat di embarkasi. Selain jemaah yang meninggal, kata Erti, jemaah yang dirawat di rumah sakit dan kemungkinan prediksi sembuhnya kecil, juga akan dibadalkan. Sejauh ini, kata Erti, petugas yang sudah di-SK-kan bisa menjadi pembadal, jumlah total mencapai 585 orang. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Suasana Pemakaman Bapak Firdaus, Jemaah Haji yang Sempat Hilang di Makkah

Setelah sebelumnya dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan meninggal dunia, jemaah haji Indonesia asal Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) Kloter 27, Muhammad Firdaus Akhlan, telah dimakamkan di Pemakaman Umum Al Sharayea, Makkah, tepatnya di Blok 14 Nomor 342. Prosesi pemakaman dihadiri oleh istri almarhum serta sejumlah petugas PPIH Arab Saudi 2026. Pemerintah melalui PPIH juga memastikan hak-hak almarhum sebagai jemaah haji tetap dipenuhi, termasuk pelaksanaan badal haji oleh petugas yang telah ditunjuk.

Almarhum Muhammad Firdaus Disalatkan di Masjidil Haram

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji Indonesia yang sempat dinyatakan hilang, dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, disalatkan di Masjidil Haram pada Sabtu (23/5/2026) subuh. Ditemani 3 jurnalis dari tim Media Center, berkesempatan mengantarkan almarhum, dari ambilans ke area tempat sholat jenazah. Jenazah almarhum Muhammad Firdaus Akhlan, dibawa ke Masjidil Haram dengan buddy car sekitar pukul 03.00 waktu Arab Saudi. Almarhum Firdaus disalatkan bersama 7 jenazah lainnya. Usai salat, jenazah almarhum langsung dibawa ke pemakaman di Makkah untuk dikebumikan. Istri almarhum, Nasfiah Nawan menguvapkan banyak terima kasih atas bantuan semua pihak, terutama pihak Pemerintah Indonesia, melalui PPIH Aeab Saudi, yang membantu sejak pencarian, hingga pemakaman almarhum. Muhammad Firdaus Akhlan, 73 tahun, dinyatakan hilang pada Jumat 15 Mei 2026 lalu. Jenazah almarhum ditemukan pihak Kepolisian Arab Saudi, di kawasan perbukitan Jabal Kudai, Makkah, 2,5 kilometer dari hotel tempatnya menginap. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Dahnil Pastikan Semua Jemaah Dapat Tempat di Arafah, Cabut Izin KBIHU Bandel

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah terus memperketat penataan tenda jemaah di Arafah agar seluruh jemaah mendapatkan hak layanan secara adil dan tertib. Wakil Menteri Haji dan Umrah menegaskan bahwa masa Armuzna merupakan titik paling krusial dalam operasional haji. Karena itu, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi persoalan di lapangan. “Kami sedang mempersiapkan secara maksimal berbagai upaya antisipasi dan mitigasi masalah yang mungkin muncul, termasuk penertiban tenda agar semua jemaah mendapatkan tempat sesuai kebutuhan,” ujarnya kepada Tim Media Center Haji. Ia menjelaskan, petugas saat ini terus bekerja melakukan pengecekan detail hingga berbasis by name by address. Penempatan tenda disesuaikan dengan asal daerah jemaah agar memudahkan mobilisasi saat puncak haji berlangsung. Dahnil menambahkan, seluruh petugas dikerahkan hingga malam hari demi memastikan kesiapan tenda benar-benar rampung sebelum pergerakan jemaah dimulai. Pemerintah juga memperingatkan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) agar tidak melakukan pergerakan di luar koordinasi resmi Kementerian Haji dan Umrah. “Tidak boleh ada gerakan-gerakan di luar koordinasi Kementerian Haji dan Umrah. Semua harus tertib karena pelaksanaannya harus mengikuti komando pemerintah,” katanya. Ia menegaskan, pemerintah tidak akan segan mencabut izin KBHU atau pihak lain yang dinilai melanggar aturan dan berpotensi merugikan jemaah. “Kalau ada KBHU atau oknum yang tetap bandel, kami pastikan izinnya akan dicabut. Kami tidak mau jemaah dikorbankan. jemaah dirugikan,” tegasnya. Pemerintah menyebut penyelenggaraan haji 2026 menjadi momentum kebangkitan layanan haji Indonesia. Dahnil menambahkan, fokus utama pemerintah, adalah memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu Allah. MCH 2026, Dian Palupi RTV.

Lebih dari 90.000 Jemaah Haji Indonesia Bayar Dam di Arab Saudi

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Jemaah haji Indonesia, mendapatkan kebebasan memilih untuk membayarkan dam hajinya di Tanah Suci, Indonesia, atau berpuasa. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak, kepada tim Media Center Haji (MCH), di Makkah. Bila jamaah haji menunaikan di Tanah Suci, wajib membayarkan dam, melalui Adahi Project. Sedangkan jika dibayarkan di Indonesia, bisa melalui lembaga amil zakat resmi atau ditunaikan secara pribadi. Berdasarkan data sementara tahun ini, sampai Jumat 22 Mei 2026, tercatat ada 126.832 jamaah yang telah jelas pembayaran dam hajinya. Yang membayar dam haji di Tanah Suci melalui Adahi sebanyak 90.956 orang jamaah dan yang membayar dam di Tanah Air 32.691 orang jamaah. “Tetapi, ada juga yang membayar damnya dengan puasa, yaitu 3.195 orang dan yang haji ifrad (tidak perlu membayar dam, Red.) 1.076 orang,” kata Dahnil. Data tersebut, kata dia, sangat mungkin akan terus berkembang dan akan diperbarui secara berkala oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI. Pendataan yang tahun ini dilakukan, menurut Dahnil, merupakan momen bersajarah dalam tata kelola haji, termasuk di dalamnya mengenai dam haji. Sebab, tahun lalu jamaah haji yang menunaikan dam hanya terdeteksi sekitar 10 ribu orang, dari 221 ribu jamaah yang berhaji. Yaitu, sekitar 8 ribu membayar dam di Adahi dan 2 ribu lainnya di Tanah Air. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Jemaah Haji Indonesia yang Hilang di Makkah Ditemukan Meninggal Dunia

PPIH Arab Saudi memastikan jemaah haji Indonesia asal Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) Kloter 27, Muhammad Firdaus Akhlan, yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak 15 Mei lalu, telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Pemerintah melalui PPIH Arab Saudi akan menyiapkan pelaksanaan badal haji oleh petugas haji untuk almarhum. PPIH juga mengimbau seluruh jemaah untuk saling peduli, terutama terhadap jemaah lansia yang terlihat berjalan sendiri, terpisah dari rombongan, kebingungan, atau kelelahan. Jika menemukan kondisi tersebut, jemaah diminta segera menghubungi petugas terdekat agar dapat segera diberikan bantuan dan pendampingan. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji

error: Content is protected !!