Bayi asal Desa Jolontoro, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang sempat menjadi perbincangan publik karena diberi nama Muhammad MBG Subianto, kini resmi berganti nama menjadi Muhammad Bintang Gemilang Subianto. Perubahan tersebut dilakukan setelah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Wonosobo memberikan edukasi kepada keluarga mengenai ketentuan pencatatan nama dalam dokumen administrasi kependudukan. Sebelumnya, nama bayi tersebut viral di media sosial karena menggunakan singkatan MBG, yang oleh orang tuanya dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas perubahan nasib keluarga sekaligus ungkapan kecintaan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Melalui nama tersebut, orang tua berharap doa, harapan, dan rasa terima kasih mereka dapat terus melekat pada sang buah hati. Alasan Orang Tua Menamai MBG Nama “MBG” dipilih bukan tanpa makna. Orang tua bayi tersebut mengaku ingin mengabadikan rasa syukur atas perubahan kondisi ekonomi keluarga serta sebagai bentuk apresiasi terhadap program pemerintah yang dinilai membantu masyarakat. Singkatan itu juga diharapkan menjadi doa agar sang anak kelak tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik dan penuh keberkahan. Namun, keinginan tersebut tidak dapat dicantumkan begitu saja dalam dokumen resmi negara. Sesuai ketentuan administrasi kependudukan, penggunaan singkatan dalam nama tidak diperbolehkan sehingga keluarga harus melakukan penyesuaian agar dokumen kependudukan anak dapat diterbitkan secara sah. Sebagai solusi, unsur “MBG” tetap dipertahankan, tetapi diubah menjadi bentuk kata yang sesuai dengan regulasi, yakni Muhammad Bintang Gemilang Subianto. Dengan demikian, makna yang ingin disampaikan keluarga tetap terjaga tanpa melanggar aturan administrasi yang berlaku. Peraturan Tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan Perubahan nama tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa nama yang dicantumkan dalam dokumen kependudukan tidak boleh menggunakan singkatan, harus mudah dibaca, tidak bermakna negatif, tidak menimbulkan multitafsir, terdiri atas minimal dua kata, serta memiliki panjang maksimal 60 huruf. Mengetahui adanya nama yang belum sesuai ketentuan, Disdukcapil Kabupaten Wonosobo kemudian melakukan pendekatan secara persuasif kepada keluarga. Petugas mendatangi orang tua bayi untuk memberikan penjelasan mengenai aturan tersebut sekaligus menawarkan solusi agar makna nama tetap dapat dipertahankan. Kepala Disdukcapil Kabupaten Wonosobo, Dwi Saraswati, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bermaksud membatasi hak orang tua dalam memberikan nama kepada anak. Menurutnya, langkah yang dilakukan semata-mata bertujuan memastikan nama yang dicantumkan memenuhi ketentuan hukum sehingga tidak menimbulkan kendala administrasi di kemudian hari. “Keluarga menerima penjelasan yang kami sampaikan dan mengikuti ketentuan yang diatur dalam Permendagri,” kata Dwi. Ia menjelaskan bahwa perubahan nama dilakukan berdasarkan kesepahaman bersama antara pihak keluarga dan Disdukcapil, tanpa adanya unsur paksaan. Dengan komunikasi yang baik, proses perubahan nama dapat berjalan lancar sekaligus tetap menghormati harapan yang ingin disematkan orang tua kepada anaknya. Proses pengajuan perubahan dokumen administrasi kependudukan dilakukan secara daring sejak pertengahan Juli 2026. Dalam proses tersebut, keluarga juga mendapat bantuan dari bidan yang menangani persalinan sehingga seluruh tahapan administrasi dapat diselesaikan dengan lebih mudah. Dwi Saraswati mengonfirmasi bahwa seluruh dokumen kependudukan baru telah resmi diterbitkan pada 23 Juli 2026. Dokumen yang telah diperbarui meliputi akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), serta Kartu Keluarga (KK) yang kini menggunakan nama resmi Muhammad Bintang Gemilang Subianto. Dengan terbitnya seluruh dokumen tersebut, bayi asal Wonosobo itu kini telah memiliki identitas hukum yang sah tanpa menghilangkan makna rasa syukur dan harapan yang ingin disampaikan kedua orang tuanya. Nama baru tersebut tetap merepresentasikan semangat yang sebelumnya terkandung dalam singkatan “MBG”, namun telah memenuhi seluruh persyaratan administrasi kependudukan. Menurut Dwi, kasus ini dapat menjadi contoh bahwa komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah dapat menyelesaikan persoalan administrasi kependudukan. Edukasi yang dilakukan secara persuasif dinilai lebih efektif dibandingkan pendekatan yang bersifat memaksa, sehingga masyarakat dapat memahami pentingnya mematuhi ketentuan yang berlaku. Disdukcapil juga mengimbau masyarakat agar memperhatikan regulasi ketika memberikan nama kepada anak. Orang tua diharapkan tidak hanya mengutamakan keunikan atau nilai simbolis sebuah nama, tetapi juga memastikan nama tersebut memenuhi ketentuan hukum agar tidak menyulitkan anak saat mengurus berbagai dokumen resmi di masa mendatang, seperti akta kelahiran, ijazah, paspor, maupun dokumen administrasi lainnya. Melalui penyelesaian yang mengedepankan dialog dan kesepahaman, perubahan nama Muhammad MBG Subianto menjadi Muhammad Bintang Gemilang Subianto menjadi contoh bahwa kepatuhan terhadap aturan administrasi dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai, doa, dan harapan yang ingin diwariskan orang tua kepada buah hatinya. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Monthly Archives: July 2026
Mengapa Banyak Orang Tua Memilih Push Bike untuk Anak? Ini Manfaatnya
Maraknya penggunaan gawai bagi anak-anak, membuat banyak orang tua yang mencari aktivitas fisik yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga mampu membantu perkembangan si kecil. Push bike atau sepeda tanpa pedal adalah salah satu aktivitas yang semakin populer di masa kini. Melatih kemampuan motorik, keseimbangan, hingga membangun rasa percaya diri bagi buah hati, sudah tentu olahraga ini menjadi pilihan yang tepat. Bukan hanya sebagai trend saja, melainkan juga sebagai media belajar yang efektif. Anak menggerakkan sepeda hanya dengan mendorong tanah menggunakan kedua kaki, kemudian mengangkatkan kaki ketika sepeda mulai melaju. Karena push bike tidak di lengkapi pedal maupun rantai, berbeda dengan sepeda pada umumnya. Dengan ini, anak dapat belajar menjaga keseimbangan secara alami tanpa bergantung pada roda bantu. Maka dari itu, banyak ahli perkembangan anak maupun pelatih olahraga yang merekomendasikan push bike untuk membantu tumbuh kembang sang anak. Push bike terus mejadi minat para orang tua karna dianggap mampu menggabungkan unsur olahraga, permainan, dan edukasi dalam satu aktivitas. Saat bermain, anak-anak dapat bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya, dapat bermain sambil bergerak aktif, serta melatih keberanian untuk mencoba tantangan baru. Cara Kerja Push Bike dan Tahapan Latihan Sebelum bermain push bike, biasanya anak-anak diajak untuk melakukan pemanasan ringan terlebih dahulu. Untuk mengurangi resiko cedera sekaligus mempersiapkan otot dan persendian anak. Lalu selanjutnya, Anak diperkenalkan pada roller push bike, yaitu alat berbentuk rol yang digunakan untuk melatih keseimbangan tanpa harus bergerak jauh. Latihan ini bertujuan untuk membantu anak agar dapat mengenali posisi tubuh, mengontrol setang, menjaga fokus, serta membiasakan diri mempertahankan keseimbangan ketika sepeda bergerak. Apabila anak sudah mulai percaya diri, latihan dilanjutkan dengan tahapan berikut: Menyesuaikan tinggi sadel agar kedua telapak kaki dapat menapak sempurna di tanah. Memakai perlengkapan keselamatan seperti helm, pelindung siku, dan pelindung lutut. Melakukan pemanasan ringan selama 5–10 menit. Berlatih keseimbangan menggunakan roller push bike. Mulai berjalan perlahan sambil mendorong sepeda menggunakan kedua kaki. Meningkatkan kecepatan secara bertahap dan mencoba mengangkat kaki saat sepeda meluncur. Berlatih mengendalikan arah, melakukan pengereman, dan berhenti dengan aman. Proses belajar dibuat menyerupai permainan agar anak merasa senang dan tidak terbebani apabila difokuskan pada kompetisi ataupun mengejar kemenagan. Prestasi hanyalah bonus, sedangkan tujuan utamanya adalah membangun kemampuan fisik, mental, dan juga karakter anak. Manfaat Push Bike bagi Tumbuh Kembang Anak Sebagian besar anak dapat menggunakan push bike dengan rentang usia 2 hingga 5 tahun, ketika kemampuan motorik kasarnya mulai berkembang dengan baik. karna pada usia tersebut, anak berada dalam fase emas perkembangan koordinasi tubuh sehingga aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Berbagai manfaat yang dapat diperoleh antara lain: Melatih keseimbangan tubuh secara alami tanpa roda bantu. Mengembangkan koordinasi antara tangan, kaki, dan penglihatan. Memperkuat otot kaki, pinggul, dan inti tubuh (core muscle). Meningkatkan konsentrasi serta kemampuan mengambil keputusan saat bergerak. Menumbuhkan rasa percaya diri karena anak belajar mengendalikan kendaraannya sendiri. Membantu menjaga postur tubuh agar tetap baik. Mengurangi risiko obesitas dengan meningkatkan aktivitas fisik harian. Mendukung kesehatan jantung dan paru-paru melalui olahraga yang dilakukan secara rutin. Mengajarkan disiplin, keberanian, dan kemandirian sejak dini. Push bike juga memberikan dampak positif terhadap mental anak. Saat berlatih bersama teman sebaya, anak belajar menunggu giliran, bekerja sama, menghargai orang lain, serta membangun sportivitas dalam suasana yang menyenangkan. Tips bagi Orang Tua Sebelum Memilih Push Bike Ada tips bagi orang tua yang ingin memperkenalkan push bike kepada anaknya agar pengalaman bermain tetap aman dan menyenangkan. Pertama, pilih push bike yang ukurannya sesuai dengan tinggi badan sang anak sehingga memudahkan kedua kakinya menapak dengan nyaman. Kedua, selalu kenakan perlengkapan keselamatan seperti helm, pelindung siku, dan pelindung lutut setiap kali berlatih. Ketiga, pilih lokasi latihan yang datar, luar, bebas kendaraan, dan memiliki permukaan yang aman. Sebagai orang tua, jangan memaksakan anak untuk segera mahir apalagi menekan sang anak. Berikan kesempatan kepada mereka untuk belajar sesuai kemampuan masing-masing. Sangat penting untuk menyelipkan sedikit pujian atas usaha yang anak lakukan dibandingkan menuntut anak untuk menang dalam perlombaan. Pada akhirnya, push bike dapat menjadi investasi bagi tumbuh kembag anak, bukan hanya sekedar olahraga atau permainan saja. Dengan aktivitas sederhana ini, anak dapat belajar menjaga keseimbangan, mengendalikan tubuh, membangun keberanian, hingga menikmati proses belajar dengan penuh kegembiraan. Sebagai orang tua, menjadi pendamping yang tepat dapat menjadi langkah awal yang menyenangkan membentuk anak yang aktif, sehat, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Tradisi Nirok Nanggok di Belitung Timur, Warisan Budaya Menangkap Ikan yang Masih Lestari
Musim kemarau yang identik dengan menyusutnya debit air sungai ternyata menjadi momen yang paling dinantikan oleh masyarakat Desa Jangkang dan sejumlah desa di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Ketika aliran sungai mulai surut dan membentuk kubangan-kubangan air, masyarakat berbondong-bondong mengikuti tradisi Nirok Nanggok, sebuah cara menangkap ikan secara tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Lebih dari itu, Nirok Nanggok merupakan simbol kebersamaan, gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus upaya melestarikan budaya lokal yang masih terus dijaga hingga saat ini. Setiap tahunnya, tradisi tersebut selalu berhasil menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan suasana penuh kegembiraan, kebersamaan, dan semangat menjaga warisan budaya leluhur. Mengutip berbagai sumber mengenai budaya masyarakat Belitung, Nirok Nanggok merupakan salah satu cara tradisional masyarakat Belitung dalam menangkap ikan ketika musim kemarau tiba. Tradisi ini dilakukan saat permukaan air sungai menyusut sehingga ikan-ikan terkumpul di kubangan-kubangan air yang dalam bahasa Belitung disebut lembong. Kondisi inilah yang dimanfaatkan masyarakat untuk menangkap ikan secara bersama-sama. Nama Nirok Nanggok sendiri berasal dari dua alat utama yang digunakan dalam kegiatan tersebut, yakni tirok dan tanggok. Tirok merupakan tombak tradisional berbahan kayu dengan mata besi runcing sepanjang kurang lebih tiga meter yang digunakan untuk menusuk ikan. Sementara tanggok adalah keranjang rotan yang diberi bingkai kayu dan berfungsi sebagai alat menangkap maupun menampung ikan. Pada masa lalu, tradisi ini lazim digelar di berbagai desa di wilayah daratan Pulau Belitung. Kemarau panjang menjadi syarat utama penyelenggaraannya karena debit air sungai harus benar-benar menyusut agar ikan terkonsentrasi di lembong. Dengan kondisi tersebut, masyarakat dapat memperoleh hasil tangkapan yang melimpah menggunakan alat-alat tradisional tanpa merusak ekosistem sungai. Meski tampak seperti kegiatan menangkap ikan biasa, Nirok Nanggok memiliki nilai budaya yang tinggi. Di balik pelaksanaannya terdapat rangkaian prosesi adat yang harus dipatuhi masyarakat. Beberapa tahapan bahkan bersifat sakral dan mengandung aturan adat yang tidak boleh dilanggar oleh peserta. Tahapan Pelaksanaan Nirok Nanggok Secara umum, pelaksanaan Nirok Nanggok terdiri atas dua tahapan utama, yakni proses sebelum pelaksanaan dan proses ketika tradisi berlangsung. Tahapan pertama dimulai jauh sebelum masyarakat turun ke sungai. Dalam tahap ini, Dukun Kampung dan Dukun Air memiliki peran penting untuk menentukan hari dan tanggal terbaik pelaksanaan tradisi. Selain menentukan waktu, mereka juga meninjau lokasi sungai atau lembong yang dinilai layak digunakan. Tidak semua sungai yang surut dapat dijadikan lokasi Nirok Nanggok. Hanya sungai yang memiliki jumlah ikan melimpah yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan. Pengetahuan mengenai lokasi tersebut dipercaya hanya dimiliki oleh Dukun Kampung dan Dukun Air berdasarkan pengalaman serta pengetahuan turun-temurun. Setelah lokasi dipastikan, masyarakat diberi pemberitahuan agar mempersiapkan perlengkapan seperti tirok dan tanggok. Persiapan tersebut menjadi bagian penting karena seluruh warga, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, akan ikut serta dalam kegiatan tersebut. Saat hari pelaksanaan tiba, seluruh warga berkumpul di lokasi yang telah ditentukan. Sebelum memasuki sungai, masyarakat terlebih dahulu menunggu Dukun Kampung dan Dukun Air memimpin doa bersama. Doa tersebut dipanjatkan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta seluruh peserta dijauhkan dari berbagai bahaya, seperti tertusuk tirok, terkena gigitan ular, maupun gangguan lain selama berada di sungai. Dalam tradisi ini juga terdapat penggunaan buah pinang dan daun sirih sebagai bagian dari prosesi adat. Sejak dahulu, kedua benda tersebut dipercaya dapat menjadi simbol permohonan keselamatan sekaligus mengusir gangguan makhluk gaib selama pelaksanaan acara. Buah pinang dibungkus menggunakan daun sirih, kemudian diletakkan di sekitar lokasi hingga kegiatan selesai. Masyarakat meyakini bahwa tanpa keberadaan pinang dan daun sirih tersebut, pelaksanaan Nirok Nanggok tidak dapat dilangsungkan. Setelah seluruh prosesi adat selesai, warga secara serentak turun ke sungai untuk berburu ikan menggunakan tirok, tanggok, jala, maupun alat tangkap tradisional lainnya. Suasana pun berubah menjadi sangat meriah dengan riuh tawa, sorak-sorai, dan semangat kebersamaan yang begitu terasa. Kegiatan biasanya berakhir ketika wadah yang dibawa masyarakat telah penuh dengan hasil tangkapan. Namun, sebagian warga akan terus mencari ikan apabila hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Salah satu jenis ikan yang paling diburu adalah ikan baung. Ikan air tawar ini menjadi favorit karena memiliki kandungan protein tinggi, kaya omega-3, dan rendah lemak sehingga dipercaya baik untuk kesehatan. Menariknya, meskipun masyarakat diperbolehkan menangkap ikan sebanyak mungkin, tradisi ini tetap mengedepankan prinsip pelestarian alam. Sebagian ikan yang masih berukuran kecil atau belum layak konsumsi biasanya dilepaskan kembali ke sungai agar populasinya tetap terjaga untuk generasi berikutnya. Tujuan dan Makna Nirok Nanggok Di balik kemeriahannya, Nirok Nanggok memiliki fungsi sosial dan budaya yang sangat kuat. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus menjadi media untuk mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Selain itu, tradisi ini juga berfungsi mempererat hubungan antarmasyarakat. Ketika hampir seluruh warga desa berkumpul dalam satu lokasi, tercipta ruang interaksi sosial yang memperkuat rasa persaudaraan, solidaritas, dan semangat gotong royong. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Belitung Timur. Camat Dendang, Susiawati, juga menegaskan pentingnya tradisi ini sebagai sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. “Ini adalah salah satu sarana berkumpulnya masyarakat desa. Jadi, di sini mereka berinteraksi, bersatu, sama-sama mencari ikan,” ungkap Susiawati. Keceriaan masyarakat menjadi pemandangan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Nirok Nanggok. Mulai dari anak-anak hingga orang tua larut dalam suasana penuh sukacita ketika berburu ikan bersama. Tawa, canda, dan semangat saling membantu menciptakan pengalaman yang bukan hanya menghasilkan tangkapan ikan, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antarwarga. Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi alat tangkap ikan, Nirok Nanggok tetap bertahan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan ekologis. Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Belitung Timur tidak hanya menjaga adat istiadat leluhur, tetapi juga terus menanamkan nilai kebersamaan, pelestarian lingkungan, serta rasa syukur kepada generasi penerus agar budaya lokal tetap hidup dan dikenal luas hingga masa mendatang. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Mengenal Lolorian Garut, Permainan Tradisional Seru dan Edukatif yang Kembali Dihidupkan
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya permainan digital, masyarakat Kampung Ciherang, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menghidupkan permainan tradisional bernama Lolorian. Permainan yang sekilas menyerupai mini roller coaster ini berhasil menarik perhatian masyarakat karena menawarkan sensasi meluncur yang memacu adrenalin sekaligus menjadi sarana melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Lolorian merupakan permainan tradisional khas Kampung Ciherang yang memanfaatkan lintasan sederhana dari pelepah atau batang pohon aren sebagai rel, serta kereta luncur kecil yang terbuat dari kayu dan bambu. Pengunjung akan meluncur mengikuti lintasan menurun sepanjang sekitar 120 meter hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi. Meski terlihat sederhana, sensasi yang dihadirkan mampu memberikan pengalaman yang seru bagi siapa saja yang mencobanya. Tidak hanya digemari anak-anak, permainan ini juga menarik minat orang dewasa hingga lansia. Banyak warga maupun wisatawan sengaja datang untuk merasakan kembali permainan yang sempat menjadi bagian dari masa kecil masyarakat Garut. Kehadiran Lolorian kini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata berbasis budaya di Kabupaten Garut. Berawal dari Gagasan Abah Koko Sejak 1965 Permainan Lolorian telah ada sejak sekitar tahun 1965. Permainan ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang warga Kampung Ciherang yang dikenal dengan nama Abah Koko. Pada masa itu, Lolorian menjadi hiburan favorit masyarakat, terutama saat bulan Ramadan. Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, anak-anak hingga remaja berkumpul untuk bermain Lolorian sambil menunggu azan Magrib atau melakukan kegiatan ngabuburit. Suasana kebersamaan tersebut menjadikan permainan ini sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Seiring berkembangnya zaman, popularitas Lolorian sempat menurun karena tergeser oleh berbagai permainan modern dan penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Kampung Ciherang kembali menghidupkan permainan tersebut sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap telepon pintar sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. Permainan ini dimainkan secara bergiliran sehingga setiap anak belajar menunggu giliran, menghargai teman, dan saling berinteraksi secara langsung. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kesabaran, kerja sama, dan komunikasi menjadi bagian penting yang tumbuh melalui aktivitas bermain tersebut. Memanfaatkan Bahan Alami dan Kearifan Lokal Keunikan Lolorian juga terlihat dari material yang digunakan. Rel permainan dibuat dari batang pohon aren dengan lebar sekitar 20 sentimeter yang disusun mengikuti kontur tanah. Sementara itu, kereta luncurnya dibuat dari papan bambu berukuran sekitar 27 sentimeter yang dirancang agar dapat meluncur dengan stabil di atas lintasan. Selain bambu dan batang aren, masyarakat juga memanfaatkan bahan alami lain seperti kayu dan pinang untuk melengkapi konstruksi permainan. Pemanfaatan material lokal tersebut mencerminkan kearifan masyarakat dalam menciptakan hiburan yang sederhana, murah, ramah lingkungan, sekaligus aman digunakan. Seluruh proses pembuatan dilakukan secara gotong royong oleh warga sehingga Lolorian tidak hanya menjadi permainan, tetapi juga mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Mengajarkan Prinsip Sains Melalui Permainan Di balik keseruannya, Lolorian ternyata juga mengandung unsur edukasi. Cara memainkan permainan ini cukup sederhana. Anak-anak mendorong papan bambu menuju titik tertinggi lintasan, kemudian membiarkannya meluncur mengikuti gaya gravitasi hingga mencapai bagian bawah rel. Secara tidak langsung, permainan ini memperkenalkan konsep dasar ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Lolorian memadukan prinsip gravitasi, keseimbangan, dan gaya gesek dalam satu permainan sederhana. Anak-anak belajar bahwa posisi duduk sangat memengaruhi kecepatan serta kestabilan papan saat meluncur. Mereka juga memahami pentingnya menjaga keseimbangan tubuh agar tetap berada di atas rel selama perjalanan. Aktivitas tersebut membantu melatih koordinasi motorik, keberanian, konsentrasi, serta ketelitian dalam mengambil posisi yang tepat saat bermain. Menjadi Wisata Edukasi dan Pelestarian Budaya Kini, masyarakat Kampung Ciherang terus mengembangkan Lolorian agar dapat dinikmati sepanjang tahun dan tidak hanya ramai saat Ramadan. Berbagai pembenahan dilakukan, mulai dari penataan lintasan, peningkatan aspek keselamatan, hingga promosi melalui media sosial agar lebih dikenal masyarakat luas. Kehadiran Lolorian diharapkan mampu menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus wisatawan. Di tengah dominasi permainan digital, Lolorian membuktikan bahwa permainan tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman bermain yang melibatkan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan pembelajaran secara langsung. Melalui pelestarian permainan seperti Lolorian, masyarakat Garut tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga mengajak generasi muda untuk kembali menikmati permainan tradisional yang kaya akan nilai kebersamaan, kreativitas, serta pembelajaran. Upaya ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup dan berkembang apabila dijaga serta dikenalkan secara berkelanjutan kepada masyarakat. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Lady Punk Mondy Tatto Ditangkap Terkait Kasus Penusukan Pengamen Punk di Cikarang Barat
Aparat kepolisian dari Polsek Cikarang Barat berhasil mengungkap kasus penganiayaan yang berujung tewasnya seorang pengamen punk berinisial FA alias K di wilayah Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Dalam kasus tersebut, polisi menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni DD yang diduga sebagai pelaku utama penusukan dan Mondy Tatto yang diduga turut melakukan penganiayaan terhadap korban. Keduanya diamankan di Kampung Kaum Kalijeruk, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, pada Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Pengungkapan perkara dilakukan oleh Unit Reserse Kriminal Polsek Cikarang Barat yang dipimpin Kapolsek Cikarang Barat Kompol Dimmas Adhit Putranto bersama Kanit Reskrim AKP Engkus Kusnadi. Kronologi Peristiwa Kapolsek Cikarang Barat Kompol Dimmas Adhit Putranto menjelaskan, peristiwa bermula pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu korban FA sedang berkumpul bersama sejumlah rekannya di depan sebuah salon di kawasan Kalijaya. Tidak lama kemudian, tersangka DD datang bersama seorang perempuan menggunakan sepeda motor milik DRA. Menurut hasil penyelidikan, korban bermaksud meminjam sepeda motor tersebut. Namun permintaan itu justru memicu perselisihan antara korban dan DD hingga berujung adu mulut. Ketegangan kemudian meningkat menjadi perkelahian. Korban dan DD saling pukul serta bergulat di tengah jalan meskipun beberapa warga dan rekan mereka sempat berusaha melerai. Dalam insiden tersebut, Mondy Tatto diduga ikut melakukan pemukulan terhadap korban. “Saat keributan masih berlangsung, DRA keluar dari salon dan diduga ikut melakukan kekerasan terhadap korban dengan cara memukul, menarik kaki, serta menjambak rambut korban,” ujar Kompol Dimmas Adhit Putranto, Kamis (23/7/2026). Berdasarkan keterangan para saksi, korban juga mengalami tindakan kekerasan lain. Kepalanya disebut sempat dibenturkan ke kendaraan yang berada di sekitar lokasi kejadian sebelum akhirnya perkelahian berhasil dihentikan oleh warga. Setelah situasi mereda, korban dibawa pulang oleh rekan-rekannya. Namun konflik tersebut ternyata belum berakhir. Berselang beberapa waktu, perselisihan kembali terjadi di sebuah rumah kontrakan di wilayah yang sama. Di lokasi inilah kekerasan meningkat menjadi tindak pidana yang lebih serius. Polisi mengungkapkan bahwa DD diduga menusuk korban menggunakan senjata tajam. Korban yang mengalami luka serius segera dilarikan oleh rekan-rekannya ke Rumah Sakit Bakti Husada untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayangnya, nyawa FA tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia sesaat setelah tiba di rumah sakit. Mendapatkan laporan dari masyarakat, jajaran Polsek Cikarang Barat langsung bergerak melakukan penyelidikan. Berbekal keterangan saksi, olah tempat kejadian perkara, serta sejumlah petunjuk lainnya, polisi berhasil melacak keberadaan pelaku utama. Hanya dalam hitungan jam setelah kejadian, tersangka utama penusukan berhasil di amankan di wilayah Tambelang, Bekasi, ungkap Kompol Dimmas. Sementara itu, Mondy Tatto juga berhasil diamankan untuk mempertanggungjawabkan dugaan keterlibatannya dalam aksi pengeroyokan terhadap korban. Keduanya kemudian dibawa ke Polsek Cikarang Barat guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dalam proses penyidikan, polisi turut menyita sejumlah barang bukti, termasuk satu buah flashdisk yang diduga berisi data atau rekaman yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Barang bukti itu kini masih didalami untuk memperkuat pembuktian dalam proses hukum. Dipicu Masalah Asmara Di sisi lain, Ketua RT setempat, Boy Sandi, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diperolehnya dari warga, pertikaian tersebut diduga dipicu persoalan asmara. Menurutnya, ketegangan antara para pengamen punk itu sebenarnya telah terjadi sejak sehari sebelum kejadian. “Kami tidak mengetahui secara pasti awal kejadiannya. Informasinya mereka sempat cekcok sejak sore, lalu menjelang subuh ada warga yang melapor. Saat kami tiba di lokasi, korban sudah dibawa ke rumah sakit,” kata Boy. Ia menambahkan bahwa dugaan sementara konflik tersebut dipicu oleh rasa cemburu. “Sepertinya ada motif asmara karena rasa cemburu,” ujarnya. Hingga kini penyidik masih terus mendalami kasus tersebut untuk melengkapi alat bukti serta memastikan peran masing-masing pihak dalam insiden yang menyebabkan korban meninggal dunia. Polisi juga membuka kemungkinan adanya fakta baru apabila ditemukan keterangan tambahan selama proses penyidikan berlangsung. Atas dugaan perbuatannya, DD dan Mondy Tatto dijerat dengan Pasal 458 ayat (1) dan/atau Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Keduanya kini menjalani proses hukum di Polsek Cikarang Barat sembari menunggu tahapan penyidikan lebih lanjut. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Hari Anak Nasional 2026, Momentum Memastikan Hak dan Perlindungan Anak Indonesia
Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa anak-anak merupakan aset berharga sekaligus calon pemimpin masa depan. Peringatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat akan pentingnya memenuhi hak-hak anak agar mereka dapat tumbuh, belajar, bermain, dan berkembang secara optimal di lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang. Anak-anak adalah generasi penerus yang akan menentukan arah pembangunan bangsa di masa depan. Oleh karena itu, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi sejak dini melalui pendidikan yang berkualitas, pembentukan karakter yang kuat, serta lingkungan yang mendukung kreativitas, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk bermimpi. Namun, di balik berbagai harapan tersebut, kondisi anak di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak. Masih Banyak Kasus Kekerasan Terhadap Anak Berbagai kasus kekerasan terhadap anak masih terus terjadi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang digital. Sepanjang tahun 2026, sejumlah peristiwa yang melibatkan anak kembali menjadi perhatian publik, mulai dari kasus perundungan (bullying), kekerasan fisik dan seksual, eksploitasi anak, hingga maraknya kejahatan di dunia maya yang menyasar anak-anak. Selain itu, persoalan kesehatan mental anak juga semakin mengemuka akibat tekanan sosial, penggunaan media digital yang tidak terkendali, serta kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan diri. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang tumbuh dengan luka, baik secara fisik maupun psikologis. Luka-luka tersebut tidak hanya memengaruhi masa kecil mereka, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan apabila tidak segera ditangani secara menyeluruh. Karena itu, peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang benar-benar ramah anak. Tema tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, memperoleh hak yang sama dalam mengakses pendidikan, perlindungan, kesehatan, serta kesempatan berkembang sesuai potensi masing-masing. Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, hingga organisasi pemerhati anak, diharapkan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Perlindungan terhadap anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh lapisan masyarakat. Ruang Aman untuk Anak Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menciptakan ruang aman, baik di lingkungan rumah maupun di dunia digital. Rumah seharusnya menjadi tempat pertama yang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan perlindungan bagi anak. Orang tua memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang terbuka, mendampingi proses tumbuh kembang anak, serta memberikan teladan yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menuntut orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak. Akses internet yang semakin mudah membuka peluang besar bagi anak untuk belajar, tetapi juga menghadirkan berbagai risiko seperti perundungan siber, penyebaran konten negatif, penipuan daring, hingga eksploitasi anak melalui media digital. Oleh sebab itu, literasi digital serta pendampingan penggunaan gawai menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan anak di era modern. Dalam menjalankan fungsi perlindungan anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memiliki peran strategis sebagai lembaga independen yang bertugas mengawasi pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan hak anak di Indonesia. KPAI menerima pengaduan masyarakat, melakukan pengawasan terhadap berbagai kasus yang melibatkan anak, memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah, serta mendorong penyelesaian kasus dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak. Kehadiran KPAI menjadi salah satu bentuk komitmen negara dalam memastikan setiap anak memperoleh perlindungan sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Selain KPAI, pemerintah juga memanfaatkan data sebagai dasar penyusunan kebijakan perlindungan anak. Salah satu sumber informasi tersebut berasal dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas), yaitu platform yang menyajikan data statistik dan informasi mengenai berbagai tindak pidana yang ditangani Kepolisian Republik Indonesia, termasuk kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun pelaku. Data yang tersedia di Pusiknas menjadi salah satu referensi penting dalam memetakan tren kejahatan, mengevaluasi efektivitas kebijakan, serta merancang langkah-langkah pencegahan yang lebih tepat sasaran. Jangan Sekedar Seremonial Peringatan Hari Anak Nasional 2026 hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Momentum ini harus menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghadirkan lingkungan yang lebih ramah anak, baik di rumah, sekolah, ruang publik, maupun dunia digital. Anak-anak Indonesia berhak tumbuh tanpa rasa takut, memperoleh pendidikan yang layak, mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, serta memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi mereka. Melindungi anak bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua atau pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen bangsa. Sebab, masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana bangsa ini menjaga, mendidik, dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini. Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil untuk melindungi anak adalah investasi besar bagi masa depan Indonesia yang lebih aman, inklusif, dan berdaya saing. Penulis: Safira Aqsha Mun’ima
Belajar Coding Secara Otodidak, Ibrahim Al-Abrar Berhasil Raih Pengakuan dari NASA
Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Ibrahim Al-Abrar, siswa kelas VI SD Negeri Genengsari 3, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, berhasil mengharumkan nama bangsa setelah menemukan kerentanan keamanan (bug) pada salah satu sistem publik milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Temuan tersebut kemudian dilaporkan melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA dan berhasil diverifikasi oleh tim keamanan siber lembaga tersebut. Atas kontribusinya, Ibrahim menerima surat apresiasi resmi dari NASA sebagai bentuk penghargaan atas pelaporan yang bertanggung jawab. Keberhasilan Ibrahim menjadi sorotan karena usianya yang masih sangat muda. Di tengah kesibukannya sebagai siswa sekolah dasar, ia mampu menguasai dasar-dasar pemrograman hingga keamanan siber secara mandiri. Prestasi tersebut membuktikan bahwa kemampuan di bidang teknologi tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh rasa ingin tahu, konsistensi belajar, dan kemauan untuk terus mengembangkan diri. Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia teknologi berawal saat dirinya duduk di bangku kelas III sekolah dasar. Awalnya, ia gemar bermain gim di telepon genggam. Melihat minat tersebut, orang tuanya tidak langsung membatasi penggunaan gawai, melainkan mengarahkannya agar memahami bagaimana sebuah gim dibuat. Dari situlah Ibrahim mulai mempelajari logika pemrograman sebagai fondasi sebelum mengenal berbagai bahasa pemrograman. Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar gratis di internet, Ibrahim mempelajari coding secara otodidak melalui video YouTube, artikel teknologi, forum pemrograman, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping belajar. Memasuki kelas V, ia mulai mencoba membuat situs web sederhana dan tertarik mendalami bidang keamanan siber (cyber security). Rasa penasarannya terhadap cara kerja sebuah sistem membuatnya mempelajari teknik pengujian keamanan secara etis (ethical hacking) agar mampu menemukan celah keamanan tanpa merusak sistem. Menurut orang tua Ibrahim, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan kemampuan putranya. Mereka selalu berusaha mendampingi proses belajar Ibrahim dengan memberikan akses terhadap bahan pembelajaran serta mengawasi aktivitasnya di internet agar tetap digunakan untuk hal-hal yang positif. “Kami hanya berusaha mendukung apa yang menjadi minatnya. Awalnya memang dari bermain gim, tetapi kemudian kami arahkan untuk belajar bagaimana teknologi itu bekerja. Kami bersyukur ia mau terus belajar dengan tekun,” ujar orang tua Ibrahim. Prestasi terbesar Ibrahim bermula ketika ia menemukan dugaan kerentanan pada salah satu domain publik milik NASA. Setelah melakukan pengecekan secara hati-hati sesuai prinsip ethical hacking, Ibrahim tidak menyalahgunakan celah tersebut. Sebaliknya, ia memilih mengikuti prosedur resmi dengan mengirimkan laporan melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) yang disediakan NASA bagi para peneliti keamanan dari seluruh dunia. Dalam proses pelaporannya, Ibrahim menyusun laporan teknis yang berisi empat temuan kerentanan (bug report) beserta penjelasan mengenai potensi dampak dan langkah-langkah reproduksi temuan tersebut. Seluruh laporan dikirim melalui mekanisme resmi yang telah disediakan NASA agar dapat diverifikasi oleh tim keamanan siber mereka. Setelah melalui proses evaluasi, tim NASA menyatakan bahwa temuan Ibrahim valid dan memenuhi ketentuan program VDP. Sebagai bentuk apresiasi atas pelaporan yang bertanggung jawab, NASA kemudian mengirimkan surat penghargaan yang mengakui kontribusinya dalam membantu meningkatkan keamanan sistem mereka. Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Dinas Pendidikan Kabupaten Boyolali menyebut prestasi Ibrahim menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa pelajar Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional apabila mendapatkan dukungan dan akses pembelajaran yang memadai. “Pencapaian Ibrahim menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mampu berprestasi di bidang teknologi jika diberi ruang untuk berkembang. Kami berharap prestasi ini dapat menginspirasi pelajar lain agar semakin tertarik mempelajari sains, teknologi, dan keamanan siber,” ujar perwakilan pemerintah daerah. Kisah Ibrahim Al-Abrar menjadi inspirasi bahwa semangat belajar, rasa ingin tahu, serta pemanfaatan teknologi secara positif dapat membuka peluang meraih prestasi di tingkat dunia. Di usia yang masih belia, ia telah membuktikan bahwa kemampuan dan dedikasi mampu mengantarkan seorang pelajar Indonesia memperoleh pengakuan dari salah satu lembaga paling bergengsi di dunia. Prestasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa talenta digital generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan berkontribusi dalam dunia teknologi global.
Pramono Anung Minta Maaf, Gedung SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang Roboh Segera Direnovasi
Kondisi memprihatinkan masih menyelimuti SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan. Hampir dua tahun setelah sebagian bangunan sekolah roboh, proses perbaikan hingga kini belum juga terealisasi. Rangka atap yang ambruk menghancurkan sejumlah ruang kelas, sementara puing-puing bangunan, genteng, serta material konstruksi lainnya masih berserakan di lingkungan sekolah. Akibatnya, ratusan siswa terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah lain karena gedung utama dinilai tidak lagi aman digunakan. Berdasarkan keterangan para orang tua murid, peristiwa robohnya gedung sekolah tidak terjadi dalam satu waktu. Orang tua siswa kelas V, Afrida (33), yang akrab disapa Evi, menceritakan bahwa kerusakan terjadi secara bertahap saat masa libur Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 November 2024. Beruntung, saat itu kegiatan belajar mengajar sedang diliburkan sehingga tidak ada siswa maupun guru yang berada di dalam sekolah ketika bangunan mulai mengalami kerusakan. “Warga sekitar aja yang (tahu), dari warga sekitar awalnya itu pagi hari sekitar jam 06.30 atau jam 07.00-an lah, sekitar jam segitu. Robohnya itu juga nggak langsung, pelan, nggak langsung ‘bruk’ seperti ini. Pelan,” cerita Evi. Menurut Evi, setelah kejadian tersebut sebagian bangunan dinyatakan tidak layak digunakan. Namun hingga kini, proses renovasi belum juga dimulai. Material bangunan yang roboh masih terlihat menumpuk di beberapa sudut sekolah sehingga menambah kesan terbengkalai. Selama hampir dua tahun terakhir, sebanyak 274 siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 harus menjalani kegiatan belajar mengajar dengan menumpang di sekolah lain. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran menjadi kurang optimal. Selain harus menyesuaikan jadwal penggunaan ruang kelas, para siswa juga membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang berbeda. Para orang tua mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Mereka berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait renovasi gedung sekolah agar anak-anak dapat kembali belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan memadai. “Cuma kita ingin Pemprov DKI bisa tolong bantu untuk sekolah kami ini gitu kan, agar disegerakan, anak-anak agar bisa nyaman untuk belajar kembali seperti biasanya gitu,” sebut Evi. Kondisi bangunan saat ini masih memperlihatkan kerusakan yang cukup parah. Beberapa ruang kelas tidak lagi memiliki atap, rangka baja terlihat rusak, sementara puing-puing bangunan masih menumpuk di area sekolah. Kondisi tersebut membuat sebagian besar fasilitas pendidikan tidak dapat dimanfaatkan dan berpotensi membahayakan apabila belum dibersihkan secara menyeluruh. Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa pemerintah provinsi akan segera melakukan perbaikan terhadap gedung sekolah. Ia mengaku baru mengetahui kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena penanganan belum dilakukan lebih cepat. Pramono memastikan proses renovasi akan segera dimulai. Selain membangun kembali gedung sekolah yang rusak, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan membersihkan seluruh puing bangunan yang masih berada di lokasi agar pekerjaan konstruksi dapat segera dilaksanakan. “Kami akan segera membersihkan puing-puing yang masih ada dan mempercepat proses renovasi. Anak-anak harus mendapatkan fasilitas pendidikan yang aman dan layak,” katanya. Rencana perbaikan tersebut disambut baik oleh para orang tua murid. Mereka berharap komitmen yang telah disampaikan pemerintah dapat segera direalisasikan sehingga para siswa tidak lagi harus menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah lain. Bagi mereka, keberadaan gedung sekolah yang aman dan nyaman merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa harus dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fasilitas belajar. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan bahwa pembangunan kembali gedung SDN Kebayoran Lama Selatan 09 telah masuk dalam perencanaan anggaran dan dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 2027. Bagi para siswa dan orang tua, rencana tersebut menjadi secercah harapan setelah hampir dua tahun menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah lain akibat kondisi gedung yang rusak. Mereka berharap proses pembangunan benar-benar terealisasi sesuai rencana, sehingga para siswa dapat kembali belajar di lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan memiliki fasilitas yang memadai.
Sisingaan Subang, Warisan Budaya Sunda yang Lahir dari Semangat Perlawanan
Sisingaan merupakan warisan budaya khas Subang yang sarat makna perlawanan dan terus beradaptasi di era modern. Kesenian ini menjadi salah satu identitas penting masyarakat Sunda di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sisingaan dikenal melalui pertunjukan arak-arakan yang menampilkan seorang anak duduk di atas replika singa yang dipikul oleh empat orang, lalu diiringi alunan musik tradisional Sunda serta atraksi para pengusung yang lincah dan penuh semangat. Di balik kemeriahannya, Sisingaan menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan semangat perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kesenian ini diperkirakan mulai berkembang pada masa penjajahan Belanda, sekitar pertengahan abad ke-19, ketika masyarakat Subang hidup di tengah kondisi sosial dan politik yang tidak menguntungkan. Pada masa itu, wilayah Subang menjadi salah satu daerah perkebunan yang dikuasai perusahaan-perusahaan kolonial, termasuk perusahaan asal Inggris dan Belanda yang menggunakan lambang singa sebagai simbol kekuasaan. Dari situ, masyarakat kemudian menciptakan pertunjukan Sisingaan sebagai bentuk kritik sekaligus simbol perlawanan terhadap penjajah. Replika singa yang dipikul oleh rakyat dimaknai sebagai gambaran bahwa kekuasaan kolonial dapat diangkat atau bahkan dikuasai oleh masyarakat pribumi. Karena disampaikan melalui seni pertunjukan, pesan perlawanan tersebut dapat diterima masyarakat tanpa memicu kecurigaan pemerintah kolonial pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, Sisingaan tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga berkembang menjadi tradisi yang erat kaitannya dengan berbagai perayaan masyarakat, terutama khitanan, peringatan hari jadi daerah, penyambutan tamu kehormatan, hingga festival budaya. Di balik pertunjukannya yang meriah, Sisingaan memiliki filosofi yang mendalam. Patung singa melambangkan kekuatan, keberanian, dan simbol kekuasaan yang pada masa lalu dikaitkan dengan kolonialisme. Ketika replika singa itu dipikul oleh empat orang, hal tersebut mencerminkan semangat gotong royong, persatuan, dan kerja sama masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan. Sementara itu, anak yang duduk di atas singa melambangkan harapan bagi generasi penerus agar tumbuh menjadi pribadi yang berani, tangguh, dan mampu menghadapi kehidupan. Dalam tradisi khitanan, arak-arakan Sisingaan juga menjadi simbol perjalanan seorang anak menuju fase kedewasaan serta doa agar kelak menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Filosofi tersebut menjadikan Sisingaan bukan sekadar hiburan, melainkan juga media pendidikan budaya yang mengajarkan nilai keberanian, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta kecintaan terhadap warisan leluhur. Pertunjukan Sisingaan sendiri terdiri atas berbagai unsur yang saling melengkapi. Elemen utamanya adalah replika singa yang dibuat dari kayu, bambu, dan bahan ringan lainnya, kemudian dihias dengan kain berwarna-warni agar tampak menarik. Replika tersebut dipikul oleh empat orang yang bergerak mengikuti irama musik. Pertunjukan ini diiringi seperangkat alat musik tradisional Sunda, seperti kendang, gong, bonang, kecrek, dan terompet atau tarompet Sunda. Irama musik yang dinamis membuat suasana arak-arakan menjadi lebih semarak sekaligus memberi semangat kepada para pengusung untuk menampilkan berbagai atraksi, seperti gerakan berputar, mengangkat tandu, hingga memainkan keseimbangan replika singa. Selain itu, para pemain umumnya mengenakan busana adat Sunda dengan warna-warna cerah yang memperkuat nuansa tradisional. Dalam beberapa pertunjukan modern, Sisingaan juga dipadukan dengan tari kreasi, pencak silat, hingga pertunjukan seni kontemporer untuk menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Memasuki era modern, eksistensi sisingaan menghadapi berbagai tantangan. Perubahan gaya hidup masyarakat, berkembangnya hiburan digital, serta tingginya biaya penyelenggaraan pertunjukan membuat frekuensi pementasan Sisingaan mulai berkurang dibandingkan beberapa dekade lalu. Tidak sedikit kelompok seni yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan aktivitasnya karena minimnya permintaan pertunjukan. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh para seniman, komunitas budaya, dan Pemerintah Kabupaten Subang. Sisingaan kini rutin ditampilkan dalam festival budaya, peringatan Hari Jadi Kabupaten Subang, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, serta berbagai agenda promosi pariwisata daerah. Kehadirannya juga mulai diperkenalkan kepada pelajar melalui kegiatan ekstrakurikuler, pentas seni sekolah, dan edukasi budaya. Di sisi lain, sejumlah kelompok Sisingaan melakukan inovasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Mereka menghadirkan koreografi yang lebih atraktif, memadukan unsur musik modern tanpa menghilangkan ciri khas tradisional, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi untuk menjangkau generasi muda. Sebagai salah satu warisan budaya khas Jawa Barat, sisingaan memiliki nilai sejarah yang tidak hanya menggambarkan kreativitas masyarakat Sunda, tetapi juga merekam semangat perjuangan melawan penjajahan melalui jalur seni. Pelestarian sisingaan menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.
Hari Pertama Sekolah Penuh Keseruan, dari Tradisi Berebut Bangku hingga MPLS Bertema Dunia Bawah Laut
Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi momen yang penuh antusias bagi siswa, orang tua, dan para guru di berbagai daerah di Indonesia. Di banyak sekolah dasar, suasana awal tahun ajaran baru kerap diwarnai tradisi khas yang mencerminkan perhatian besar keluarga terhadap pendidikan anak. Fenomena ini juga terlihat di SDN Mangli 03 Jember, Jawa Timur, yang menjadi salah satu potret nyata bagaimana masyarakat Indonesia memaknai hari pertama sekolah sebagai momen penting bagi masa depan anak. Di SDN Mangli 03 Jember, para orang tua datang sejak dini hari untuk memastikan anak mereka mendapatkan tempat duduk yang dianggap paling nyaman, terutama di barisan depan kelas. Kebiasaan ini bukan sekadar soal berebut bangku, melainkan bentuk kepedulian orang tua agar anak lebih mudah mengikuti pelajaran, lebih fokus, dan lebih dekat dengan guru. Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia, menunjukkan bahwa perhatian terhadap posisi duduk di kelas masih menjadi bagian dari budaya pendidikan masyarakat. Bagi sebagian orang tua, bangku depan dianggap memiliki banyak keuntungan. Anak lebih mudah melihat papan tulis, mendengar penjelasan guru, dan mengurangi gangguan dari teman-teman di belakang kelas. Karena itu, sejak subuh halaman sekolah sudah mulai dipadati para wali murid yang membawa perlengkapan anak mereka. Di SDN Mangli 03 Jember, suasana seperti ini menjadi pemandangan yang hampir selalu muncul setiap awal tahun ajaran baru. “Anak sekolahnya kan masi baru, takutnya kalau dapat bangku belakang kan ga fokus. Makanya saya datang kesini pagi pagi biar dapat bangku paling depan, ternyata dapatnya nomor dua. Tapi, Gapapa.” ujar salah satu orang tua yang mengantar anaknya di SDN Mangli 03 Jember. Fenomena lokal seperti ini jika dilihat secara lebih luas sebenarnya menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia secara umum. Di banyak sekolah dasar, terutama di daerah yang masyarakatnya masih sangat dekat dengan sekolah, hari pertama masuk kelas bukan hanya urusan administrasi, tetapi juga momen emosional yang melibatkan harapan besar orang tua terhadap pendidikan anak. Tradisi datang lebih awal, menyiapkan perlengkapan, hingga memastikan posisi duduk terbaik menjadi bagian dari cara keluarga menunjukkan dukungan terhadap proses belajar anak. Meski demikian, pihak sekolah tetap mengimbau agar para orang tua menjaga ketertiban dan tidak saling berebut secara berlebihan. Beberapa sekolah mulai menerapkan sistem pengaturan tempat duduk yang lebih tertib agar semua siswa mendapat kesempatan yang adil. Langkah ini penting agar suasana hari pertama sekolah tetap nyaman dan tidak menimbulkan ketegangan di antara wali murid. Sementara itu, di daerah lain seperti Surabaya, hari pertama sekolah justru dikemas dengan cara yang lebih kreatif melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Para guru dan kakak kelas mengenakan kostum lucu bertema dunia bawah laut untuk menyambut peserta didik baru. Konsep ini dibuat agar anak-anak merasa lebih rileks, tidak gugup, dan memiliki kesan pertama yang menyenangkan terhadap sekolah. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia mulai berinovasi dalam menciptakan suasana belajar yang ramah anak. Tema bawah laut tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menjadi media edukasi untuk mengenalkan kekayaan laut Indonesia sejak dini. Melalui kostum, dekorasi, dan permainan interaktif, siswa diajak belajar sambil bermain sehingga pengalaman pertama mereka di sekolah terasa lebih berkesan. Di SDN Mangli 03 Jember, fenomena berebut bangku dan antusiasme orang tua menjadi cerminan kuat bahwa pendidikan masih dipandang sebagai investasi penting bagi keluarga. Sementara di daerah lain, kreativitas dalam MPLS menunjukkan bahwa sekolah juga terus berupaya membangun first impression yang positif bagi peserta didik baru. Dua potret ini memperlihatkan bahwa meskipun berbeda cara, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menghadirkan pengalaman awal sekolah yang nyaman, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan semangat belajar anak sejak hari pertama.
