Tebat Rasau Belitung Timur, Wisata Sungai Purba Berusia 65 Juta Tahun

Bagi wisatawan yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan, Tebat Rasau di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dapat menjadi pilihan wisata alam yang menawarkan ketenangan sekaligus pengalaman unik. Kawasan ini merupakan destinasi wisata alam sekaligus geosite yang menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark. Tebat Rasau dikenal sebagai kawasan sungai purba yang diperkirakan telah terbentuk sejak puluhan juta tahun lalu. Suasana alamnya masih sangat asri dengan air sungai yang tenang, hutan rawa yang rimbun, serta tanaman rasau yang tumbuh alami di sepanjang aliran sungai. Keberadaan ekosistem tersebut membuat Tebat Rasau memiliki daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati pemandangan alam, tetapi juga melihat secara langsung kawasan yang menyimpan kekayaan geologi dan keanekaragaman hayati. Sungai Purba dan Kekayaan Alam Tebat Rasau Tebat Rasau diperkirakan telah terbentuk sejak sekitar 60–65 juta tahun lalu. Kawasan ini menjadi bagian dari hulu Sungai Lenggang yang membentang di wilayah Belitung Timur. Usianya yang sangat tua membuat Tebat Rasau memiliki nilai penting dari sisi geologi. Lanskap sungai dan rawa yang masih bertahan hingga kini menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan alam di Belitung. Nama Tebat Rasau sendiri berasal dari bahasa daerah setempat. Kata “tebat” berarti genangan air, sedangkan “rasau” merupakan nama salah satu jenis tanaman yang banyak ditemukan dan tumbuh di kawasan rawa. Kombinasi kedua kata tersebut kemudian menjadi nama kawasan yang kini dikenal sebagai Tebat Rasau. Tidak hanya memiliki nilai geologi, Tebat Rasau juga menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Kawasan dengan luas sekitar 8.040 hektare ini menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan air tawar. Tercatat terdapat sekitar 132 jenis ikan yang hidup di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya memiliki karakteristik unik dan menjadi daya tarik tersendiri, seperti arwana hias, ikan toman, ikan buntal hijau, hingga ikan ampong dari kelompok Channa. Keberagaman tersebut menunjukkan pentingnya kawasan Tebat Rasau sebagai ekosistem air tawar yang perlu dijaga. Melimpahnya sumber daya ikan juga membuat Tebat Rasau memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. Kawasan ini menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi ratusan nelayan yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perikanan. Menikmati Alam dengan Perahu hingga Cottage Keindahan alam Tebat Rasau dapat dinikmati melalui berbagai aktivitas. Salah satu pengalaman yang menarik adalah menyusuri sungai menggunakan perahu sambil melihat pepohonan rawa dan tanaman rasau yang tumbuh alami di sepanjang aliran air. Pengunjung juga dapat memancing atau sekadar duduk menikmati suasana alam. Air yang tenang, udara yang segar, serta lingkungan yang jauh dari kepadatan perkotaan memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan. Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana Tebat Rasau lebih lama, tersedia pula cottage yang berada di atas perairan. Keberadaan penginapan tersebut memungkinkan wisatawan merasakan suasana kawasan rawa secara lebih dekat dan menikmati pemandangan alam tanpa harus terburu-buru kembali ke perkotaan. Suasana tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Tebat Rasau. Wisatawan dapat memperlambat aktivitas sejenak, menikmati suara alam, melihat aliran sungai, hingga merasakan udara segar di tengah kawasan rawa yang masih alami. Menjaga Tebat Rasau sebagai Warisan Alam Sebagai bagian dari Geopark Belitung, Tebat Rasau tidak hanya dikembangkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga dikelola dengan pendekatan berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem di kawasan tersebut. Pengelolaan berkelanjutan menjadi penting mengingat Tebat Rasau memiliki fungsi ekologis, ekonomi, dan wisata sekaligus. Keberadaan ratusan jenis ikan serta kawasan rawa yang luas membuat aktivitas manusia perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan agar tidak mengganggu habitat berbagai spesies yang hidup di dalamnya. Di sisi lain, keberadaan Tebat Rasau juga berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat lokal. Aktivitas perikanan menjadi sumber penghasilan bagi ratusan nelayan sehingga kelestarian ekosistem sungai memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan mata pencaharian warga. Wisatawan yang berkunjung juga memiliki peran dalam menjaga kawasan tersebut. Pengunjung diimbau untuk menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman maupun habitat, serta mematuhi berbagai aturan yang berlaku selama berada di kawasan geosite. Tebat Rasau pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk berwisata. Sungai purba, hutan rawa, tanaman rasau, serta kekayaan ikan di dalamnya menjadi satu kesatuan ekosistem yang menunjukkan bagaimana alam dapat bertahan selama jutaan tahun. Di tengah kehidupan yang semakin cepat, Tebat Rasau menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak, menyusuri sungai, menikmati udara segar, dan merasakan ketenangan alam. Pada saat yang sama, keberadaannya mengingatkan bahwa keindahan alam yang dinikmati saat ini perlu dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

120-an Rumah Adat Kampung Sade NTB Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki

Kebakaran melanda kawasan Kampung Adat Sade yang berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (22/8/2026) malam tersebut menghanguskan sekitar 120 rumah adat yang menjadi bagian dari kawasan permukiman tradisional masyarakat Suku Sasak. Kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 22.00 WITA. Kobaran api dengan cepat meluas dan membakar bangunan rumah adat yang berada di kawasan tersebut. Banyaknya bangunan tradisional yang berdiri berdekatan membuat api berpotensi dengan mudah menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Peristiwa ini menjadi perhatian karena Kampung Adat Sade bukan sekadar kawasan permukiman warga, tetapi juga salah satu pusat budaya masyarakat Sasak di Lombok. Rumah-rumah adat di kawasan tersebut memiliki bentuk dan material yang menjadi ciri khas arsitektur tradisional Sasak. Hingga kini, pemerintah masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan sumber awal api sekaligus mengetahui faktor yang menyebabkan api dapat menyebar hingga menghanguskan puluhan rumah adat. Pemerintah juga masih melakukan pendataan terhadap dampak kebakaran, termasuk bangunan dan benda-benda berharga yang berada di dalam rumah adat. Upaya penyelamatan barang pusaka menjadi salah satu perhatian setelah kebakaran terjadi. 100 Personel Diterjunkan Penanganan kebakaran melibatkan sekitar 100 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Para personel diterjunkan untuk membantu proses penanganan di lokasi sekaligus mendukung upaya pengamanan kawasan yang terdampak. Selain menangani dampak langsung kebakaran, petugas juga membantu proses pendataan dan memastikan kawasan tetap aman selama proses penanganan berlangsung. Pemerintah masih berupaya mengidentifikasi berbagai benda berharga yang kemungkinan masih dapat diselamatkan dari bangunan yang terbakar. Kebakaran tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian material bagi masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan warisan budaya di Kampung Adat Sade. Sejumlah rumah yang selama ini menjadi bagian dari identitas kawasan adat mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut. Pemerintah Siapkan Restorasi Kampung Adat Sade Pemerintah berencana melakukan restorasi terhadap kawasan yang terdampak kebakaran. Bangunan rumah adat yang terbakar nantinya akan diupayakan untuk dibangun kembali dengan mempertahankan bentuk dan karakter aslinya. Restorasi dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan Kampung Adat Sade sebagai kawasan budaya masyarakat Sasak. Pembangunan kembali diharapkan tidak sekadar mengganti bangunan yang rusak, tetapi juga mempertahankan nilai sejarah dan karakter arsitektur tradisional yang selama ini menjadi identitas kampung adat tersebut. Pemerintah juga akan mencari dan menyelamatkan barang-barang pusaka maupun benda berharga yang kemungkinan masih berada di antara sisa-sisa bangunan. Benda-benda tersebut dinilai penting karena memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat setempat. Hingga Senin (24/8/2026), pemerintah masih berfokus pada penanganan pascakebakaran, pendataan kerusakan, serta penyelidikan mengenai penyebab kejadian. Restorasi kawasan akan menjadi langkah berikutnya setelah proses pendataan dan pemeriksaan selesai dilakukan. Kebakaran Kampung Adat Sade menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap kawasan budaya dan bangunan tradisional. Selain menjadi tempat tinggal masyarakat, kawasan adat juga menyimpan nilai sejarah, tradisi, dan identitas budaya yang perlu dijaga agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka: Prabowo Pimpin, Jokowi Hadir, Ini Fakta Menariknya

Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). Presiden Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan kemerdekaan tahun ini. Upacara berlangsung khidmat dengan rangkaian prosesi kenegaraan, mulai dari laporan komandan upacara, pembacaan teks Proklamasi, mengheningkan cipta, pembacaan doa, hingga pengibaran Sang Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Prosesi pagi juga diawali dengan kirab Bendera Sang Merah Putih dan Naskah Proklamasi dari kawasan Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Merdeka. Pejabat Negara yang Hadir dan Berhalangan Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam upacara kenegaraan tersebut. Selain Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tampak Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) serta Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin. Pimpinan lembaga negara yang hadir antara lain Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua DPR Puan Maharani, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo, dan Wakil Ketua MK Saldi Isra. Dari unsur keamanan, hadir Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sementara itu, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak menghadiri upacara di Istana karena menjalani pemeriksaan kesehatan. Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri juga dilaporkan tidak menghadiri upacara di Istana. Jokowi sendiri sebelumnya telah memastikan kehadirannya dalam peringatan HUT ke-81 RI. Selain pejabat negara, masyarakat umum juga mendapat kesempatan menghadiri langsung upacara di kompleks Istana Kepresidenan. Antusiasme warga terlihat sejak dini hari. Sejumlah tamu undangan bahkan sudah berada di sekitar kawasan Istana sejak sekitar pukul 04.00 WIB untuk mengikuti rangkaian perayaan kemerdekaan. 76 Paskibraka dari 38 Provinsi Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam upacara adalah pengibaran Sang Merah Putih oleh 76 anggota Paskibraka dari 38 provinsi. Mereka tergabung dalam tim Paskibraka Indonesia Berdaulat yang terdiri atas satu putra dan satu putri dari setiap provinsi. Salah satu anggota yang mendapat tugas penting adalah Celina Olivia Apriani Theo dari Kalimantan Barat yang dipercaya menjadi pembawa baki Bendera Merah Putih. Sementara Eighteen Jeanette Hekboy dari Nusa Tenggara Timur ditunjuk sebagai cadangan pembawa baki. Berikut daftar Paskibraka tingkat pusat yang mewakili 38 provinsi: Aceh: Muhammad Hibban Annafis dan Zilqueensa Abintary Laudicia Simatupang Sumatera Utara: Gussa Oliver Nainggolan dan Felesia Rismaito Munthe Sumatera Barat: Ahmad Alfatih dan Ulya Kireina Halim Riau: Rizqy Aditya Siregar dan Arifa Rahma Maulydha Jambi: Achmad Fachri Mubarok dan Rizkia Putri Sumatera Selatan: Muhammad Ikhsan Nugroho dan Khalyana Zahira Sandi Bengkulu: M. Aryo Wira Zandhyka Y. dan Nadine Permata Vanza Lampung: Naufal Ghaly Oktora dan Chika Azahra Salsabila Kepulauan Bangka Belitung: Muhammad Furqoen Nul Hakim dan Fira Haniyah Kepulauan Riau: Muhammad Salman Farisi dan Raudah Mabrura DKI Jakarta: Muazzam Saqif Hasani Siregar dan Latiesha Firenzie Bharata Jawa Barat: Baruno Wicaksono dan Aisha Calista Permata Jawa Tengah: Hilmi Tisna Yuwanda dan Qothrunnada Azzahra Husna DI Yogyakarta: Ahmad Raditya dan Anggita Ayu Mahanani Hanifah Jawa Timur: Reihan Nifan Arkana dan Angelica Theona Putri Banten: Chaysar Purnama Putra dan Adzra Khairy Fadian Bali: I Made Dwi Sathya Kurniawan dan Ni Komang Gayatri Dinda Gita Arsani NTB: Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dan Belvana Rolanda Vindia Kurniawan NTT: Atanasius Meyllano Frans Yogar dan Eighteen Jeanette Hekboy Kalimantan Barat: Mirza Rafi Navazani dan Celina Olivia Apriani Theo Kalimantan Tengah: Muhammad Azham Alfarizqi dan Ajeng Bunga Safitri Kalimantan Selatan: I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti dan Siti Nur Adlina Kalimantan Timur: Gus Luthfy Azka Nararya dan Julita Rista Lestari Kalimantan Utara: Muhammad Zainal Ihsan dan Desy Natalia Sulawesi Utara: Gabriel Gilbert Miller Kamasi dan Faith Louisa Tabita Maengkom Sulawesi Tengah: Fahriansyah Rihama dan Chintya Graciella Rorong Sulawesi Selatan: Juan Pablo dan Taswina Putri Sulawesi Tenggara: Laode Reyhan Putra Satria Korwa dan Waode Bintang Adisya Gorontalo: Muhammad Azka Gaib dan Khasyifa Anindi Sudarmanto Sulawesi Barat: M. Deni Fikri dan Ismi Ulfaida Maluku: Louise Adriano Hutasoit dan Cinzia Christovani Marantika Maluku Utara: Haikal Khadafi H. Laode dan Mardhatilla A. Putri Papua: Johanes Matius Paulus Rumsayor dan Neeltje Deliana Insjowi Werimon Papua Barat Daya: Pieter Felix Paskah Yapen dan Vila Delvia Nauri Papua Barat: Marco Marcel Kurei dan Hasna Iriani Rumbiak Papua Selatan: Vinsensius Renaldi Oey Yolmen dan Kristina Ndiken Papua Tengah: Christopher Leon Bringga Tabuni dan Gladys Manuella Aibekob Papua Pegunungan: Michael Marchel Winka Fakdawer dan Julia Maharani Dabi. Fakta Menarik Perayaan HUT ke-81 RI Perayaan kemerdekaan tahun ini memiliki sejumlah hal yang berbeda dan menarik perhatian. Salah satunya adalah atraksi udara yang melibatkan 81 pesawat dan helikopter dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, dan Basarnas. Jumlah tersebut menjadi bagian dari simbol peringatan HUT ke-81 RI. Pesawat tempur Dassault Rafale juga menjadi salah satu perhatian dalam atraksi udara tahun ini. Rafale untuk pertama kalinya tampil dalam perayaan kemerdekaan di Istana dan terbang bersama sejumlah pesawat tempur lainnya seperti F-16, Sukhoi, Hawk, dan T-50i Golden Eagle. Hal menarik lainnya adalah keterlibatan siswa Sekolah Rakyat dalam rangkaian perayaan HUT ke-81 RI. Para siswa mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan dan bakat mereka di hadapan Presiden Prabowo Subianto serta para tamu undangan. Perayaan tahun ini juga menghadirkan sosok Savia Aulia Rachmawati, sinden cilik penyandang disabilitas yang tampil dalam rangkaian peringatan di Istana Merdeka. Kehadirannya menjadi salah satu gambaran keberagaman talenta yang ditampilkan dalam perayaan kemerdekaan. Tak kalah menarik, para tamu undangan yang hadir di Istana mendapatkan suvenir berupa kelereng. Pemberian suvenir tersebut menjadi salah satu unsur unik dalam perayaan HUT ke-81 RI tahun ini. Peringatan kemerdekaan tahun ini juga diwarnai aksi terjun payung prajurit Kopassus yang membawa bendera berukuran 12 x 8 meter. Atraksi tersebut dilaporkan berhasil memecahkan rekor MURI. Berbagai rangkaian tersebut membuat perayaan HUT ke-81 RI tidak hanya berfokus pada upacara kenegaraan. Peringatan kemerdekaan tahun ini turut menampilkan kekuatan pertahanan udara, keberagaman generasi muda, seni budaya, serta keterlibatan masyarakat. Kehadiran 76 Paskibraka dari seluruh provinsi juga menjadi simbol keberagaman Indonesia. Para pelajar tersebut membawa identitas daerah masing-masing, tetapi dipersatukan dalam satu tugas kenegaraan untuk mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Merdeka. Dengan rangkaian upacara, kirab, atraksi udara, pertunjukan seni, hingga keterlibatan masyarakat dan generasi muda, perayaan HUT ke-81 RI tahun ini menjadi momentum untuk memperingati kemerdekaan sekaligus menampilkan keberagaman Indonesia di hadapan publik.

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores, 53 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan menimbulkan dampak besar bagi masyarakat di sejumlah kabupaten. Guncangan kuat tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga merusak ribuan rumah serta berbagai fasilitas publik. Berdasarkan data sementara yang tercantum, jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang, sementara 137 warga lainnya mengalami luka-luka. Korban jiwa tersebar di enam kabupaten terdampak. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 25 orang. Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 20 korban meninggal, Kabupaten Sikka empat orang, Kabupaten Ende dua orang, serta Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Nagekeo masing-masing satu orang. Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada permukiman warga dan fasilitas umum. Pendataan sementara mencatat 1.543 unit rumah mengalami rusak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah mengalami rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas publik yang menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat. Sedikitnya 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, dan 76 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda. Jumlah tersebut masih memungkinkan bertambah karena proses pendataan dan verifikasi kondisi bangunan di lapangan terus dilakukan oleh pihak terkait. Kerusakan bangunan juga membuat ribuan warga memilih meninggalkan rumah untuk menghindari risiko tertimpa bangunan apabila terjadi gempa susulan. Ketakutan terhadap kondisi bangunan serta masih tingginya aktivitas gempa membuat 5.659 warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.488 jiwa berada di lokasi pengungsian terpusat, sedangkan 171 jiwa lainnya memilih mengungsi secara mandiri. Situasi di lokasi pengungsian menjadi perhatian karena masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat tinggal sementara, tetapi juga makanan, air, layanan kesehatan, serta dukungan psikologis untuk menghadapi dampak bencana. Kondisi tersebut membuat warga diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, terutama ketika berada di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan. Bantuan Mulai Didistribusikan Penanganan terhadap masyarakat terdampak terus dilakukan melalui pengiriman bantuan logistik. Sebanyak 4.925 paket bantuan dari pemerintah pusat dikirim melalui Posko Logistik Nasional Bandara Halim Perdanakusuma. Bantuan tersebut kemudian tiba di Maumere dan Labuan Bajo untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat di wilayah terdampak. Pada tahap awal, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Sikka masing-masing mendapatkan 1.000 paket bantuan. Kabupaten Ende memperoleh 725 paket, sedangkan Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo masing-masing memperoleh 550 paket. Distribusi bantuan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kini masih bertahan di lokasi pengungsian maupun mereka yang harus meninggalkan rumah akibat kerusakan. Penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik. Kondisi psikologis masyarakat juga menjadi perhatian, mengingat gempa kuat dapat meninggalkan rasa takut dan trauma, terutama bagi anak-anak serta warga yang kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga. Kapolres Sikka turut mengadakan trauma healing bagi warga terdampak. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya membantu masyarakat mengurangi rasa khawatir dan ketakutan setelah mengalami guncangan gempa. Trauma healing menjadi bagian penting dalam proses pemulihan karena masyarakat membutuhkan dukungan untuk kembali menjalani aktivitas setelah menghadapi situasi darurat. Dengan jumlah korban dan kerusakan yang cukup besar, proses penanganan bencana di Flores masih membutuhkan koordinasi berbagai pihak. Pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat terus berupaya memastikan kebutuhan warga terdampak dapat terpenuhi sekaligus menjaga keselamatan selama aktivitas gempa susulan masih berlangsung. Pendataan kerusakan dan korban juga terus dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi terbaru di lapangan serta menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.

Kebakaran Gunung Bromo Meluas, Luas Lahan Terbakar Capai 10 Hektare

Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan padang savana Gunung Bromo, tepatnya di Blok Bantengan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kebakaran yang mulai terdeteksi pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB tersebut hingga Rabu (5/8/2026) masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Api yang muncul di tengah kondisi vegetasi kering pada musim kemarau terus merambat ke sejumlah kawasan. Kobaran bahkan meluas dari Blok Bantengan hingga kawasan Watu Gede dan mendekati wilayah Kabupaten Probolinggo. Kondisi angin yang cukup kencang turut mempercepat pergerakan api di area perbukitan. Berdasarkan data sementara, luas lahan yang terdampak kebakaran sebelumnya diperkirakan sekitar 7,9 hektare. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan area terbakar telah mencapai sekitar 10 hektare. Angka tersebut masih dapat bertambah karena proses pendataan di lapangan terus dilakukan dan sejumlah titik api belum sepenuhnya padam. Api Masih Menyala di Bromo dan Kronologi Kebakaran Penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, mulai dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), BPBD Kabupaten Probolinggo dan Jawa Timur, Perhutani, TNI/Polri, relawan, hingga masyarakat sekitar. Petugas melakukan pemadaman dengan peralatan yang dapat digunakan di medan terbuka, seperti kepyok atau alat pemukul api dan backpack sprayer. Sejumlah personel juga membuat sekat untuk mengisolasi kobaran agar tidak semakin meluas. Namun, proses pemadaman menghadapi tantangan besar. Kondisi medan yang curam dan sulit dijangkau membuat petugas tidak leluasa membawa peralatan pemadam berukuran besar ke lokasi. Selain itu, angin kencang dapat membuat api kembali menyebar meski titik tertentu telah berhasil dikendalikan. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pemadaman sekaligus mengantisipasi munculnya kembali titik api. Bahkan, peralatan pemukul api yang digunakan secara intensif dilaporkan mengalami kerusakan sehingga petugas harus memanfaatkan ranting pohon untuk membantu proses pemadaman. Dalam upaya penanganan di lapangan, Novi Surahmat selaku Kabid Barlog BPBD menyampaikan bahwa pihaknya turut mendukung operasi pemadaman bersama tim lainnya. Ia mengatakan, “kita (BPBD) membantu back up temen-temen dari taman nasional, dan mudah-mudahan segera padam ya sebelum merembet kemana-mana.” Berdasarkan informasi awal dari Balai Besar TNBTS, titik api pertama kali diketahui di Blok Bantengan sekitar pukul 17.00 WIB pada Senin (3/8/2026). Setelah mendapatkan laporan, tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah api merambat ke kawasan lainnya. Namun, kondisi vegetasi yang kering dan hembusan angin membuat kobaran api terus bergerak. Penutupan tiga akses wisata kemudian diberlakukan pada Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB. Akses yang ditutup meliputi Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Penutupan tersebut berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sementara itu, api yang bergerak menuju wilayah Probolinggo berhasil dikendalikan pada beberapa titik. Meski demikian, petugas tetap bersiaga karena masih terdapat titik api lain yang aktif dan berpotensi kembali meluas. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait. Wisata Bromo Masih Dibuka Terbatas Meskipun tiga akses ditutup, kawasan Gunung Bromo tidak sepenuhnya ditutup bagi wisatawan. Pengunjung masih dapat memasuki kawasan Bromo melalui pintu Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo, dan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Namun, aktivitas wisata diberlakukan secara terbatas. Wisatawan yang masuk melalui dua jalur tersebut hanya diperbolehkan menikmati kawasan hingga Lautan Pasir. Area savana, termasuk kawasan Bukit Teletubbies, tidak boleh dimasuki karena berada di sekitar wilayah terdampak kebakaran dan dapat membahayakan keselamatan pengunjung. Pembatasan tersebut juga dilakukan agar aktivitas wisatawan tidak mengganggu mobilisasi personel yang sedang melakukan pemadaman dan pengendalian api. Balai Besar TNBTS mengingatkan masyarakat, wisatawan, serta pelaku jasa wisata untuk meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kawasan taman nasional. Penggunaan api menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian khusus, terutama ketika kawasan memasuki musim kemarau dan vegetasi dalam kondisi kering. Pengunjung diminta memastikan tidak meninggalkan sumber api yang berpotensi memicu kebakaran baru. Kepala Balai Besar TNBTS juga mengimbau seluruh pihak untuk menjaga kawasan konservasi dari ancaman kebakaran demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama. Imbauan tersebut menjadi semakin penting mengingat kebakaran di kawasan Bromo dapat menyebar dengan cepat ketika didukung kondisi angin dan vegetasi kering. Kondisi Terkini Kebakaran Bromo Hingga Rabu (5/8/2026), kebakaran masih belum sepenuhnya padam. Titik api masih ditemukan di sejumlah lokasi sehingga tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pemantauan. Luas area terbakar yang sebelumnya diperkirakan 7,9 hektare kini mencapai sekitar 10 hektare, tetapi angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah. Sementara itu, tiga akses wisata melalui Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro masih ditutup. Wisatawan tetap dapat memasuki kawasan melalui Cemoro Lawang dan Wonokitri dengan batas kunjungan hanya sampai Lautan Pasir. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran Bromo masih membutuhkan penanganan serius. Masyarakat dan wisatawan diharapkan mematuhi seluruh pembatasan yang diberlakukan hingga kondisi kawasan dinyatakan aman oleh pengelola. Kebakaran di kawasan konservasi bukan hanya berdampak terhadap aktivitas wisata, tetapi juga dapat mengancam ekosistem dan vegetasi yang menjadi bagian penting dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena itu, kehati-hatian dalam menggunakan api dan kepatuhan terhadap aturan kawasan menjadi tanggung jawab bersama. Penulis – Safira Aqsha Mun’ima

Kasus Chromebook Masuk Sidang Banding, Nadiem Makarim Siapkan 5 Saksi dan Ahli

Upaya hukum banding yang diajukan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam perkara dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook diterima untuk diperiksa pada tingkat banding. Langkah tersebut menjadi babak baru setelah Nadiem menyatakan keberatan terhadap putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dalam perkara tingkat pertama, Nadiem dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan, serta diwajibkan membayar uang pengganti sekitar Rp809,59 miliar dengan ketentuan subsider pidana penjara lima tahun apabila uang pengganti tidak dibayarkan. Nadiem kemudian mengajukan banding karena menilai masih terdapat sejumlah fakta dan bukti dalam persidangan yang belum dipertimbangkan secara memadai. Tim kuasa hukum juga menyiapkan saksi tambahan dan seorang ahli untuk memperkuat argumentasi dalam proses pemeriksaan di tingkat banding. Kasus yang Menjerat Eks Mendikbudristek Kasus yang menjerat Nadiem berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook untuk program digitalisasi pendidikan di lingkungan Kemendikbudristek. Perkara tersebut bermula dari proses penyidikan yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap pengadaan perangkat teknologi pendidikan. Dalam perkembangannya, Nadiem ditetapkan sebagai terdakwa dan menjalani rangkaian persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Setelah melalui tahapan pemeriksaan saksi, ahli, pembuktian, tuntutan, pembelaan atau pleidoi, hingga pembacaan putusan, majelis hakim tingkat pertama akhirnya menjatuhkan vonis terhadap Nadiem pada 30 Juni 2026. Tidak hanya pihak Nadiem yang mengajukan upaya hukum. Kejaksaan Agung juga menyatakan mengajukan banding atas putusan tersebut setelah menerima salinan resmi putusan Pengadilan Tipikor. Dengan demikian, proses perkara kini berlanjut di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta untuk diperiksa pada tingkat banding. Mengajukan Proses Banding Dalam proses banding, tim Nadiem berencana menghadirkan empat saksi tambahan serta seorang ahli. Kehadiran mereka ditujukan untuk memberikan keterangan dan perspektif tambahan terkait sejumlah persoalan yang menjadi pokok perkara. Empat saksi tersebut antara lain Direktur dan Corporate Secretary PT GoTo Koesmohandiani, mantan Komisaris GoTo Andre Soelistyo, mantan Ketua Pokja Pemilihan E-Katalog Dwi Satrianto, serta Direktur Produk dan Solusi PT Acer Indonesia Riko Gunawan. Selain itu, tim juga akan menghadirkan Pakar Akuntansi Forensik Muhammad Mahsun sebagai ahli. Dari sejumlah nama tersebut, Koesmohandiani dan Andre Soelistyo dijadwalkan diperiksa dalam persidangan pada 12 Agustus mendatang. Keterangan mereka diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai hubungan korporasi, proses pengadaan, serta aspek kebijakan yang berkaitan dengan perkara. Pengajuan saksi dan ahli tambahan menjadi bagian dari upaya tim Nadiem untuk memperkuat argumentasi banding. Sebelumnya, kuasa hukum menyatakan terdapat fakta yang dinilai belum dipertimbangkan dalam putusan tingkat pertama. Dalam pemeriksaan perkara banding, majelis hakim menilai terdapat tiga isu utama yang menjadi perhatian. Pertama, mengenai dugaan konflik kepentingan antara Nadiem dan GoTo. Persoalan ini berkaitan dengan hubungan Nadiem dengan lingkungan korporasi sebelum dan ketika menjalankan tugas sebagai menteri. Kedua, mengenai pertanggungjawaban korporasi dan tanggung jawab terdakwa dalam kebijakan pengadaan Chromebook. Isu tersebut menjadi penting untuk melihat sejauh mana kebijakan pengadaan dapat dikaitkan dengan tanggung jawab pribadi terdakwa. Ketiga, mengenai perdebatan terkait kerugian keuangan negara. Besaran dan dasar perhitungan kerugian negara menjadi salah satu aspek yang dipersoalkan dalam perkara ini. Ketiga isu tersebut menjadi bagian penting yang akan diuji kembali dalam proses banding. Kehadiran saksi dan ahli tambahan diharapkan dapat memberikan keterangan yang lebih komprehensif kepada majelis hakim dalam menilai perkara. Dalam persidangan banding, Ketua Majelis Hakim Subachran Hardi Mulyana menegaskan bahwa pemeriksaan saksi akan difokuskan pada pihak-pihak yang paling relevan dengan pokok perkara. “Setelah kami mempelajari alasan-alasan dari advokat terdakwa maupun tanggapan dari Penuntut Umum, Majelis Hakim berketetapan untuk memeriksa kembali saksi,” kata Subachran dalam persidangan. Ia menambahkan bahwa permintaan menghadirkan saksi berasal dari pihak terdakwa, sehingga kewajiban menghadirkan saksi tetap berada pada penasihat hukum. “Karena ini adalah merupakan permintaan dari advokat terdakwa, maka yang berkewajiban untuk menghadirkan saksi-saksi tersebut adalah tetap pada penasihat hukum terdakwa. Bahwa kami ambil lima saksi merupakan perwakilan-perwakilan ya,” lanjutnya. Hakim juga menegaskan bahwa tidak semua saksi yang diajukan akan diperiksa ulang. “Kita tinggal mengelompokkan, saksi mana yang sungguh sangat relevan. Sungguh sangat relevan. Jadi tidak semuanya yang saudara ajukan tadi harus kita periksa ulang. Tapi sungguh harus kita seleksi lagi mana yang relevan ya, untuk memperoleh kebenaran materiil atas diri terdakwa,” ujar Subachran. Nadiem Optimistis Hadapi Sidang Banding Menghadapi proses hukum di tingkat banding, Nadiem menyatakan optimistis. Upaya banding tersebut menjadi kesempatan bagi dirinya dan tim kuasa hukum untuk kembali menyampaikan argumentasi serta bukti yang dinilai relevan terhadap perkara. Bagi tim pembela, proses banding bukan hanya bertujuan membantah putusan tingkat pertama, tetapi juga memberikan ruang untuk menguji kembali sejumlah pertimbangan hukum yang digunakan majelis hakim sebelumnya. Sebelumnya, kuasa hukum Nadiem menyatakan memori banding mereka menyoroti fakta-fakta yang dianggap belum dipertimbangkan serta mengajukan saksi dan ahli tambahan. Sidang banding Nadiem dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mulai Rabu, 5 Agustus 2026. Majelis hakim dipimpin Subachran Hardi Mulyana dengan hakim anggota Catur Iriantoro dan Hotma Maya Marbun. Dengan masuknya perkara ke tahap banding, proses hukum Nadiem masih terus berjalan. Putusan tingkat pertama belum menjadi akhir dari proses hukum karena baik pihak terdakwa maupun penuntut umum masih menggunakan hak mereka untuk mengajukan upaya hukum. Persidangan selanjutnya akan menjadi ruang bagi majelis hakim tingkat banding untuk menilai kembali perkara berdasarkan berkas, pertimbangan hukum, serta keterangan dan bukti yang diajukan oleh masing-masing pihak. Kehadiran saksi tambahan dan ahli dari pihak Nadiem pun diharapkan dapat memberikan perspektif baru terhadap tiga isu utama yang menjadi perhatian dalam perkara tersebut.

Warga Pandeglang Perbaiki Jalan Rusak Secara Swadaya, Sudah Hampir 30 Tahun Tak Tersentuh

Puluhan warga Desa Mogana dan Desa Pasir Awi, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten, bergotong royong memperbaiki jalan penghubung antardesa yang telah mengalami kerusakan selama hampir 30 tahun. Perbaikan dilakukan secara swadaya sebagai bentuk kepedulian sekaligus kekecewaan warga karena akses utama tersebut belum mendapatkan perbaikan permanen dari pemerintah. Jalan sepanjang sekitar 385 meter itu menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat sehari-hari. Selain digunakan untuk mobilitas warga, jalan tersebut juga menjadi akses bagi para pelajar yang setiap hari melintas menuju sekolah. Kondisinya yang berlubang, licin, dan tidak rata membuat perjalanan menjadi lebih sulit, terutama ketika hujan turun. Kerusakan jalan yang berlangsung dalam waktu panjang membuat warga akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan sendiri. Mereka bergotong royong menggunakan material dan tenaga yang tersedia untuk menutup bagian jalan yang rusak. Langkah tersebut dilakukan agar akses masyarakat tetap dapat digunakan sembari menunggu adanya perhatian dari pemerintah. Hampir 30 Tahun Rusak, Warga Pilih Bergerak Sendiri Kerusakan jalan yang tidak kunjung diperbaiki menjadi alasan utama warga melakukan aksi swadaya. Kondisi jalan yang semakin memburuk dinilai sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan. Saat musim hujan, permukaan jalan menjadi semakin licin dan lubang-lubang yang tergenang air sulit terlihat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko warga terjatuh, terutama pengendara sepeda motor dan anak-anak sekolah yang menggunakan jalur tersebut setiap hari. Salah seorang warga, Yuki, mengatakan kecelakaan di lokasi tersebut bukan sesuatu yang jarang terjadi. “Sering di sini ada yang berjatuhan, apalagi anak sekolah. Sering ada yang berjatuhan maka dari itu kami menyikapi hal ini,” ujar Yuki. Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan warga yang selama bertahun-tahun harus menghadapi kondisi jalan yang tidak layak. Bagi masyarakat, persoalan tersebut bukan hanya mengenai kenyamanan berkendara, tetapi juga menyangkut keselamatan. Aksi Swadaya Jadi Solusi Sementara Dalam aksi tersebut, warga bersama-sama memperbaiki bagian jalan yang mengalami kerusakan. Gotong royong menjadi bentuk respons masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai membutuhkan penanganan segera. Meski demikian, perbaikan secara swadaya tidak dapat menjadi solusi jangka panjang. Material yang digunakan warga dan metode perbaikan sederhana hanya mampu memperbaiki kondisi jalan untuk sementara. Tanpa pembangunan yang lebih permanen, kerusakan berpotensi kembali terjadi, terlebih jika jalan terus dilalui kendaraan dan terkena air hujan. Karena itu, warga berharap aksi yang dilakukan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah agar segera dilakukan peninjauan dan pembangunan jalan secara menyeluruh. Persoalan Infrastruktur Bukan Hanya Soal Pembangunan Di sisi lain, pembangunan fasilitas jalan juga membutuhkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat. Jalan yang telah dibangun dengan kualitas baik tetap berpotensi cepat rusak apabila penggunaannya tidak sesuai dengan kapasitas maupun fungsi jalan. Kurangnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai pemeliharaan infrastruktur dapat menjadi salah satu faktor yang membuat usia jalan tidak bertahan lama. Misalnya, penggunaan kendaraan dengan beban berlebih, pembuangan air yang tidak terarah, hingga kurangnya kepedulian terhadap drainase di sekitar jalan dapat mempercepat kerusakan. Karena itu, pembangunan jalan idealnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara menjaga dan merawat fasilitas umum setelah pembangunan selesai. Keterlibatan warga dapat dilakukan melalui pengawasan lingkungan, menjaga saluran drainase tetap bersih, tidak menggunakan jalan di luar kapasitasnya, serta segera melaporkan kerusakan kepada pemerintah agar dapat ditangani sebelum semakin parah. Warga Harap Ada Pembangunan Permanen Warga Desa Mogana dan Desa Pasir Awi berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai pembangunan jalan tersebut. Perbaikan permanen dinilai penting karena jalur tersebut menjadi akses utama masyarakat dan digunakan oleh pelajar maupun warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Masyarakat juga berharap pembangunan nantinya dilakukan dengan memperhatikan kualitas konstruksi, sistem drainase, serta kondisi lingkungan sekitar. Dengan begitu, jalan tidak hanya terlihat baik setelah selesai dibangun, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang. Aksi gotong royong yang dilakukan warga menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan yang aman dan layak. Di tengah keterbatasan, warga berusaha menjaga akses tersebut tetap dapat digunakan. Namun, tanggung jawab pembangunan infrastruktur publik tetap membutuhkan peran pemerintah. Perbaikan jalan secara permanen diharapkan dapat mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat, khususnya para pelajar yang setiap hari menggunakan jalur tersebut. Pada akhirnya, kondisi jalan di Desa Mogana dan Desa Pasir Awi menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti ketika jalan selesai dibangun. Pemerintah, masyarakat, dan pengguna jalan perlu memiliki peran bersama agar fasilitas yang telah tersedia dapat dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penulis – Safira Aqsha Mun’ima

Rembesan Air Laut Muncul di Jalan Muara Baru Ujung, Sudah Bertahun-tahun Tak Ditangani

Jalan di kawasan Muara Baru Ujung, tepatnya di samping Rumah Pompa Waduk Pluit, Jakarta Utara, kembali menjadi perhatian warga. Air laut terus merembes dari retakan di permukaan jalan dan sisi tanggul hingga menyebabkan sebagian badan jalan selalu dalam kondisi basah dan licin. Kondisi tersebut bukan merupakan kejadian baru. Warga menyebut rembesan air laut telah terjadi selama bertahun-tahun dan belum mendapatkan penanganan yang dinilai mampu menyelesaikan persoalan secara permanen. Air bahkan terlihat keluar melalui retakan jalan yang membentang sekitar 10 meter. Genangan yang muncul di sepanjang badan jalan membuat pengguna jalan harus lebih berhati-hati. Kondisi semakin berisiko karena jalur tersebut memiliki kontur yang cukup ekstrem, berupa turunan dan tanjakan. Permukaan jalan yang licin ketika dilewati sepeda motor dapat membuat kendaraan kehilangan keseimbangan, terutama ketika pengendara melaju dengan kecepatan tinggi. Air Laut Lebih Tinggi dari Permukiman Salah satu hal yang menjadi perhatian warga adalah posisi permukaan air laut yang terlihat lebih tinggi dibandingkan kawasan permukiman di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat air lebih mudah merembes melalui celah atau retakan yang terdapat pada struktur jalan maupun tanggul. Rembesan air kemudian mengalir ke badan jalan dan menciptakan genangan sepanjang kurang lebih 10 meter. Air yang terus muncul membuat jalan sulit benar-benar kering, terutama ketika terjadi pasang air laut. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan pada kondisi struktur jalan atau sistem perlindungan kawasan pesisir. Meski penyebab teknis pastinya memerlukan pemeriksaan dari pihak berwenang, rembesan yang berlangsung bertahun-tahun menunjukkan perlunya penanganan yang lebih menyeluruh. Selain rembesan air, kondisi geografis jalan turut meningkatkan risiko kecelakaan. Jalur yang memiliki kombinasi tanjakan dan turunan membuat pengendara perlu melakukan penyesuaian kecepatan ketika melintas. Permukaan jalan yang basah dan licin dapat mengurangi daya cengkeram ban, terutama bagi pengendara sepeda motor. Pengendara yang tidak mengetahui adanya genangan juga berpotensi kehilangan kendali ketika melewati bagian jalan yang retak atau tergenang. Pada malam hari, kondisi tersebut berpotensi semakin sulit terlihat apabila pencahayaan di sekitar lokasi tidak memadai. Air yang menggenang juga dapat membuat retakan atau bagian jalan yang rusak menjadi tidak terlihat jelas. Karena itu, pengguna jalan diimbau tidak hanya mengandalkan kecepatan saat melintas. Pengendara perlu memperhatikan kondisi permukaan jalan dan menjaga jarak aman dengan kendaraan lain. Warga Harap Segera Ditangani Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi jalan dan tanggul di kawasan tersebut. Penanganan dinilai penting bukan hanya untuk menghilangkan genangan, tetapi juga memastikan struktur jalan tetap aman digunakan dalam jangka panjang. Warga juga berharap ada kajian mengenai sumber rembesan air laut sehingga penanganan yang dilakukan tidak sebatas menutup retakan di permukaan jalan. Jika sumber persoalan tidak ditangani, air dikhawatirkan kembali muncul dan memperparah kerusakan infrastruktur. Selain memperbaiki jalan, pemeriksaan terhadap kondisi tanggul dan sistem pengendalian air di kawasan Muara Baru Ujung juga dinilai penting. Hal tersebut diperlukan mengingat kawasan tersebut berada di wilayah pesisir yang memiliki kerentanan terhadap rob dan perubahan muka air laut. Tips Berkendara di Jalan yang Licin Sembari menunggu penanganan dari pemerintah, pengguna jalan di kawasan Muara Baru Ujung perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengendara sepeda motor sebaiknya mengurangi kecepatan ketika mendekati bagian jalan yang basah atau tergenang. Hindari melakukan pengereman mendadak maupun manuver secara tiba-tiba ketika melewati permukaan licin. Pengendara juga perlu menjaga jarak dengan kendaraan di depan agar memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengereman. Jika memungkinkan, pengendara dapat memilih bagian jalan yang permukaannya lebih kering dan menghindari retakan atau genangan yang cukup dalam. Pastikan kondisi ban kendaraan masih memiliki alur yang baik agar daya cengkeram tetap optimal. Bagi pengendara yang belum mengetahui kondisi jalan tersebut, kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama ketika melintas pada malam hari atau saat hujan dan air laut sedang pasang. Rembesan air laut yang telah berlangsung bertahun-tahun di Muara Baru Ujung menjadi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan ketahanan infrastruktur. Dengan kondisi jalan yang memiliki tanjakan, turunan, retakan, serta genangan sepanjang sekitar 10 meter, penanganan secara menyeluruh diharapkan dapat segera dilakukan. Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan pada permukaan jalan, tetapi juga mencari sumber rembesan dan memastikan tanggul serta sistem pengendalian air di kawasan tersebut berada dalam kondisi aman. Dengan begitu, akses warga dapat kembali digunakan dengan nyaman sekaligus mengurangi risiko kecelakaan akibat jalan yang basah dan licin. Penulis – Safira Aqsha Mun’ima

Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi di Klaten, 60 Sapi Ramaikan Jatinom

Puluhan sapi dari berbagai jenis memadati jalanan di wilayah Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pemandangan tak biasa tersebut menjadi bagian dari Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi yang digelar masyarakat sebagai upaya memperkenalkan potensi peternakan sekaligus melestarikan tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sedikitnya 9 hingga 10 peternak turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan membawa sekitar 60 ekor sapi dari berbagai jenis dan ukuran. Tidak hanya para peternak, masyarakat dari berbagai kalangan juga terlihat antusias menyaksikan pawai. Sejumlah anak bahkan mendapat kesempatan untuk merasakan pengalaman menunggang sapi maupun menaiki gerobak sapi yang menjadi salah satu ikon dalam kegiatan tersebut. Pawai ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman sapi yang dipelihara para peternak di Klaten sekaligus menunjukkan bahwa sektor peternakan memiliki potensi ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat setempat. “Karnaval Sapi” di Jatinom: Dari Kandang ke Jalanan Desa Kegiatan pawai menjadi salah satu cara untuk mendekatkan dunia peternakan kepada masyarakat. Selama ini, aktivitas peternak lebih banyak berlangsung di lingkungan kandang sehingga tidak semua orang mengetahui berbagai jenis sapi yang dipelihara maupun proses pemeliharaannya. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai jenis sapi dengan ukuran dan bobot yang berbeda. Kehadiran puluhan sapi dalam satu rangkaian pawai juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang untuk menyaksikan. Selain itu, gerobak sapi menjadi salah satu elemen penting dalam pawai. Gerobak yang ditarik menggunakan tenaga sapi tersebut merupakan bagian dari sejarah kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa. Dahulu, gerobak sapi banyak digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari sebelum kendaraan bermotor berkembang seperti sekarang. Melalui pawai ini, gerobak sapi tidak hanya ditampilkan sebagai alat transportasi tradisional, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas masyarakat pedesaan. Bagi masyarakat Klaten, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi terhadap profesi peternak sekaligus mendorong generasi muda agar lebih mengenal sektor peternakan dan budaya lokal. Iring-Iringan Sapi, Tawa Warga, dan Hangatnya Tradisi Desa Rangkaian kegiatan diawali dengan berkumpulnya para peternak dan peserta bersama sapi-sapi yang telah dipersiapkan. Setelah seluruh peserta siap, puluhan sapi kemudian berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan di kawasan Jatinom, dengan sebagian ditunggangi dan sebagian lainnya menarik gerobak. Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan tersebut. Anak-anak juga mendapat kesempatan mencoba menaiki sapi maupun gerobak sapi dengan pendampingan, sehingga suasana pawai berlangsung meriah dan penuh interaksi. Setelah pawai selesai, para peserta kembali berkumpul untuk bersilaturahmi dan bertukar pengalaman mengenai pemeliharaan sapi. Momen ini memperkuat hubungan sosial antarpeternak sekaligus menjadi ruang berbagi pengetahuan. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini memiliki dampak sosial, ekonomi, dan budaya. Dari sisi sosial, pawai mempererat silaturahmi. Dari sisi ekonomi, kegiatan ini memperkenalkan potensi peternakan lokal. Sementara dari sisi budaya, pawai menjadi sarana pelestarian gerobak sapi agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Bagi masyarakat Klaten, Pawai Sapi Tunggang dan Gerobak Sapi diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai wilayah dengan potensi peternakan yang kuat. Antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi yang dikemas secara menarik masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Perpaduan antara peternakan, budaya, dan hiburan membuat kegiatan ini dapat dinikmati berbagai kalangan usia. Pada akhirnya, pawai ini menjadi pengingat bahwa sapi dan gerobak bukan sekadar bagian dari aktivitas ekonomi masa lalu, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, kerja keras, dan gotong royong yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya di tengah arus modernisasi. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima

error: Content is protected !!