Wamenhaj Tinjau Langsung Akomodasi Jemaah dari Hotel Terjauh

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau langsung akomodasi jemaah di sektor 10 kawasan Aziziyah, Makkah, Selasa (19/5/2026). Dalam kunjungan itu, Dahnil turut mencoba bus shalawat menuju Masjidil Haram. Meski menjadi pemondokan dengan jarak terjauh sekitar 12 kilometer dari Masjidil Haram, Dahnil menyebut waktu tempuh dari kawasan Aziziyah hanya sekitar 10–15 menit. Menurutnya, kelancaran transportasi justru menjadi faktor utama kenyamanan jemaah, terbukti dari minimnya keluhan yang diterima dari jemaah di wilayah tersebut. #haji2026 #hajiindonesia #jemaahhaji

Konsumsi Siap Santap, Praktis Tak Perlu Dipanaskan Bisa Langsung Dimakan

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Makanan siap santap yang disediakan bagi jemaah haji Indonesia selama puncak ibadah haji di Arafah Muzdalifah dan Mina, dapat langsung dimakan, tanpa harus dipanaskan terlebih dahulu. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj Jaenal Effendi mengatakan, makanan-makanan itu bisa langsung dimakan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan dahulu, sehingga praktis untuk kebutuhan saat menjelang puncak haji, maupun saat jemaah berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). “Ini (paket makanan untuk puncak haji) sudah bisa langsung dibuka, dimakan. Tidak perlu dipanaskan,” ujar Jaenal. Bukan hanya bisa langsung disantap, makanan itu juga dibagikan dengan kemasan yang bisa dijadikan wadah makan. “Khawatirnya ada jemaah yang tidak terbiasa makan makanan RTE ini, nanti ada petugas yang menyampaikan bahwa ini tinggal dibuka, digunting, langsung dimakan,” ujarnya. Jaenal juga memastikan bahwa makanan-makanan tersebut memiliki cita rasa nusantara. Menu-menunya beragam, mulai dari nasi uduk dan daging, kari ayam, rendang. RTE ini, juga dipastikan tetap memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Artinya, minimal 50% dalam paket makanan itu merupakan barang dari Indonesia. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

Menteri Haji dan Umrah Pimpin Kedatangan Amirul Hajj Gelombang Kedua

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Rombongan Amirul Hajj gelombang kedua, yang dipimpin oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf tiba di Arab Saudi, Selasa (19/5/2026) sore waktu setempat. Selain Menteri Haji dan Umrah, dalam rombongan ini juga turut serta Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Wakil Menteri Agama Mohamma Syafi’i, KH Asep Saifuddin Chalim, Profesor Halim, Muhadjir Effendi, Profesor Heri Hermansyah, Rossa Safira, serta Profesor Ilfi Nur Diana. Kehadiran Amirul Hajj di Tanah Suci bertujuan untuk memastikan, penyelenggaraan haji berjalan dengan lancar, serta memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh jemaah haji hingga kembali ke tanah air. Setibanya di Arab Saudi, Amirul Hajj akan langsung memeriksa dan memastikan operasional kesiapan Armuzna, yang meliputi kesiapan tenda dan fasilitas pendukung, transportasi, konsumsi, hingga skema pergerakan jemaah. MCH 2026, Dian Palupi, RTV.

[UPDATE HAJI] Wamenhaj Tiba di Arab Saudi, dan Hampir Seluruh Jemaah Sudah Tiba di Makkah

Sahabat RTV, menjelang puncak ibadah haji 2026, hampir seluruh jemaah haji Indonesia kini telah tiba di Arab Saudi. Berdasarkan data terbaru yang diterima, lebih dari 86 persen jemaah haji Indonesia sudah diberangkatkan dari berbagai embarkasi di Tanah Air menuju Tanah Suci. Total jemaah yang telah diterbangkan mencapai 185.393 orang yang terbagi dalam 478 kelompok terbang atau kloter. Kedatangan jemaah ke Makkah pun masih terus berlangsung secara bertahap menjelang dimulainya puncak ibadah haji. Pengamanan Kota Makkah Diperketat Sahabat RTV, seiring semakin dekatnya pelaksanaan puncak haji, otoritas Arab Saudi juga terus memperketat pengamanan di seluruh wilayah Kota Makkah. Aparat kepolisian Saudi kini melakukan penjagaan dan pemeriksaan ketat di berbagai titik akses masuk menuju Makkah guna memastikan hanya jemaah yang memiliki izin resmi yang dapat memasuki area pelaksanaan haji. Langkah ini merupakan bagian dari penerapan kebijakan Laa Hajj Bilaa Tasrih atau tidak ada haji tanpa izin resmi yang tahun ini ditegakkan lebih ketat oleh pemerintah Arab Saudi. Pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen penting seperti visa haji, kartu nusuk, hingga identitas resmi jemaah di sejumlah pos pemeriksaan dan gerbang masuk kota. Wamenhaj Tiba di Arab Saudi Sementara itu, sahabat RTV, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, juga telah tiba di Arab Saudi. Dalam penyelenggaraan haji tahun ini, Dahnil akan bertugas sebagai Naib Amirul Hajj mendampingi Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, yang bertindak sebagai Amirul Hajj. Kehadiran pimpinan penyelenggara haji Indonesia di Arab Saudi dilakukan untuk memastikan seluruh pelayanan dan persiapan puncak haji berjalan sesuai rencana. Cuaca Panas Jadi Tantangan Jemaah Selain pengamanan, kondisi cuaca di Makkah juga menjadi perhatian serius bagi petugas PPIH Arab Saudi. Saat ini suhu udara di Kota Makkah dan sekitarnya berkisar antara 32 hingga 45 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban udara hanya sekitar 16 persen. Cuaca panas dan udara yang sangat kering tersebut membuat jemaah rentan mengalami dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kesehatan lainnya jika tidak menjaga kondisi tubuh dengan baik. Karena itu, petugas terus mengimbau jemaah agar tidak melakukan aktivitas berlebihan saat suhu sedang tinggi, terutama pada siang hari. Sahabat RTV, jemaah juga diingatkan untuk memperbanyak minum air putih, menggunakan pelindung diri seperti payung dan topi, serta menjaga waktu istirahat agar kondisi fisik tetap prima menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang akan dimulai pada 8 Zulhijah atau sekitar 25 Mei 2026 mendatang.

Wamenhaj Dahnil Pastikan Amirul Hajj Siap Kawal Diplomasi dan Layanan Jemaah

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak tiba di Arab Saudi, Senin (18/05/2026). Kedatangan Wamen, menandai tibanya gelombang pertama Amirul Hajj Indonesia 1447 H/2026 M di Arab Saudi. Dahnil mengatakan dirinya bertugas sebagai Na’ib Amirul Hajj atau Wakil Amirul Hajj, sementara posisi Amirul Hajj dipimpin oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf. Menurutnya, tim Amirul Hajj tahun ini terdiri dari 13 orang lintas kementerian, tokoh agama, akademisi, hingga unsur profesional. “Amirul Hajj bertugas sebagai representasi negara dalam diplomasi dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai tuan rumah haji,” ujar Dahnil di Jeddah. Selain fungsi diplomasi, Amirul Hajj juga memiliki tugas pengendalian pelayanan serta pemantauan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di Tanah Suci. Dahnil menambahkan, Amirul Hajj dibagi ke dalam tiga kelompok kerja. Kelompok KH Ahmad Dahlan dipimpin Amirul Hajj Mochamad Irfan Yusuf, kelompok KH Hasyim Asy’ari dipimpin Dahnil Anzar Simanjuntak, dan kelompok HOS Cokroaminoto dipimpin Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar. Sejumlah tokoh yang tergabung di dalam tim antara lain Wakil Menteri Perhubungan Komjen (Purn) Suntana, Prof Muhadjir Effendy, Prof Hasyim Syah Nasution dari Muhammadiyah, KH Asep dari NU, hingga pengusaha Yusuf Hamka. MCH 2026, Dian Palupi, RTV

Makanan Siap Santap, Andalan Kemenhaj Saat Puncak Haji

MAKKAH, Lensa Indonesia RTV – Selama masa puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyediakan makanan siap santap atau ready to eat bagi jemaah haji Indonesia. Makanan siap santap ini akan dibagikan menjelang puncak haji hingga setelahnya. Pemilihan makanan siap santap ini sudah melalui berbagai pertimbangan, yang paling utama adalah dari segi kepraktisan. Di tengah kepadatan jutaan jemaah, makanan siap santap dinilai lebih mudah didistribusikan. Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan ada empat pertimbangan utama di balik penggunaan makanan siap santap bagi jemaah haji Indonesia. Pertama, kecepatan distribusi makanan ke hotel-hotel jemaah. Kedua, kemudahan konsumsi di tengah mobilitas tinggi selama Armuzna. Ketiga, daya tahan makanan yang lebih panjang di tengah cuaca panas Arab Saudi. Keempat, tetap terpenuhinya standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan. “Teknologi pengolahan makanan yang digunakan memungkinkan makanan tetap higienis dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitasnya,” katanya. Selama fase puncak haji atau Armuzna, jemaah haji Indonesia akan menerima total 15 porsi makanan bercita rasa Nusantara yang disediakan syarikah. Saat pelaksanaan puncak haji, hanya pihak syarikah yang diperkenankan beroperasi di lokasi, sehingga distribusi makanan pun dilakukan oleh pihak syarikah. Maria menambahkan, Kemenhaj memastikan menu makanan siap santap tetap disusun dengan cita rasa Nusantara agar sesuai dengan lidah jemaah Indonesia. Makanan lezat itu pun bisa mengobati rasa rindu terhadap makanan kampung halaman selama berada di Tanah Suci. MCH 2026 Makkah, Dian Palupi, RTV.

Kisah Haru Korban Banjir Aceh Berangkat Naik Haji

Sahabat RTV, perjalanan menuju Tanah Suci bagi sebagian jemaah haji Indonesia tahun ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Di balik senyum dan rasa syukur para jemaah, tersimpan kisah perjuangan dan ujian hidup yang begitu berat. Salah satunya datang dari Hartati Musirun Mukmin, jemaah haji asal Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Keberangkatannya ke Tanah Suci tahun ini menjadi perjalanan penuh haru setelah dirinya sempat menjadi korban banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu. Hartati mengaku rumah peninggalan orang tuanya rusak parah akibat bencana tersebut dan hingga kini belum mampu diperbaiki karena keterbatasan ekonomi. Namun di tengah kondisi sulit itu, ia tetap bisa berangkat haji berkat dukungan anak-anaknya dan keyakinannya terhadap panggilan Allah. Sahabat RTV, dengan suara bergetar Hartati menceritakan bahwa dirinya bahkan tidak tahu harus mengadu kepada siapa selain kepada Allah. Meski rumahnya hancur dan kondisi ekonomi belum pulih, ia percaya bahwa keberangkatannya ke Tanah Suci adalah bentuk pertolongan dan kehendak Tuhan. Lansia 85 Tahun Berangkat Haji Sendiri Kisah haru lainnya datang dari Nenek Aminah. Di usia 85 tahun, ia tak pernah menyangka akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Dengan kondisi usia lanjut dan keterbatasan biaya, Nenek Aminah berangkat seorang diri ke Arab Saudi. Namun semangat dan niatnya untuk memenuhi panggilan ibadah membuatnya tetap kuat menjalani perjalanan panjang menuju Makkah. Kisah Hartati dan Aminah ternyata bukan cerita yang berdiri sendiri. Ribuan Jemaah Aceh Korban Bencana Data mencatat lebih dari 70 persen dari total 5.426 jemaah haji asal Aceh tahun ini merupakan korban banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Meski menghadapi ujian berat akibat bencana, ribuan jemaah tersebut tetap berusaha menunaikan rukun Islam kelima dengan penuh harapan dan rasa syukur. Sahabat RTV, untuk membantu para jemaah asal Aceh, sebanyak 786 jemaah tahun ini menerima dana wakaf sebesar 2.000 riyal Saudi atau sekitar Rp9,4 juta per orang. Dana tersebut berasal dari kompensasi wakaf Hotel Baitul Asyi, sebuah aset wakaf legendaris milik masyarakat Aceh yang berada di Makkah. Dana Wakaf Capai Rp51 Miliar Pada musim haji 2026 ini, total dana wakaf yang disalurkan kepada jemaah asal Aceh mencapai sekitar 11 juta riyal Saudi atau setara Rp51 miliar. Dana tersebut menjadi bentuk manfaat dari aset wakaf masyarakat Aceh yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Tanah Suci dan terus memberikan manfaat bagi jemaah Aceh hingga saat ini. Sahabat RTV, kisah para jemaah asal Aceh ini menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan hanya soal kemampuan materi, tetapi juga tentang kesabaran, perjuangan, dan keyakinan. Di tengah ujian hidup yang berat, mereka tetap berusaha memenuhi panggilan suci ke Baitullah dengan penuh keikhlasan dan harapan.

[LIVE DARI MAKKAH] Update Haji: Pematangan Persiapan Puncak Haji

Sahabat RTV, pemerintah terus memfinalisasi seluruh persiapan menjelang puncak ibadah haji 2026 demi memastikan keamanan dan kenyamanan jemaah haji Indonesia selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Berbagai skema pelayanan dan pengamanan kini dimatangkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026, terutama untuk menghadapi fase Armuzna di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Skema Murur dan Tanazul Dimatangkan Salah satu skema yang kembali diterapkan tahun ini adalah Skema Murur, yakni mekanisme bagi jemaah berisiko tinggi untuk tidak turun dan bermalam di Muzdalifah. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah lansia maupun jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid. Dengan sistem tersebut, jemaah hanya melintas di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina. Langkah ini dilakukan guna mengurangi risiko kelelahan fisik di tengah cuaca panas dan padatnya arus jemaah saat puncak haji. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan Skema Tanazul bagi jemaah yang hotelnya berada di sekitar kawasan Jamarat di Mina. Melalui skema ini, jemaah tidak perlu menginap di tenda Mina dan dapat kembali ke hotel usai menjalankan lempar jumrah. Sahabat RTV, skema tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan di Mina sekaligus memberikan kenyamanan lebih bagi jemaah Indonesia. Tim Khusus Disiagakan di Mina Untuk mendukung pengamanan dan pelayanan jemaah selama puncak haji, PPIH Arab Saudi juga membentuk tim khusus yang akan ditempatkan di Mina. Tim tersebut akan bertugas membantu jemaah yang datang dari Muzdalifah menuju Jamarat, terutama pada 10 Zulhijah yang dianggap sebagai fase paling krusial dalam pelaksanaan haji. Petugas memperkirakan kepadatan dan potensi kelelahan jemaah akan sangat tinggi pada waktu tersebut karena jutaan jemaah bergerak menuju lokasi lempar jumrah secara bersamaan. Karena itu, petugas disiagakan untuk membantu jemaah yang tersesat, kelelahan, maupun membutuhkan bantuan darurat lainnya selama proses Armuzna berlangsung. Lebih dari 185 Ribu Jemaah Sudah Tiba Sementara itu sahabat RTV, berdasarkan data terbaru, jumlah jemaah haji Indonesia yang telah diberangkatkan dari berbagai embarkasi menuju Arab Saudi kini mencapai 185.393 orang yang tergabung dalam 478 kelompok terbang atau kloter. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring proses kedatangan jemaah yang masih berlangsung menjelang penutupan operasional haji. Cuaca Makkah Capai 47 Derajat Celsius Di sisi lain, kondisi cuaca di Makkah saat ini juga menjadi perhatian serius. Suhu udara di Kota Makkah kini berkisar antara 33 hingga 47 derajat Celsius. Pemerintah terus mengimbau jemaah agar mengurangi aktivitas berat di luar ruangan saat cuaca sedang sangat panas demi menjaga kondisi tubuh tetap fit menjelang puncak haji yang dijadwalkan dimulai pada 8 Zulhijah atau sekitar 25 Mei 2026. Jemaah juga diingatkan untuk rutin minum air putih, menggunakan payung atau topi saat beraktivitas, serta memperbanyak waktu istirahat agar terhindar dari dehidrasi dan heat stroke. Cahaya Hijau di Zamzam Tower Tanda Zulhijah Dimulai Sahabat RTV, suasana menyambut datangnya bulan Zulhijah juga mulai terasa di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi memancarkan cahaya hijau dari puncak Abraj Al Bait Clock Tower atau Zamzam Tower yang berada di kompleks Masjidil Haram. Laser hijau tersebut menjadi penanda dimulainya 1 Zulhijah dan sekaligus menandai semakin dekatnya Hari Raya Iduladha yang diperkirakan jatuh pada 10 Zulhijah atau 27 Mei 2026. Dengan semakin dekatnya puncak haji, suasana di sekitar Masjidil Haram kini juga semakin padat oleh jemaah dari berbagai negara. Otoritas Arab Saudi pun memperketat penjagaan dan pemeriksaan di seluruh akses masuk Kota Makkah untuk memastikan pelaksanaan ibadah haji berjalan aman dan tertib.

Jelang Puncak Ibadah Haji, PPIH Matangkan Pelaksanaan

Sahabat RTV, pemerintah melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 terus mematangkan berbagai skema pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang dikenal dengan Armuzna. Berbagai strategi disiapkan untuk memastikan proses ibadah jutaan jemaah, khususnya jemaah Indonesia, dapat berjalan aman, tertib, dan lancar. Skema Murur untuk Jemaah Risiko Tinggi Salah satu strategi yang kembali diterapkan tahun ini adalah Skema Murur. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah berisiko tinggi seperti lansia dan jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid. Melalui skema ini, jemaah tidak perlu turun dan mabit atau bermalam di Muzdalifah. Setelah menjalani wukuf di Arafah, jemaah hanya akan melintas atau murur di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina. Sahabat RTV, langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kelelahan fisik dan gangguan kesehatan, terutama karena kondisi cuaca di Arab Saudi saat ini sangat panas dan padatnya pergerakan jemaah saat puncak haji. Skema Tanazul untuk Jemaah Dekat Jamarat Selain Murur, pemerintah juga menyiapkan Skema Tanazul. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah yang hotelnya berada di sekitar kawasan Jamarat di Mina. Dengan skema tersebut, jemaah tidak perlu menginap di tenda Mina selama pelaksanaan lempar jumrah. Mereka dapat kembali ke hotel setelah menjalankan ibadah dan bolak-balik ke Jamarat selama tiga hari pelaksanaan jumrah. Skema ini diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan di tenda Mina sekaligus memberikan kenyamanan lebih bagi jemaah. Petugas Khusus Disiagakan di Mina Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama sekaligus Wakil Penanggung Jawab PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengatakan Satgas Armuzna saat ini masih terus memfinalisasi mekanisme teknis pelaksanaan puncak haji. Menurutnya, pembagian tugas petugas PPIH juga terus dimatangkan. Nantinya, sejumlah petugas akan didedikasikan khusus berada di Mina untuk membantu jemaah selama proses Armuzna berlangsung. Petugas tersebut akan membantu jemaah agar tidak tersesat, memastikan penempatan tenda berjalan sesuai aturan, hingga mendampingi proses lempar jumrah agar tetap tertib dan aman. Cuaca Panas Jadi Perhatian Utama Sahabat RTV, selain kesiapan teknis, kondisi cuaca di Makkah juga menjadi perhatian serius pemerintah. Saat ini suhu udara di Makkah berkisar antara 33 hingga 47 derajat Celsius. Cuaca panas ekstrem tersebut berpotensi memicu dehidrasi dan penurunan kondisi fisik jemaah, terutama bagi lansia dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Karena itu, pemerintah terus mengimbau jemaah agar menjaga kesehatan dengan cukup istirahat, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi aktivitas berat di siang hari. Puncak ibadah haji sendiri dijadwalkan dimulai pada 8 Zulhijah atau sekitar 25 Mei 2026 mendatang. Pemerintah berharap seluruh jemaah Indonesia dapat menjalankan rangkaian ibadah Armuzna dengan aman, lancar, dan tetap dalam kondisi sehat.

error: Content is protected !!